A Perfect Solitude to Connect with God (2)

(sambungan)Selanjutnya, mari kita lihat salah satu pernyataan dari Daud yang dicatat dalam kitab Mazmur. “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangu…

(sambungan)

Selanjutnya, mari kita lihat salah satu pernyataan dari Daud yang dicatat dalam kitab Mazmur. “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa.” (Mazmur 57:8-10). Daud tahu kesibukan akan segera datang di siang hari, maka ia mengambil waktu di waktu subuh untuk bermazmur dan memuji Tuhan. Daud memilih untuk membangun hubungan di pagi hari sebelum ia mulai beraktivitas sepanjang hari. Ia percaya bahwa itu bisa memberinya kekuatan dan tenaga dalam menjalani hari.

Alangkah baiknya jika kita bisa mengikuti gaya hidup Daud ini. Di pagi hari kita biasanya bisa lebih mudah mendapatkan saat-saat yang tenang dan sunyi ketimbang di siang hari ketika semua orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetapi mungkin tidak semua orang lebih suka memilih pagi, dan itu tidaklah masalah. Apa yang penting bagi kita adalah menyadari bahwa kita harus menyediakan waktu khusus untuk bersaat teduh, untuk berdiam di hadiratNya, merasakan kasihNya dan mendengar suaraNya serta berbagi cerita mengenai apa yang sedang kita alami atau rasakan. Mungkin anda merasa lebih suka melakukannya di siang hari, sore atau malam? Tidak apa-apa, selama anda bisa betul-betul fokus tanpa terganggu atau terpecah konsentrasi dari kesibukan di sekitar anda.

Contoh yang sama kita dapatkan dari Yesus sendiri. Kita tentu paham betul bagaimana sibuknya Yesus melayani ditengah kerumunan orang kemanapun Dia pergi. Begitu banyak orang berbondong-bondong mendatangiNya hampir setiap saat, bahkan ada yang hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya. Bagaimana dengan malam hari? Ternyata Yesus juga punya waktu-waktu sibuk di malam hari misalnya ketika Nikodemus menemuinya seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:1-21. Kita bisa melihat betapa dunia pada saat itu persis sama seperti sekarang. Ada begitu banyak orang yang  benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi pertolongan, kesembuhan, kelepasan dan sebagainya.

Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat Yesus terhubung dengan manusia dalam jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan jiwa, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yesus melayani sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Dia menjangkau semua orang tanpa terkecuali, tanpa peduli siapa ataupun apa latar belakangnya. Tapi lihatlah bahwa Yesus pun mencari waktu-waktu khusus untuk dipakai berdoa kepada Bapa.

Alkitab mencatat bahwa berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. “Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.” (Matius 14:13). Yesus tentu saja tidak mengabaikan mereka. Dikatakan, “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” (ay 14). Mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang belum termasuk wanita dan anak-anak juga merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia.

Contoh lainnya: “Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.” (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa jeda. Rakyat biasa, para rasul, pejabat, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan diasingkan seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah, keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya, dan lain-lain.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply