90 Tahun WKRI, dari Altar ke Pasar (2)

wkri 3 okDISKUSI  panel sesi kedua menghadirkan ahli IT, ahli gereja, dan pengamat sosial. Richardus Eko Indrajit menjadi pembicara pertama. Ahli IT yang menjadi guru besar (profesor) dalam usia 40 tahun ini mengajak para anggota WKRI untuk memanfaatkan teknologi dalam keseharian dan karyanya. Ulasan Eko yang disajikan menarik, penuh rasa humor membuat suasana menjadi cair dan penuh […]

wkri 3 ok

DISKUSI  panel sesi kedua menghadirkan ahli IT, ahli gereja, dan pengamat sosial.

Richardus Eko Indrajit menjadi pembicara pertama. Ahli IT yang menjadi guru besar (profesor) dalam usia 40 tahun ini mengajak para anggota WKRI untuk memanfaatkan teknologi dalam keseharian dan karyanya. Ulasan Eko yang disajikan menarik, penuh rasa humor membuat suasana menjadi cair dan penuh tawa.

“Generasi sekarang beda sekali dengan generasi dulu. Dulu anak yang lahir disambut dua tangan oleh orangtuanya, sekarang satu tangan saja karena tangan lainnya sibuk meng-update status tentang kelahiran bayinya di media sosial,” ujar Eko memberi contoh perubahan kondisi karena kemajuan IT.

Romo Dr. G. Budi Subanar SJ yang khusus terbang dari Unika Sanata Dharma Yogyakarta untuk memaparkan refleksi ‘Signifikansi dan Relevansi WKRI bagi Gereja’ mengambil judul yang menarik ‘Sapikul Sagendongan’ (Satu Pikul, Satu Gendongan).

Sapikul sagendongan ini bukan sekedar ungkapan lokal Jawa tentang pembedaan jatah warisan antara perempuan dan laki-laki, tetapi beralas pada iman Katolik. Hal itu merupakan momen kelimpahan, pasca mukjizat dari lima roti dan dua ikan. “Setiap orang berusaha menyediakan dari keterbatasannya dari yang hanya cukup bahkan mungkin berkekurangan, serta memberikan kesempatan pada Allah untuk turut berkarya, setelah berusaha orang menikmati kelimpahannya,” demikian uraian doktor misiologi lulusan Universitas Gregoriana, Roma, ini.

Romo Banar mengajak siapa saja yang berminat terlibat untuk mengangkat secara sapikul sagendongan, agar masuk dalam WKRI yang telah berupaya terus menerus selama ini menghadirkan gereja di tengah masyarakat Indnesia untuk mengadakan transformasi.

Pembicara kedua datang dari latar belakang dunia media massa. Dikenal sebagai wartawan koran berbahasa Inggris yang bergengsi The Jakarta Post, kemudian analis sosial di berbagai media massa, Raymond Toruan berbicara tentang tema yang sama dengan Romo Banar. Raymond mengajak para peserta lokakarya untuk menapak kembali sejarah WKRI sampai relevansinya saat sekarang. (Baca juga: 90 Tahun WKRI: Dari Altar ke Pasar (1)

“Mari melihat visi dan misi WKRI dan pertanyakan relevansinya untuk kondisi sekarang,” antara lain ajakan Raymond yang mengikuti sejak lama kiprah WKRI.

Pertanyaan-pertanyaan menarik yang diajukan setelah setiap sesi menunjukkan semangat anggota WKRI tidak melulu di altar, tetapi juga aktif berkontribusi dalam perbaikan kondisi sosial kemasyarakatan di sekitarnya.

wkri 2 ok

Menelisik ke belakang: Tiga panelis yakni Raymond Toruan, Romo G. Budi Subanar SJ dan Richardus Eko Indrajit menjadi pembicara dalam seminar reflektif peran dan kiprah WKRI sepanjang 90 tahun. Namun, tema itu ditelisik dalam perspektif kekinian. Seminar ini berlangsung dalam rangka HUT ke-90 WKRI di Jakarta, 24-25 Oktober 2014. (Dok. Royani Lim/Sesawi.Net)

Karakteristik anggota WKRI
Kesadaran untuk menggunakan metode evidence-based policy sudah lama dimiliki WKRI. Riset data keanggotaan terus diupayakan untuk diperbarui walaupun kendala luasnya daerah cakupan dan terbatasnya kapabilitas pengurus dalam pendokumentasian membuat upaya tersebut belum mampu menunjukkan karakteristik populasi.

Namun dari jumlah partisipan yang cukup besar, bisa dibaca gambaran umum anggota WKRI saat ini. Berdasarkan riset 2009-2012 yang mengumpulkan data dari sekitar 50% jumlah anggota atau 4.362 orang, tampak bahwa masa keanggotaan terbesar adalah di atas tahun 2000. Hal ini menggembirakan karena menunjukkan naiknya jumlah perempuan yang masuk menjadi anggota WKRI di masa sekarang. Tantangannya adalah bagaimana mengalihkan roh WKRI ke para anggota junior ini.

Usia anggota terentang luas dari di atas 70 tahun (28%) sampai di bawah 50 tahun (30%) dengan jumlah terbanyak ada di rentang usia 50-69 (36%) . Walaupun kalau dikilas balik ke sejarah berdirinya WKRI, terlihat ‘kekalahan’ generasi sekarang.

Stereotype yang berkembang di kalangan muda tentang WKRI adalah ‘ibu-ibu yang rajin mengurusi gereja dan pastoran’, ‘seksi konsumsi yang andal’, ‘seksi acara yang rapi’, ‘mirip ibu-ibu pejabat dengan tatanan rambut sasaknya’. Maka ketika ditanya apakah mau bergabung, beberapa tertawa seakan dia belum cukup ‘tua’ , belum cukup ‘rapi’ untuk bergabung atau minatnya beda.

Tantangan ini tentunya disadari oleh WKRI, terbukti dengan banyaknya refleksi serta diskusi yang digencarkan untuk memantapkan orientasi WKRI ke depan. Hal ini jelas diamini oleh pimpinan WKRI saat ini seperti secara eksplisit disuarakan oleh Ketua Presidium dengan ajakan mengadakan Revolusi Mental seperti seruan Presiden baru, Jokowi dan seruan KWI yang telah bicara tentang habitus haru sejak 2004.

Dirgahayu WKRI, padamu kami berharap untuk Indonesia yang lebih baik.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply