Agama Buka yang Terpenting

Ayat bacaan: Kol 2:16-17
====================

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”

Salah seorang paman saya sejak awal mengarahkan anak2nya untuk menganut agama mayoritas di negara ini, sementara dirinya sendiri termasuk orang yang tidak menganut agama apapun. Alasannya sederhana: “selama masih hidup di negara ini, selalu lebih aman jika di KTP nantinya tercantum agama yang dianut mayoritas. Ketika saya menanyakan lebih jauh, dia menjabarkan hal2 seperti ketakutannya akan pembantaian umat beragama minoritas, berbagai demo mengatasnamakan agama, atau tudingan2 kristenisasi yang menurutnya dapat beresiko bagi keselamatan jiwa anak2nya. Selain itu, katanya, bayangkanlah kemudahan2 yang bisa didapat jika anda punya label mayoritas, jalan bebas hambatan akan terbentang.

Agama sejatinya mengacu pada sebuah sebuah proses untuk menjangkau Tuhan lewat upaya dan kemampuan manusia. Yang terjadi kemudian? agama seringkali berubah fungsi menjadi atribut yang penting bagi pergaulan, bagi kehidupan duniawi, pertemanan, pamor, kedudukan dan status sosial seseorang. Dan hal ini terjadi di agama manapun, tanpa terkecuali. Begitu banyak orang mengatasnamakan agama lalu menindas penganut agama lain di dunia ini, begitu banyak orang mengklaim agamanya lah yang paling benar, lantas yang lain pasti masuk neraka. Padahal siapakah kita yang berhak menghakimi perjalanan akhir seseorang? Ada banyak orang yang terlalu mencintai agamanya, sehingga dengan mudah mereka dapat menghakimi seseorang dengan pandangan berbeda, atau malah jauh lebih mencintai atribut dan label ketimbang tujuan utama menganut sebuah agama. Atau pola pikir bahwa gerejanya adalah yang terbaik, cara beribadatnya yang terbaik, bentuk prosesinya terbaik, pendetanya lebih pintar ngomong, altarnya lebih keren, dan lain sebagainya. Inilah sebuah bentuk yang dapat timbul, apabila kita mendasarkan keimanan hanya pada bentuk lahiriah duniawi saja.

Kristiani bukan soal agama. Terlepas dari semua proses dan denominasi yang berbeda2, yang terpenting adalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Dan hubungan itu, didasarkan pada kasih karunia Tuhan yang menyentuh kita masing2 setiap saat, dan tak berkesudahan. Membangun hubungan dengan Tuhan, mendengar kata hati Tuhan, membiarkan Tuhan menuntun dan berbicara pada anda setiap hari, itulah hal yang terpenting. Label agama adalah hal yang duniawi sifatnya. Yang penting adalah percaya Yesus adalah juru selamat pribadi anda, hidup sesuai dengan keinginan Tuhan, selalu berupaya setiap saat menjadi biji mataNya, menjadi garam dan terang di dunia, dan membagi kasih kepada sesama seperti halnya anda dikasihi Tuhan. Label atau atribut apapun itu tidak berarti apa2 dalam hubungan kita dengan Allah.

Bukan atributnya yang terpenting, melainkan hubungan antara kita dengan Tuhan lah yang harus diutamakan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment