Akar Pahit

akar pahit

Ayat bacaan: Ibrani 12:15

Ayat bacaan: Ibrani 12:15
===================
“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan Kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”

Salah seorang yang saya kenal dekat sedang bermasalah dengan ibunya. Pengalaman masa lalu ternyata meninggalkan bekas yang sangat dalam bagi dirinya. Meski sekarang ia sudah tumbuh dewasa, ia belum juga dapat melepaskan diri dari luka yang timbul lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ia tahu bahwa ia butuh ibunya, ia bersyukur atas segala pengorbanan ibunya agar ia mampu mengenyam pendidikan hingga lulus kuliah, tetapi luka itu ternyata terus membekas dan menyakitinya. Ia terus bersikap dingin, kehilangan sukacita setiap kali ia melihat ibunya. “Saya tahu ia menyayangi saya, dan saya tahu saya seharusnya pun demikian, tetapi saya tidak bisa mengatasi rasa itu..” katanya. Seperti itulah ketika kepahitan tumbuh dalam diri kita. Kita seringkali tidak sanggup berbuat apa-apa dalam menghadapi hal itu. Kita tahu bahwa itu salah, kita ingin bisa mengampuni dan membuka lembaran baru, tetapi kita tidak sanggup melakukan apa-apa untuk mengatasi hal itu. Kepahitan bisa menimbulkan banyak masalah jika sudah terlanjur tumbuh, bukan saja kepada pribadi yang mengalaminya tetapi juga bisa berdampak pada banyak orang lain. Dalam hal orang yang saya kenal dekat ini, setidaknya saya harus menghadapi wajah yang dingin, kaku tanpa senyum setiap kali saya melihatnya di rumah. Suasana tidak nyaman itu dirasakan oleh semua orang yang melihatnya, dan itu menjadi sebuah contoh kecil dari kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh akar pahit yang terlanjur tumbuh ini.

Berbicara soal akar, saya pun teringat akan batang bambu liar yang terus saja tumbuh di halaman belakang rumah saya. Berulang kali saya mencabutnya, tetapi sebanyak itu pula batang bambu liar itu terus tumbuh. Saya harus mencabut hingga ke akar-akarnya jika ingin terbebas dari bambu-bambu itu, tetapi akar itu ternyata sudah tumbuh begitu dalam sehingga saya harus terlebih dahulu membongkar ubin rumah dan menggali tanah sedalam-dalamnya untuk bisa melakukan itu. Sebuah akar pahit dalam diri kita pun demikian. Jika kita terus biarkan, akar itu akan terus tumbuh semakin dalam dan luas menusuk hati kita, sehingga pada suatu ketika akhirnya menjadi sangat sulit untuk dicabut. Tidak jarang orang harus menempuh waktu konseling yang cukup panjang disertai pelepasan agar bisa terlepas dari kepahitan ini. Dan saya sudah menyaksikan banyak orang yang harus melewati proses itu.

Beberapa tokoh Alkitab pun tercatat pernah mengalami kepahitan ini. Yang tampak cukup jelas misalnya terjadi pada Ayub. Lihatlah bagaimana kata-kata yang keluar dari kepahitannya itu. “Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?” (Ayub 9:22-24) Atau, “Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya.” (16:11-12) Lihatlah kepahitan mampu membuat orang kehilangan pegangan atau harapan dan bisa mengarah kepada sikap sinis bahkan kasar terhadap Tuhan. Atau contoh lain bisa kita lihat pada diri Naomi. “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (Rut 1:21-22) Demikianlah ketika kepahitan menguasai diri kita. Bagaimana mungkin kita bisa maju, bertumbuh dalam melakukan segala sesuatu ketika kita terikat erat oleh akar yang terus melingkari diri kita seperti ini? Itulah sebabnya secepat mungkin kita harus melepaskan diri sebelum akar itu terlanjur menghujam jauh ke dalam hati dan membelenggu diri kita.

Sebuah kunci diberikan oleh Penulis surat Ibrani. “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan Kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15). Agar kita bisa mencegah tumbuhnya akar pahit, yang bukan saja merugikan diri sendiri tapi juga mampu menimbulkan masalah dan mencemarkan banyak orang, kita harus senantiasa melekat erat pada kasih karunia Allah. Menyadari kasih karuniaNya dan memupuknya terus dalam hati kita. Melekatlah seerat-eratnya, semampu-mampunya, sekuat-kuatnya. Itu akan mampu mencegah tumbuhnya akar pahit itu dalam diri kita. Perhatikanlah bahwa jika kepahitan kita biarkan tumbuh semakin dalam di dalam diri kita, maka buah-buah yang kita hasilkan pun akan pahit, bahkan bisa membinasakan bukan saja diri kita tetapi juga diri orang lain. (Wahyu 8:11). Perhatikanlah apa bunyi ayat penutup dalam rangkaian keseluruhan Alkitab:Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.” (Wahyu 22:21). Alkitab diakhiri dengan pesan kasih karunia. Ini menunjukkan betapa pentingnya bagi kita untuk sadar akan kasih karunia Tuhan Yesus di dalam perjalanan hidup ini.

Sedalam apapun akar pahit itu sudah terlanjur menusuk hati kita, ingatlah bahwa kita harus terus belajar untuk mengampuni. Yesus bersabda: “ampunilah dan kamu akan diampuni.” (Lukas 6:37). Lebih lanjut dikatakan pula: “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)”. (Markus 11:25-26). Betapa pentingnya bagi kita untuk memampukan diri kita akan hal ini. Tidak peduli sebesar apapun kekecewaan atau sakit hati kita terhadap seseorang, Tuhan mau kita mengampuni mereka. Mengampuni sepenuhnya, forgive and forget. Mungkin rasa sakit itu begitu luar biasa sampai kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengatasinya, tetapi kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan. Serahkan sepenuhnya kepada Tuhan dan biarkan Roh Kudus bekerja dalam diri anda. Itu akan memampukan anda untuk melakukan hal tersulit yang terlihat tidak mungkin sekalipun, termasuk dalam hal memberi pengampunan.

Cegahlah akar pahit sejak dini sebelum ia keburu tertanam dalam hati kita. Jika sudah terlanjur dalam, belajarlah untuk mengampuni. Jika anda tidak sanggup melakukannya sendiri, ijinkan Tuhan yang membantu anda, tetapi miliki terlebih dahulu kelembutan hati. Tanpa itu karya Tuhan tidak akan bisa terjadi dalam diri kita. Akar pahit ini bisa membinasakan diri anda, dan juga merepotkan orang-orang disekitar anda. Anda tidak akan pernah bisa melangkah maju menikmati segala janji dan rencana Tuhan apabila anda terus membiarkan diri anda terbelenggu oleh akar-akar pahit ini. Memelihara akar pahit tidak akan membawa hasil apapun selain menambah beban dalam hidup kita yang akan membuat kita semakin lama semakin berat dalam melangkah. Hidup cuma satu kali, dan Tuhan merencanakan banyak hal istimewa bagi masa depan anda. Jangan biarkan akar pahit ini mencemarkan hidup anda dan menggagalkan dalam menerima janji-janji Tuhan termasuk keselamatan dalam Kristus. Adakah akar pahit yang hari ini merintangi perjalanan anda? Lepaskanlah segera, dan masuklah ke dalam hidup yang ringan, damai dan penuh sukacita.

Akar pahit tidak saja merepotkan diri sendiri tetapi juga bisa menyusahkan bahkan merusak banyak orang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah kristen tentang kepahitan
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: