Acuh Tak Acuh itu Tak Baik (1)

Ayat bacaan: Zefanya 2:1-2
==================
“Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN.”

Ada orang yang serius dalam membangun hubungan, ada yang cuek-cuek saja. Ini berlaku dalam segala bentuk hubungan, termasuk hubungan pertemanan atau dalam membangun rumah tangga. Banyak yang tidak menyadari bahwa bagaimana keseriusan kita dalam membangun dan membina hubungan akan sangat menentukan kualitas dari hubungan tersebut. Mengapa keseriusan kita diperlukan? Karena untuk bisa mencapai sebuah hubungan yang berkualitas baik dibutuhkan proses yang berkesinambungan. Sebuah hubungan yang dibangun dengan baik akan mudah terlihat. Saya bertemu dengan banyak pasangan lanjut usia yang tetap saling cinta sampai di usia senjanya dan dari mereka saya belajar bahwa hubungan yang mesra tak lekang dimakan jaman seperti itu tidak dibangun instan dalam semalam, tapi membutuhkan waktu panjang. Ada masa-masa sulit yang tetap harus mereka lalui dimana hubungan akan dihadapkan pada ujian yang menentukan seperti apa warna pelangi yang muncul setelah hujan badai. Sebaliknya ada banyak pasangan yang kandas atau nyaris kandas pada usia singkat yang juga menjadi pelajaran penting buat saya agar tidak terjatuh pada lubang-lubang yang sama dalam bahtera rumah tangga sendiri. Intinya, hubungan antar manusia memerlukan keseriusan agar bisa kokoh dan berkualitas, dan itu akan sangat menentukan buah yang dihasilkan. Kalau terhadap manusia saja penting, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan yang menciptakan kita?

Tidak banyak yang menyadari bahwa hubungan dengan Tuhan memerlukan keseriusan. Bukankah Dia yang menciptakan kita dan melimpahi kita dengan berbagai kebaikan, modal yang bisa dipakai untuk menjadi orang-orang menang dan yang paling utama, merindukan kita semua untuk selamat mencapai kehidupan yang kekal bersamaNya kelak? Dan itu Dia berikan justru pada saat manusia terus bergelimang dosa. Karenanya sangatlah tidak pantas kalau kita menomorduakan hubungan dengan Tuhan atau malah bersikap cuek atau acuh tak acuh terhadap hal ini. Ketahuilah bahwa sikap ini bisa membawa dampak fatal dengan datangnya murka Tuhan.

Ada banyak orang yang membangun hubungan dengan Tuhan hanya sebatas kebutuhan saja, alias hanya kalau perlu. Mereka rajin berdoa hanya saat tertimpa masalah. Mereka mudah berseru pada Tuhan bahkan disertai ratap tangis dalam doa yang jumlahnya banyak dalam sehari. Tetapi ketika Tuhan mengulurkan tanganNya dan melepaskan dari masalah, mereka pun segera melupakan Tuhan dan sibuk dengan dunia masing-masing. Mungkin sempat berterimakasih, tetapi itu pun tidak bertahan lama. Doa menjadi semakin jarang dengan beragam alasan. Peraturan Tuhan menjadi nomor ke sekian untuk dipatuhi, berada jauh di bawah kenikmatan dunia dalam skala prioritas sehari-hari. Apalagi jika diminta untuk terlibat dalam pelayanan, seribu satu alasan pun tiba-tiba bermunculan untuk menolak.

Begitu seringnya anak-anak Tuhan terlena dalam kenyamanan dan kemudian melupakan Tuhan, namun kembali datang ketika masalah kembali muncul. Bahkan tidak jarang kita mendengar bahwa orang melayani Tuhan semata-mata karena mengharapkan hidup mereka bersih dari masalah, atau kalaupun ada masalah, Tuhan akan segera hadir disana dan mengulurkan bantuan, instan. Tuhan hanya dijadikan sebagai alat penolong, body guard dan tempat mengemis, tidak lebih, tidak kurang. Diluar itu, mereka cuek dengan pentingnya membangun hubungan dengan Tuhan, mematuhi ketetapanNya, merenungkan dan melakukan firmanNya dalam hidup sehari-hari.

Ada juga yang memang tidak peduli sama sekali. Mungkin sesekali mereka mencoba, tapi kalau lama mereka segera melupakan Tuhan, masih mending kalau tidak disertai kekecewaan dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Bagi mereka ini Tuhan hanyalah satu dari sekian alternatif, tidak lebih, tidak kurang. Ditolong syukur, kalau tidak masih ada alternatif lain. Sikap-sikap seperti ini tidaklah berkenan di hadapan Tuhan.

Sebuah teguran keras Tuhan atas bangsa Israel turun di masa Zefanya. Sikap bangsa Israel pada masa itu yang keras kepala bukan lagi hal baru, karena sudah berulang kali tampak jauh sebelum jaman Zefanya. Hati mereka dengan Tuhan begitu cepatnya berubah-ubah. Mereka dengan mudah menangis meminta pertolongan, berseru-seru pada Tuhan, namun saat ditolong, sesaat kemudian mereka sudah menunjukkan sikap tidak puas dan kembali mengeluh, bersungut-sungut, ngomel, protes. Pada saat-saat tertentu mereka memuliakan Tuhan, namun sesaat kemudian sikap mereka berubah 180 derajat. Parahnya lagi, mereka berani-beraninya menduakan Tuhan dengan ikut-ikutan menyembah dewa-dewa.

Maka melalui Zefanya Tuhan memberi teguran keras. “Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN.” (Zefanya 2:1-2). Ini teguran sangat keras yang dijatuhkan kepada sebuah bangsa yang tidak kunjung mengerti untuk bersyukur. Walaupun sudah berulangkali mengalami kuasa Tuhan, begitu banyak mukjizat yang mereka saksikan langsung di depan mata, tetapi mereka masih juga menunjukkan perilaku tidak terpuji dalam berbagai hal. Kalaupun mereka beribadah, seringkali itu hanya seremonial atau rutinitas semata.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: