Air Terjun Widuri di Kawasan Perhutani Grobogan

Widuri 2ANGIN penuh buih-buih uap air lembut menyapu wajah. Rasa lelah setelah mendaki dan menuruni jalanan curam nan terjal bebatuan hilang sudah. Pepohonan perdu kiri kanan selain mengurangi rasa takut akan kecuraman juga menjadi pendingin suasana. Tambahan lagi, suara gemerisik air Widuri, sebuah grojogan yang konon menjadi tempat mandi bidadari khayangan Nawangwulan itu menambah rasa ingin […]

Widuri 2

ANGIN penuh buih-buih uap air lembut menyapu wajah. Rasa lelah setelah mendaki dan menuruni jalanan curam nan terjal bebatuan hilang sudah. Pepohonan perdu kiri kanan selain mengurangi rasa takut akan kecuraman juga menjadi pendingin suasana. Tambahan lagi, suara gemerisik air Widuri, sebuah grojogan yang konon menjadi tempat mandi bidadari khayangan Nawangwulan itu menambah rasa ingin tahu segera melihatnya.

Air terjun yang debit air dan ukuran ketinggiannya kecil dibandingkan dengan air terjun Maribaya, Coban Rondo, Curug Sewu ataupun Tawangmangu ini memang tidak dikenal. Nama cantik ini tidak segera mengingatkan orang akan sebuah air terjun di kawasan perhutani Kemadohbatur, Grobogan.

Orang Grobogan pun banyak yang belum pernah mendengarnya, mengunjungi apalagi membanggakannya.

Sentuhan pembangunan Pemda untuk mengangkatnya menjadi potensi pariwisata daerah tidak membawa nama ini ke kancah tujuan wisata alam. Upaya mempercantik grojogan ini menjadi tempat yang layak dikunjungi baru terlihat dari bekas-bekas bangku-bangku, jembatan, jalan plesteran sederhana.

Meski tanpa papan nama, tanpa penjagaan, tanpa pengawasan dan upaya penggarapan, sejumlah wisatawan domestik rupanya ada juga yang mengunjunginya. Para remaja yang sedang kasmaran mengukir kata hatinya di bangku-bangku semen ”…Beni Cinta Ita”, “Cinta…”, “Kutunggu jandamu,…” Jalan hidup memang tak pernah terbayangkan. Mungkin ada juga yang menemukan tambatan hati setelah menerima pancaran air grojogan sederhana. Syukurlah.

Pemudi desa bisa saja berkunjung sembari membawa khayalan, imaginasi mendapat warisan kecantikan dari sang bidadari. Perempuan yang tersiram atau mandi di grojogan itu serasa mendapat khasiat kecantikan bidadari nan mulia. Seperti dalam iklan konsumer sebuah sabun kecantikan, ia seolah dihantar dalam imaginasi mandi air rempah, ratus busana, ratus rambut, ramuan jamu dan lulur alami mangir yang mewujudkan pancaran keharuman, kehalusan dan kelembutan kulit sang bidadari.

Dongeng sekitar grojogan
Dalam adegan fiktif dongeng Jawa, suatu kali Nawangwulan, bidadari khayangan bermandi ceria bersama serombongan bidadari lainnya. Keceriaan memasuki alam ngarcapada itu membuatnya kurang waspada. Mungkin pula hatinya terlalu suci, infant untuk kelicikan, intrik atau kebejatan dunia.

Widuri 1

Papan nama arah lokasi: Jangan bingung, karena di situ juga ada papan nama petunjuk arah lokasi. (Dok. Romo Rufinus Herlambang MSF/Paroki Purwodadi, Jateng)

Seorang pemuda yang sedang melewati rerumpunan hutan mengintip para bidadari itu. Di antara kekaguman yang memuncak akan kecantikan, rasa cinta spontan dan hasrat mudah memiliki, ia nekad memilih jalan pintasnya sendiri. Ia mencuri pakaian milik salah seorang bidadari itu. Kecantikan telah mempesonakan Jaka Tarub, nama pemuda itu dan bertindak sesuai dorongan naluriahnya.

Sebagaimana kita tahu, happy ending kisah ini bukan terletak saat Jaka Tarub berhasil memperistri Nawangwulan. Perkawinan blasteran itu ternyata menjadi suatu titik awal perjuangan dan pergulatan hidup bagi keluarga ini.

Legenda lain bisa kita temukan di sekitar air terjun Coban Rondo, Jawa Timur. Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dalam rasa cintanya yang suci melangsungkan pernikahan dengan sang idaman hati, Pangeran Baron Kusuma dari gunung Anjasmoro.

Pernikahan yang membahagiakan ini sangat membesarkan hati, krenteg keinginan mereka. Juga untuk pergi ke sebuah air terjun. Meski dihalang-halangi sang ayah karena pernikahan belum genap 35 hari (selapan dina), mereka teguh dalam keinginan. Dengan rasa cinta yang membuncah, mereka siap menghadapi risiko, halangan bahkan kematian sekalipun. Kebahagiaan telah membutakan.

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seorang yang bukan saja menghalangi jalan namun juga menginginkan sang pengantin puteri. Sang pangeran yang merasa terloncati haknya marah besar. Dia sembunyikan sang putri dibawah air terjun.

Sementara itu perkelahian antar dua petarung ini tak terelakkan. Dan dewi keadilan memutuskan keduanya kalah. Mereka mati meninggalkan sang putri yang mereka dambakan bersama. Sang pengantin tetap menunggu di batu bawah air terjun yang kini dikenal Coban Rondo (cobaan untuk sang janda).

Widuri 3

Grojogan/Air Terjun Widuri: Inilah pemandangan alami di kawasan Perhutani di Grobogan, tidak jauh dari Purwodadi dimana terdapat destinasi wisata bernama Air Terjun (Grojogan) Widuri. (Dok. Romo Rufinus Herlambang MSF/Paroki Purwodadi)

Mengelola hasrat memiliki

Legenda ini menarik bukan karena happy ending-nya. Lelaki musuh Pangeran Baron Kusuma itu terang-terangan mengutarakan niatnya meski melanggar tatanan moral kepemilikan. Tak ada kekuatan dalam dirinya untuk membendung rasa memiliki. Demikian pun dengan Jaka Tarub. Lelaki bersahaja itu pun tidak luput dari pamrih memiliki. Ia tergoda wanita.

Kekurangannya (rasa cupet) mendorongnya bertindak amoral, mencuri. Pepinginan membuatnya tidak eling. Bukannya tidak memahami pedoman moral yang telah diajarkan padanya, namun pada realitas dirinya, ia penuh pamrih dan godaan. Ia terjerumus untuk segera menaklukkan meski itu melampuai apa saja. Ia tidak sadar akan keterbatasannya sendiri.

Widuri 2

Wisata alam di Kabupaten Grobogan, Jateng: Air Terjun Widuri yang terletak di kawasan Perhutani Grobogan kini semakin banyak dikunjungi wisatawan lokal, seiring dengan derap penataan lokasi wisata oleh Pemda Grobogan. (Dok. Romo Rufinus Herlambang MSF/Paroki Purwodadi)

Sementara Jaka Tarub menginginkan Nawangwulan, kedua mempelai itu menginginkan kebahagiaan. Keinginan untuk memiliki (istri) atau memperoleh kebahagiaan, membuat mereka lupa. Melik nggendong lali. Kepemilikan membawa serta kealphaan. Kita diingatkan akan tirani keinginan. Wanting…. Banyak orang kini mudah lupa tatkala memiliki keinginan akan kebahagiaan.

Benar bahwa banyak orang hidup dalam penjara keinginan. Oleh karenanya orang perlu eling, pada dirinya sendiri, pada dunia sekitarnya. Menerima diri menjadi suatu yang penting. Penemuan kebenaran diri adalah awal mula proses pembebasan personal. Penemuan tentang kebenaran dunia: pengakuan yang jujur dan terbuka akan kejadian dunia sekarang ini juga merupakan pengalaman yang membebaskan. Eling pada hakikat kehidupan manusia dan realitasnya merupakan warisan leluhur yang tidak lekang. Tidak sekedar menyangkut keterbatasan fisik, keturunan, status namun juga berani menerima keterbatasan akan kebahagiaan sendiri. Orang pun harus berani menerima kemalangan dan hanya melik akan kebahagiaan semata.

Tentu saja orang bisa datang ke grojogan atau tempat pariwisata lain dengan beragam tujuan. Keinginan untuk mencari kecantikan membuat orang datang ke grojogan. Suatu yang dimengerti sebagai wasiat atau warisan dari sang putri. Air dingin dan asli dari grojogan memang merupakan warisan alami. Ia memberikan kesegaran, kecantikan dan rasa syukur, kekaguman serta membahagiakan…..

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply