Adorasi Ekaristi, 6 Agustus 2014: Merayakan dan Menghayati Revolusi Mental

transfiguration_of_Jesus_ChristPESTA  Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya Daniel 7:9-10, 13-14;Mazmur 97:1-2,5-6,9; 2Petrus 1:16-19 Matius 17:1-9 “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” (Matius 17:2) Tiga Gereja Kristus: Ortodoks, Katolik Roma dan Anglikan kompak merayakan Yesus Dimuliakan pada hari ini, 6 Agustus. Setiap tahun itu terjadi. Kisah […]

transfiguration_of_Jesus_Christ

PESTA  Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Daniel 7:9-10, 13-14;Mazmur 97:1-2,5-6,9; 2Petrus 1:16-19 Matius 17:1-9

“Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” (Matius 17:2)

Tiga Gereja Kristus: Ortodoks, Katolik Roma dan Anglikan kompak merayakan Yesus Dimuliakan pada hari ini, 6 Agustus. Setiap tahun itu terjadi.

Kisah tentang Yesus dimuliakan di atas bukit diwartakan oleh Penulis Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) dengan keunikan perspektif masing-masing. Ketiganya saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain.

Dari semua kisah yang diwartakan intinya jelas: Yesus mengalami kemuliaan yang luar biasa hingga wajah-Nya bercahaya dan pakaian yang dikenakan-Nya pun menjadi putih bersih bersinar. “Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” (Matius 17:2)

Warta tentang Yesus Kristus yang menampakkan kemuliaan-Nya hendak menyatakan kepada kita bahwa Allah sendiri berkenan menyatakan kasih dan kemuliaan-Nya kepada kita.

Kemuliaan-Nya dinyatakan bukan dalam hiruk-pikuk aktivitas duniawi melainkan dalam keheningan dan suasana doa. Yesus mengambil jarak dari keramaian masuk dalam kesendirian dan kekudusan. Dalam suasana itulah Yesus mengalami transfigurasi, perubahan rupa dan menyatakan kemuliaan-Nya (lih. Markus 9:2,3 dan paralalelnya).

Tak ada yang mustahil bahwa doa dan perjumpaan dengan Tuhan dalam keheningan yang mendalam membuat hidup kita diubah dalam kemuliaan-Nya. Dalam Kitab Keluaran 34:29 disebutkan bahwa sesaat setelah Nabi Musa berdoa dan berjumpa dengan Allah, kulit wajahnya bercahaya. Dalam surat 2 Korintus 3:7, St. Paulus berkata, “… cahaya muka Musa begitu cemerlang…” sehingga mata orang-orang Israel Kuno tidak tahan menatapnya.

Tak mengherankan, peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya, hadir juga Musa dan Elia, dua Nabi besar dalam Perjanjian Lama. Dalam peristiwa itu, Yesus Kristus mengajak tiga murid-Nya, Petrus, Yakobus dan Yohanes.

Apa makna peristiwa dan pesta yang kita rayakan ini? Pertama, seperti sudah saya sebutkan, Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya dalam diri Yesus Kristus. Para murid-Nya menjadi representasi bahwa kita pun dilibatkan untuk mengalami kemuliaan itu.

Kedua, Yesus menampakkan diri-Nya dalam kemuliaan bersama Musa dan Elia. Bersama mereka, Yesus berbicara tentang hal-hal yang akan dialami-Nya di kota Yerusalem: pengkhianatan, penolakan dan penyaliban. Itu berarti, kemuliaan-Nya dan yang akan dialami oleh para murid-Nya tidak bisa dilepaskan dari hal-hal yang sama: pengkhianatan, penolakan dan penyaliban.

Ketiga, dalam semuanya itu, Allah menyatakan jatidiri-Nya sebagai Bapa dan jatidiri Yesus sebagai Sang Putra terkasih. Kita harus mendengarkan Dia. Allah Bapa memuliakan Yesus Kristus sebagai Putra terkasih dalam kemuliaan karena ketaatan-Nya meski harus menanggung pengkhianatan, penolakan dan penyaliban.

Keempat, Tuhan Yesus tidak hanya menginginkan kita ikut melihat kemuliaan-Nya, tetapi juga turut ambil bagian di dalamnya. Jalan menuju kemuliaan adalah taat dan setia mengikuti Dia, taat kepada firman-Nya, menempuh jalan-Nya meski itu jalan pengkhianatan, penolakan dan penyaliban.

Akhirnya, kita pun diundang untuk berubah! Kemuliaan Tuhan akan mengubah hidup kita sehingga kita bersinar oleh kasih-setia-Nya. Kita diubah menjadi anak-anak terang, bukan anak-anak kegelapan.

Dalam kelima hal itulah, saat kita mengalami kemuliaan Tuhan, kita diubah menjadi anak-anak-Nya. Dan itulah yang sesungguhnya kita sebut revolusi mental: perubahan sikap menjadi baik lahir dan batin terus-menerus, meski untuk itu kita harus mengalami pengkhianatan, penolakan dan penyaliban.

Melalui Adorasi Ekaristi Abadi, kita masuk ke dalam saat hening nan suci agar boleh mengalami Tuhan yang hadir dalam kemuliaan-Nya. Ingat, Tuhan menyatakan kemuliaan tidak dalam hiruk-pikuk dan keramaian dunia, melainkan di keheningan doa penuh cinta. Pada saat itulah seluruh hidup kita diubah menjadi lidah yang memuji dan memuliakan Allah. Keheningan itu meneguhkan dan menguatkan kita untuk menanggung segala dan setiap pengkhianatan, penolakan dan penyaliban sebagai murid-murid yang taat setia mendengar dan melaksanakan kehendak-Nya.

Kendati kita orang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa, kereelaan kita untuk terus memandang Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus melalui Adorasi Ekaristi Abadi akan mengubah wajah jiwa kita menjadi bercahaya oleh sinar kasih-Nya. Itulah salah satu makna Adorasi Ekaristi Abadi.

Tuhan Yesus, jagalah kami untuk tetap waspada dan berjaga jiwa raga terarah kepada-Mu. Dengan demikian kami layak menjadi anak-anak Bapa di surga dengan terus-menerus merevolusi mental kami kian selaras dengan sabda, karya dan kehadiran-Mu di tengah hidup sehari-hari. Ijinkan kami melihat kemuliaan-Mu, mengalaminya dan menjadikan daya kekuatan untuk menjadi berkat bagi sesama dan semesta, umat dan masyarakat, kini dan selamanya. Ami

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply