Aku Bisa!

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:26
=======================
“Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”

tidak ada yang mustahil, aku bisa

Chester Floyd Carlson pada mulanya adalah seorang pengacara hak paten. Bermula dari kesulitan-kesulitannya dalam bekerja, dimana ia harus menyalin dan mengetik ulang semua hak paten yang didaftarkan kepadanya, ia mulai berpikir untuk mencari alternatif yang lebih baik, yang mampu membuatnya bekerja dengan lebih cepat, lebih efektif dan efisien. Mengetik ulang semuanya tentunya menyita waktu, memakai kopi karbon atau dikenal juga dengan “wet copy” pada saat itu pun rasanya masih membuang banyak waktu. Carlson berpikir seperti ini: “I thought the possibility of making an invention might kill two birds with one stone; it would be a chance to do the world some good and also a chance to do myself some good.” Carlson berpikir jauh lebih luas daripada kepentingannya sendiri. Di satu sisi ia berpikir untuk meringankan dan mempercepat kerjanya, di sisi lain dia ingin membuat sesuatu yang berguna bagi dunia. Dengan serangkaian percobaan dan usaha, ia pun kemudian berhasil membuat sebuah mesin fotokopi pada tahun 1937. Bertahun-tahun ia gagal dalam memasarkan produknya. Beberapa perusahaan besar saat itu seperti IBM atau US Army Signal Corps pun ternyata tidak berminat, karena menurut mereka penemuan Carlson itu tidak bakal laku di pasaran. Tapi Carlson tidak putus asa. Akhirnya pada tahun ke delapan dari usahanya, sebuah perusahaan bernama Haloid Company tertarik, dan itulah yang menjadi awal dari terbentuknya Xerox, mesin fotokopi yang hingga hari ini masih menjadi jaminan mutu. Bagaimana jika Carlson punya pribadi yang gampang menyerah? mungkin hari ini kita masih harus menyalin segala sesuatunya dengan manual atau masih mempergunakan cetak karbon yang basah dan gampang luntur. Karena semangatnya tidak gampang patah, kita pun bisa menikmati fasilitas yang begitu banyak meringankan kita dan menghemat waktu.

Beribu-ribu tahun sebelumnya kisah yang kurang lebih sama pernah terjadi. Pada saat itu ada seorang raksasa bernama Goliat, yang tingginya saja sudah menyeramkan, kira-kira tiga meter. Dia adalah tentara jagoan dari kelompok Falistin, yang dilengkapi pula dengan baju perang dari tembaga dan senjata berupa lembing. Mata tombaknya saja seberat 7 kilogram, plus sebuah perisai. Tidaklah mengherankan jika ia memandang rendah bangsa Israel yang kecil-kecil dengan peralatan perang yang tidak selengkap dirinya. “Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: “Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku.” (1 Samuel 17:8). Mendengar itu, ketakutanlah Saul dan prajuritnya. (ay 11).

Pada saat itu terdapatlah Daud, seorang bocah yang kerjanya sehari-hari hanya menggembalakan domba ayahnya. Berbeda dengan reaksi prajurit-prajurit dewasa, ternyata Daud tidak gentar, dan merasa terbakar mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan Goliat. Sontak ia berkata “Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup? (ay 26). Prajurit perang saja takut, berani-beraninya anak kecil ini bicara begitu? Tidak ada yang percaya, termasuk Saul. “Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” (ay 33). Tidak hanya dari pihak Israel, tapi dari pihak Goliat dan Filistin pun mengejeknya. “Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.” (ay 43). Apakah Daud omong besar dan menyombongkan diri? Sama sekali bukan. Kita lihat Daud menjawab Saul sebagai berikut “Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu. (ay 37). Dan kepada Goliat, Daud berkata “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” (ay 45). Daud yakin karena ia percaya bahwa Tuhan ada besertanya. Jika Tuhan telah berkali-kali menyatakan kuasaNya untuk melepaskan Daud dari hewan-hewan liar dan buas yang ingin memangsa ternaknya, maka untuk menghadapi Goliat pun Tuhan pasti bisa. Ini iman Daud kecil. Kita tahu apa yang terjadi sesudahnya. Daud dengan gemilang mengalahkan Goliat hanya berbekal satu batu dan ketapel. (Ay 50).


Overcoming the odds, mengatasi kemustahilan, ini bukanlah omong kosong dan bisa terjadi kepada siapapun, termasuk kita, apabila kita melibatkan Tuhan di dalamnya. “Aku tidak bisa?” Mungkin ya, tapi bersama Tuhan kalimat itu seharusnya diganti dengan “Aku Bisa!”. Sepanjang sejarah kekristenan bahkan hingga hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana mukjizat Tuhan sanggup bekerja melewati batas nalar atau kemampuan logika manusia. “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:37), dan dengan demikian “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Ini berlaku bagi siapapun yang percaya, termasuk anda dan saya. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah dalam menghadapi masalah, terus tenggelam dalam kegagalan dan sulit untuk maju, terikat dalam berbagai trauma yang membuat kita tidak berani mencoba untuk bangkit. Kita boleh saja gagal, orang boleh saja mencemooh kita, namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Kita tidak boleh menyerah dan kehilangan pengharapan. Penulis Amsal berkata “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16) Agar tidak gampang patah ketika menghadapi proses, lakukanlah itu semua dengan mata yang tertuju pada Yesus (Ibrani 12:2) dan Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. (ay 3). Apapun yang tantangan atau hambatan yang kita hadapi saat ini, hadapilah dengan semangat tinggi dan iman yang kuat. Bersama Tuhan, apa yang tidak bisa bagi pandangan dunia akan menjadi nyata. Saat ini mungkin semuanya terlihat tidak mungkin, saat ini mungkin kita sudah lelah disepelekan, tapi percayalah bahwa Tuhan mampu membuat perkara-perkara besar dalam hidup anda. Karena bagiNya, tidak ada yang mustahil.

Overcoming the odds is possible when God dwells within you

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: