Akar Pahit (1)

Ayat bacaan: Ibrani 12:15
===================
“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan Kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”

Entah benar atau tidak, ada seorang teman yang bercerita bahwa ia menemukan relief daun sambiloto di Candi Borobudur saat ia berlibur kesana. Saya tidak mendalami betul bentuk-bentuk tanaman, tapi sambiloto memang sudah terbukti punya khasiat yang sangat banyak buat kesehatan sejak lama di berbagai tempat di Asia. Sambiloto terkenal dengan daunnya yang sangat pahit tetapi mampu memerangi begitu banyak penyakit, mulai dari yang ringan seperti masuk angin dan mengobati luka sampai kepada yang sudah serius seperti berbagai infeksi dan yang masih diteliti adalah kemungkinan untuk obat HIV. Hebatnya, bukan hanya daunnya yang berkhasiat, tapi tanaman sambiloto dimanfaatkan sebagai obat mulai dari daun, bunga, batang sampai akar. Daunnya sangat pahit, entah kalau akarnya karena saya belum pernah mencoba menggigit akar sambiloto. Mungkin pahit juga, atau hanya berasa kayu biasa.

Masalah pahit, Alkitab mengingatkan kita dalam banyak kesempatan agar berhati-hati terhadap timbulnya kepahitan. Bagai tanaman, kepahitan biasanya muncul akarnya dulu, yang kalau dibiarkan kemudian tumbuh membesar hingga sudah sulit diatasi. Akarnya bisa bercabang, begitu pula batangnya. Daun-daun kepahitan bisa sangat rimbun sehingga susah untuk dibuang. Kalau tanaman sambiloto meski pahit tapi punya banyak manfaat, kepahitan yang tumbuh di hati kita tidak membawa manfaat apa-apa selain justru membawa kerugian.

Betapa banyak orang yang mengalami kepahitan dalam hidupnya. Saya sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang tidak bisa maju, terluka, trauma dan menderita berawal dari akar pahit yang dibiarkan dalam hatinya. Ada yang menjadi orang dingin dan susah bergaul, ada yang cepat marah dan mendendam, ada yang sisi psikologisnya punya banyak masalah, gambar diri yang hancur dan banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh akar pahit. Kalau terlalu lama, maka akar itu sudah terlanjur menyebar dan sulit untuk dicabut. Bukan saja kita yang menderita, tapi orang lain pun bisa terkena dampaknya. Akan dibutuhkan proses konseling yang lama atau bahkan pelepasan agar seseorang bisa dibebaskan dari akar pahit yang sudah terlanjur menyebar dan membesar ini. Yang paling ideal adalah tidak membiarkannya tumbuh. Cabut akar pahit ini langsung begitu mulai timbul sebelum kita kesulitan mengatasinya. Tapi saat kita disakiti, apalagi disakiti oleh orang dekat yang kita sayang, adakah cara untuk mencegah timbulnya akar pahit ini?

Sebelum kita sampai kesana, mari kita lihat beberapa tokoh Alkitab yang ternyata disebutkan pernah mengalami kepahitan ini. Yang tampak cukup jelas misalnya terjadi pada Ayub. Lihatlah bagaimana kata-kata yang keluar dari kepahitannya itu. “Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?” (Ayub 9:22-24) Atau, “Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya.” (16:11-12) Lihatlah kepahitan mampu membuat orang kehilangan pegangan atau harapan dan bisa mengarah kepada sikap sinis bahkan kasar terhadap Tuhan.

Contoh lain bisa kita lihat pada diri Naomi. “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (Rut 1:21-22) Demikianlah ketika kepahitan menguasai diri kita. Bagaimana mungkin kita bisa maju, bertumbuh dalam melakukan segala sesuatu ketika kita terikat erat oleh akar yang terus melingkari diri kita seperti ini? Itulah sebabnya secepat mungkin kita harus melepaskan diri sebelum akar itu terlanjur menghujam jauh ke dalam hati dan membelenggu diri kita.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: