Agama dan Kepercayaan dalam Iman Pasamuan Katolik di Zaman Global (4)

paus berjalan by realtruthB. Agama dan Kepercayaan dalam Iman Pasamuan Katolik di Zaman Global Sarat Teknologi Komunikasi PADA  zaman global sarat teknologi komunikasi umat manusia makin hari makin erat dipersatukan dan hubungan antara berbagai bangsa ditingkatkam. Dalam kondisi ini Pasamuwan Katolik meninjau kembali secara lebih cermat sikapnya terhadap agama-agama lain. Dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih umat […]

paus berjalan by realtruth

B. Agama dan Kepercayaan dalam Iman Pasamuan Katolik di Zaman Global Sarat Teknologi Komunikasi

PADA  zaman global sarat teknologi komunikasi umat manusia makin hari makin erat dipersatukan dan hubungan antara berbagai bangsa ditingkatkam. Dalam kondisi ini Pasamuwan Katolik meninjau kembali secara lebih cermat sikapnya terhadap agama-agama lain. Dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih umat manusia, bahkan antar bangsa-bangsa, pertama-tama Pasamuwan Katolik mencermati segi kesamaan dari semua manusia dan nilai kebersamaan yang membawa ke pada kebenaran. Baca juga: Tempat Kebatinan dalam Pasamuan Katolik (1)

Semua bangsa merupakan satu masyarakat. Mempunyai satu asal. Allah menempatkan seluruh umat manusia di bumi. Semua manusia juga mempunyai tujuan yang satu: Allah. enyelenggaraan-Nya sebagai bukti kebaikan-Nya dan rencana keselamatan-Nya mencakup semua manusia, dengan tujuan semua maanusia dipersatukan dalam surga. Di situ nampaklah kecemerlangan Allah dan semua bangsa akan berada dalam cahaya-Nya. Baca juga: Budaya Kejawen 1 Syuro

Manusia dari berbagai agama mengharapkan jawaban atas pertanyaan terhadap rahasia di sekitar hidup manusia dan alam raya. Sepanjang zaman, rahasia itu mengusik hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup manusia di dunia ini; apa arti kebaikan dan kejahatan; dari mana asalnya dan maksud adanya penderitaan; mana jalan untuk sampai pada kebahagiaan sejati; apa itu kematian, pengadilan dan ganjaran sesudah kematian. Rahasia yang menyelimuti keberadaan manusia itu tetap merupakan rahasia agung, meski manusia mencoba menggapai-gapainya dengan pertolongan kurnia terang yang mampu ditangkapnya. Baca juga: Kronik Riwayat Singkat Kebatinan dan Kepercayaan

Sepanjang zaman sampai sekarang, dalam berbagai bangsa terdapat semacam tanggapan terhadap kekuatan rahasia tersebut, yang nyatanya hadir dalam kehidupan manusia. Malah kadang-kadang manusia sampai pada pengalaman tidak berdaya untuk menolak dan mengakui adanya kekuatan yang mau tidak mau ada dan diungkapkan dengan kata Yang Maha Tinggi atau bahkan sampai pada sebutan ‘Bapa’ yang sangat personal.

Pasamuwan Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam kelompok kepercayaan dan agama. Pasamuwan Katolik secara jujur memandang dengan sikap menghargai cara bertindak dan cara hidup, peratuan dan ajaran agama-agama lain, meskipun dalam banyak hal berbeda dengan isi pemahaman dan ajaran Gereja.

Toh tidak jarang paham, ajaran dan cara hidup umat agama lain memantulkan kebenaran yang menerangi umat manusia. Meski dalam berssikap demikian tidak henti-hentinya Pasamuwan Katolik mewartakan kabar gembira keselamatan, yang terpribadikan dalam Isa Almasih “jalan,kebenaran dan kehidupan” (Yoh.14,6), Dialah pribadi manusia yang berada dalam kepenuhan hidup berserah diri kepada Allah. Dialah pribadi pendamai manusia dengan Allah.

Bagaimana kebatinan dalam Budaya Jawa terolah dalam refleksi iman Katolik?

Terhadap segi-segi politis, sosiologis, psikiatris dan parapsikis, artis dan teknologis yang terdapat pada budaya Jawa, tidak ada pandangan secara teologis katolik. Segi-segi itu adalah sasaran ilmu pengetahuan awam (sekuler), yang dalam lingkup iman katolik mempunyai hak otonomi secara menyeluruh dan diatur oleh asas-asas disiplin ilmu sendiri.

Dengan demikian terhadap apa yang termasuk bidang kemanusiaan tuntutan inkulturasi iman perlu mendapatkan sambutan positif: penggunaan bahasa setempat (misalnya Jawa), seni suara, kerawitan dan tari, pakaian ibadat, bentuk bangunan rumah ibadat. Juga dapat dimanfaatkan oleh umat katolik tentang cara olah batin yang bersangkutan tata rasa, cipta, karsa dan karya. Cara-cara bermatiraga.

Contoh petunjuk olah batin dengan matiraga: Baca juga:  Budaya-Budaya Kejawaan Secara Global (2)

Sekar Kinanthi (Sri Pakubuwono IV –Wulang Reh)

Padha gulangen ing kalbu
Ing sasmita amrih lantip
Aja pijer mangan nendra
Kaprawiran den kaesthi
Pesunaen saliramira
Cegah dhahar lawan guling

Sekar Sinom (KGPAA. Mangkunegara IV)

Nuladha laku utama
Tumraping wong tanah Jawi
Wong agung ing ngeksiganda
Panembahan Senapati
Kepati ameresudi
Sudaning hawa lan nefsu
Pinesu tapa brata
Tanapai ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sesama

Samangsane pasamuan
Memangun marta-martani
Sinambi ing saben mangsa
Kala-kalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh gayunganing kayun
Kayungsun eninging tyas
Sanityasa prihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra.
Sekar Sinom (RNg. Ranggawarsita: Kalatidha)

Amenangi zaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boten kedumen melik
Kaliren wekasanipun
nDilalah kersa Allah
Begja begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada.

Di dalam kebatinan agama asli Indonesia termaktub warisan rohani berabad-abad usianya yang bercorak bebas, yang cukup berdaya untuk mengilhami bangsa agar mengatasi sebegitu banyak rintangan dari lingkungan materi dan sosial; yang cukup kompak untuk menghelanya di atas rintangan-rintangan dan frustrasi dan kekuasaan feodal dan kolonial sampai zaman kemerdekaan sekarang. Dan itu pantaslah berkembang dan diperkaya lebih lanjut oleh kharisma ka-almasihan.

Sekarang kharisma itu dapat berlimpah-limpah, bebas dan selaras, sebagai realisasi penuh dari bakat asli. Di dalam proses, ininilai-nilai asli tidak dirombak, tetapi disempurnakan sampai pola Pasamuwan Katolik Indonesia dapat merupakan pola memuncak dari kepribadian Indonesia. Sebaliknya, Pasamuwan Katolik sedunia diperkaya oleh sumbangan khusus dari jiwa Pasamuwan Katolik Indonesia.

Bersama dengan arah dan tujuan itu, dengan rendah hati diakui bahwa kebatinan dalam agama asli seperti apa adanya bersifat ambicvalent. Di dalamnya terdapat unsur-unsur yang tidak masuk akal dan yang merintangi perkembangan manusia otentik. Tampaklah bagaimana sikap kepada Tuhan, sesama manusia dan alam duni tergoda untuk mendalihkan diri dari arah dan tujuan transenden dan menutupkan diri dalam alam sendiri penuh magu dan kekuasaan khayalan. Oleh godaan itu pengalaman rohani berpaling dari pokok asli ketuhanan kepada diri sendiri. Ambivalensi ini perlu cair dan memerlukan proses.

Namun sehubungan dengan budaya alus ‘kejawen’ yang bersangkutan dengan pandangan tentang alam semesta (kosmis), tentang ketuhanan, tentang kemanusiaan tentang masalah kodrat dan adikodrati, perlu ada langkah diskretif atau ‘weweka’; demikian dari buah-buah olah kebatinan kejawen ada segi yang baik diteropong dari segi laku refleksi iman “teologi”: dengan mengolah pertanyaan siapa manusia dihadapan hadirat Tuhan?

Timbulnya kebutuhan akan pengalaman rohani mengenai nilai-nilai mutlak meruapakan unsur kebatinan yang dihargai oleh Pasamuan katolik. Akan tetapi , ada segi-segi yang perlu disoroti secara kritis dari segi pandang iman Pasamuan katolik, antara lain:

1. Aliran imanentisme: Arus induk kebatinan “tan kena kinaya apa-cedhak rumasuk tanpa senggolan” berwarna imanentisme mengarah ke pengalaman mistik mengenai hadirnya Tuhan. Kesatuan dengan Tuhan ditujukan pada “pamoring kawula lan Gusti”.

Dalam teori kebatinan, tujuan itu dilukiskan bahwa “kesadaran manusia tenggelam dalam ketuhanan dan manusia di situ kehilangan kepribadiannya sendiri”.Apakah memang manusia kehilangan kepribadiananya ? Dengan demikian terjadilah ‘depersonalisasi’? Padahal dihadapan Tuhan, manusia masih sebagai pribadi.

2.Aliran transendentalisme: kebatinan “tan kena kinya apa-adoh tanpa wangenan” yang menyukai kata-kata seperti mengenal, mengarifkan, berilmu mengenai Tuhan. Kata-kata seperti itu behaluan gnostik atau gnosis, ialah hasrat mengalami ketuhanan dengan cara yang melampaui kemampuan insani dan selalu itu tak mungkin terpenuhi. Aliran kebatinan gnotisisme dinilai mempunyai warna memutlakkan kemanusiaan –‘Arianisme’. Dalam dinamika seperti itu tidak ada paham “wahyu”. Seumpama ada paham tentang wahyu, kadarnya begitu kabur.

3. Seorang ahli kebatinan “aliran imanentisme berkata: aham brahmasi dan Ana’l-Hak (akulah Tuhan) atau menerima wahyu yang berbunyi” sejatimu adalah Allah Tuhanmu (Bp.Sunarto dari Pangestu) atau ‘edating Hyang iku edat kita’, atau ‘jumbuhing kawula lan Gusti (jati diri manusia dan Tuhan). Sebaiknya direnungkan , sejauh mana pernyataan-pernyataan itu membawa isi kasunyatan. Itu merupakan pengalaman en-stase ataukah ex-stase? Peristiwa ‘en-stase’, manusia mandheg dalam dirinya sendiri.

4. Dua aliran besar tereebut, “Depersonalisasi” dan “personalisasi mutlak” adalah cirri khas aliran gnostik internasional dan juga aliran-aliran kebatinan, khususnya kejawen.

5. Tata nilai kebatinan. Menurut kebatinan kejawen, baik-jahatnya manusia adalah terutama akibat dari baik buruk alam semesta. Keutamaan dan dosa manusia tidak dianggap bersifat ethis, tetapi kosmis. Menurut aliran kepercayaan, manusia itu sebenarnya baik tetapi jalannya tersesat dalam dunia yang tidak beres.

Daya-daya kosmis menghuni dan merasuki manusia dan mengasisngkannya dari panggilannya yang sebenarnya, yaitu kembali ke persatuan dengan zat semula.

Dalam iman katolik dosa itu adalah pengingkaran secara kehendak bebas manusia akan kehendak Allah. Dan keutamaan itu tindakan baik yang di lakukan manusia secara kehendak bebas berkat adanya kekuatan rahmat dari Allah.

Pasamuwan Katolik menunjuk pada arti pakumupulan, paguuban umat berdosa yang dalam peziarahannya selalu merasa terpanggil untuk bertobat dan membaharui diri dalam arahnya berguru hidup pada Kanjeng Gusti isa Almasih. Yang perhatiannYa keselamatan seluruh Umat manusia.
.
Raison d’etre atau lahirnya Pasamuwan Katolik adalah aliran air kehidupan hidup Isa Almasih sebagai guru urip sejati “Akulah jalan, hidup dan kebenaran”. Kebenaran hidup Isa hidup berdasarkan harta kebatinan. Dalam kisah apa yang mengungkap bahwa kehidupan Isa itu kebatinan: kisah kelahiran, kisah terjunnya ke masyrakat, kiish bertapa dan berpuasa selama 40 hari; kisah hidup yang setiap kali menyepi di tempat sunyi sebagai acara hidup hariannya; sampai sengsara, wafat dan kebangkitanNya dari hati bernuansa kebatinan.

Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Isa terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya Dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa Dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya.

Siapakah Dia sesungguhnya?

Dalam Mat 16:13-20 Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Isa itu Al-Masih, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Isa. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Isa yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan ke-almasihan Isa. Kali ini petikan Injil Matius mengajak pembaca mendalami sisi yang pertama. Isalah Almasih dalam kebatinan dan kerohanian.

Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Isa itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Isa berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa Dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa Dia itu.

Tentu saja mulai disadari bahwa Isa yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah Dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Al-masih yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak Almasih ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Almasih seperti ini disatukan dengan pengertian “Anak Manusia”, seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Pasamuwan Awal juga percaya bahwa Isa ialah tokoh ini.

Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Isa akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah (“tetua, imam kepala dan ahli Taurat” ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Isa juga mengalami kebangkitan Isa pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Isa itulah sungguh Almasih.

Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 “Engkaulah Almasih” mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Pasamuwan Awal. Bukan tanpa arti, bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Isa itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, “Engkaulah Almasih, anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16).

Matius menambahkan “anak Allah yang hidup” untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Isa sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Almasih yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan almasih politik ini amat kuat.

Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Isa itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Almasih tadi “dari Allah”. Maksudnya, Isa datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Isa untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Isa betul-betul menjadi Almasih bagi semua orang.
Pendapat bahwa agama asli mempunyai fungsi positif dalam mebuat hidup agama suatu bangsa hanya dapat dibenarkan, bila diterima bahwa segala bangsa dibimbing oleh Tuhan untuk menemukan pewahyuan Allah yang memuncak dalam pribadi Isa Almasih.Wahyu umum yang biasa disebut wahyu kosmis (Rom 1,19-20) menuju ke wahyu firman pada suatu detik sejarah teterntu.

Tidak ada suatu bangsa yang melulu kafir atau di luar rahmat ilahi. Biarlah kecondongan kepada Tuhan tertindih oleh kesesatan dan takhayul yang bukan-bukan,, namun titik sambung dengan panggilan ilahi tidak seluruhnya lepas (Mat.12,20). Selalu tanda-tanda rencana Allah dapat dicari pada mereka, supaya itu dapat dibebaskan dari pikiran sesat dan diperlengkapi oleh kebenaran penuh.

Pada tahun 1964 Paus Paulus VI berpesan: “Tiap-tiap agama memncarkan cahaya yang tidak boleh kami rendahkan atau abaaikan, walaupun cahaya itu tidak cukup untuk menyampaikan kebenaran yang dibutuhkan manusia atau untuk menyiapkan mukzizat cahaaya ke “Isa Almasih-an”, dalam mana kebenaran dan kehidupan luluh bersama. Tetapi tiap-tiap agama mengangkat kita kepada Nan Mutlak, satu-satunya sumber segala wujud, pikiran, kelakuan baik dan harapan benar.Tiap-tiap agama merupakan fajar iman, dan kita menunggu terbitnya penuh dalam
terang siang, yaitu dalam sinar hikmah ke-Isa Almasih-an. “

Sesanti Suci Pasamuan Katolik

Ngugemi wewarah tresna asih Njeng Gusti Ngisa Ngalmasih
Gumlawat marang sing kesrakat
Gumlawe marang kabudayane dhewe
Gumolong karo kanca sing tumrap kasunyatan padha ngorong

(Mesianic-Kristologis; Option for the poor =perhatian kepada yang mlarat – kesrakat; inkulturasi = mbanyu, mbumi, mangin,mlatu, mlangit; interfatith dialogue = wawan kerohanian dengan para penghayat agama & kepercayaan kepada TME)

NB. Hendaknya kebatinan kita menjadikan lantip ing sasminta :

Syalom. Wilujeng enjang.

Sebagaimana ketika di Cilacap dan Kroya, sekali dua kali saya masih kadang-kadang beli kopi dan gorengan di warung-warung kecil. Pertama-tama bukan kopi atau gorengannya yang penting. Melainkan di sana ada dan terbentuk sosialitas yang khas. Kontak dengan orang beragama lain bisa terjadi. Demikian pula, isu-isu sosial kemasyarakatan bisa terdengar.

Suatu kali, ketika kopi sedang disiapkan di sebuah warung, datang seorang anak perempuan kecil, seusia balita. Digendong oleh ibu muda. Didampingi seorang bapak tua. Selisih antara mereka nampak amat jauh.

Anak kecil itu lari kesana-kemari, jondal-jondil, ketawa-ketiwi, omong ini-itu dengan lidahnya yang masih cedal. Hampir segala gerak-geriknya memunculkan gelak tawa. Pendek kata, anak itu lucu sekali, menggemaskan. Sesudah perempuan kecil itu dibawa pergi oleh kedua orang yang berbeda jauh umurnya , saya bertanya kepada si pemilik warung, siapa orang-orang itu. Apakah mereka suami-istri? Kalau iya, apakah anak kecil itu memang anaknya? Rumah mereka dimana? Dsb-dsb.

Ternyata, jawabannya mengagetkan. Mereka memang suami istri kendati beda jauh usia. Anak kecil itu memang anaknya, tetapi bukan asli, melainkan beli. Mereka membelinya ketika masih bayi amat kecil.

Karena penasaran, saya tanya lebih lanjut, belinya di mana? Di Purwokerto. Harganya berapa? Tidak tahu, kata si pemilik warung. Tetapi yang jelas bayi itu dulu beli.

Sekitar sepekan yang lalu, di dekat rumah Pak Eka, penjual koran di depan RS Elisabet, ditemukan seorang bayi di depan pintu sebuah rumah. Ditemukan pada pagi hari, esuk umun-umun. Diperkirakan bayi itu berumur empat hari. Ditaruh di depan pintu sekitar jam 4 pagi. Sampai-sampai bayi itu dirubung semut. Untung bayi itu belum meninggal.

Sesudah dirawat oleh bidan, bayi diserahkan ke polisi. Memang membutuhkan penanganan dan perawatan. Sesudah sekian waktu beberapa orang ingin ngepek anak itu, alias mengadopsinya. Semua boleh mengambilnya asalkan bawa uang tebusan Rp 2.500.000,-

Jadi, seorang bayi yang menurut kita adalah Citra Allah bisa dibeli. Di Purwokerto lagi. Faham Citra Allah, bagi orang-orang tertentu bergeser. Malah manusia pun diperlakukan sebagai komodiltas. Tentu komoditas ekonomi. Siapa mau beli bayi? Bayi….! Bayi…! Bayi….!

Dari Rama Agung Pralebda-22 Agustus 2008

”Intel Bayaran dan Camat Gila”

Seorang intel kepolisian, dibiayai oleh Camat Wangon untuk melaksanakan tugas mata-mata. Si camat gemas, karena programnya menaikkan harga gula kelapa demi kemakmuran penderes, selalu gagal. ”Percuma saya jadi camat, untuk sekedar melihat rakyat saya terus miskin”.

Menyamar sebagai kuli angkut dalam sistem distribusi gula kelapa, sang intel masuk ke mafia gula kelapa. Sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, dia menemukan fakta mengenai siapa yang menentukan harga gula jawa : korporasi asing berbasis di Singapura. Inilah penyebab 5 juta kilogram gula yang dihasilkan Banyumas setiap tahunnya, tetap memerangkap 30 ribu penderes dalam lingkaran setan kemiskinan.

Setelah si Camat mempresentasikan urat nadi mafia gula kelapa, dia dimutasi ke daerah yang jauh dari Kecamatan Wangon. Kebetulan, atau karena mafia itu sudah masuk ke pembuat kebijakan?

Si mantan camat yang tanggal 31 Agustus besok pensiun, cuma mengelus dada. ”Wong bener angel temen uripe yo Mas / Orang benar kok sulit hidup ya mas/

Pemasok: Mas Sihar –Komunitas Pena KP

Purwokerto 17 Agustus 2008
HUT Kemerdekaan ke 63 NKRI

Kredit foto: Paus berjalan menuju Vatikan (Courtesy of Realtruth)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply