A Perfect Solitude to Connect with God (1)

 Ayat bacaan: Matius 6:6
==================
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Seandainya bisa memilih alias sedang tidak dihadapkan pada banyak deadline, saya lebih suka mengerjakan artikel-artikel tulisan termasuk renungan di malam hari. Mengapa demikian? Alasannya sederhana saja. Di malam hari gangguan yang bisa memecah konsentrasi lebih minim dibandingkan di siang atau sore hari. Tidak ada yang lalu lalang, tidak ada bunyi kendaraan, orang yang datang dan sebagainya, sehingga pekerjaan bisa lebih cepat dikerjakan. Seringkali inspirasi-inspirasi untuk menulis buyar karena konsentrasi tiba-tiba terpecah lewat banyak hal. Kalau itu sudah terjadi, biasanya saya butuh waktu lagi untuk kembali ‘nyetel’ sepenuhnya dengan apa yang tengah dikerjakan, dan itu membuat waktu pengerjaan bisa lebih panjang. Di malam hari ketika sudah sunyi konsentrasi tidak harus terbagi, dan saya bisa lancar menyelesaikan satu demi satu tulisan-tulisan sesuai deadline.

Ditengah kesibukan dan keramaian dunia, ada saat-saat dimana kita butuh jeda dari itu semua dan menikmati kesendirian. Kalau sudah terlalu sering berada di tempat ramai, bukankah kita merindukan suasana yang tenang dan sunyi, jauh dari hingar bingar dan keberadaan orang lain? Itu adalah hal yang semakin lama semakin sulit untuk bisa diperoleh, karena yang sering terjadi adalah agenda sudah menanti tepat begitu kita membuka mata bangun dari tidur. Dimana-mana selalu ada banyak orang dengan suaranya masing-masing, hiruk pikuk gerakan dan suara ada di semua sisi. There are times when we need to find a solitude out from all the crowds and hectic world, the part of stillness with ourselves, withdrawn from the crowds, taking up a moment to be alone, far from everyone else. Tidakkah itu yang seringkali kita butuhkan?

Hal seperti itu sesungguhnya penting, terutama dalam membangun hubungan yang berkualitas dengan Tuhan. Itu akan sulit dilakukan apabila kita terus berada dalam keramaian dan kesibukan sehari-hari. Dimana kita bisa memperoleh hal itu? Yesus mengatakan itu bisa kita peroleh di kamar kita. “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:6). Jesus saidour room actually can be a perfect solitude. Disanalah kita bisa benar-benar fokus tanpa terganggu oleh apapun. Hanya kita dengan Tuhan, just us and God alone. Itu waktu yang indah dimana kita bisa merenungkan kebaikanNya, mendengar apa kataNya kepada kita, dan berbicara dari hati ke hati tanpa harus terganggu atau terpecah konsentrasi dari hiruk pikuk yang biasa menyertai kita kemanapun kita berada. Menghadapi perjalanan kehidupan yang berat ini kita benar-benar butuh pegangan, dan di dalam kesunyian yang syahdu itu kita bisa mendapatkan pegangan lewat terbangunnya hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan.

Kembali kepada ayat dalam Matius 6:6 di atas, perhatikan bagian penutupnya. “…Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu.” Tuhan menghargai keseriusan kita dalam berhadapan denganNya. Dia bisa melihat apakah kita benar-benar fokus dengan sungguh-sungguh atau melakukannya sambil lalu saja. Salahkah jika kita berdoa atau terhubung dengan Tuhan saat sedang berada di tengah keramaian, atau misalnya sambil mengemudi? Tentu tidak. Kita bisa kapan saja berdoa dan berhubungan dengan Tuhan. Dia selalu membuka diri untuk itu. Tapi perhatikanlah bahwa Tuhan akan sangat menghargai jika dalam 24 jam ada waktu-waktu khusus yang kita dedikasikan kepadaNya, atas dasar kerinduan dan kasih kita kepadaNya.

Ambil contoh sederhana saja. Tidakkah anda lebih senang apabila orang yang berbicara dengan anda benar-benar fokus kepada anda? Dan sebaliknya, tidakkah anda kesal jika lawan bicara anda mendengar sambil lalu saja sembari mengutak-atik telepon genggamnya, sambil mengetik/menulis atau sambil melakukan hal-hal lainnya? Kalau kita tidak suka diperlakukan seperti itu, kenapa kita harus berbuat itu terhadap Tuhan? Maka dari ayat ini kita bisa jelas melihat bagaimana cara yang baik untuk menjalin hubungan yang erat dengan Tuhan. Dan Tuhan akan membalas kepada kita. Itu jelas dikatakan oleh ayat ini. Bukan untuk melarang kita berhubungan denganNya di waktu-waktu lain, tetapi untuk mengajarkan kita untuk menaruh hormat yang pantas dengan meluangkan waktu secara khusus untuk berdiam dalam persekutuan yang erat dan indah dengan Bapa.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply