90 Tahun WKRI: Dari Altar ke Pasar (1)

wkri 4 ok90 tahun. Angka yang sangat ‘tua’, kalau itu adalah usia manusia. Kalau masih sehat, dikatakan ‘umurnya sangat panjang’, kalau sakit-sakitan, tidak dilihat sebagai berkah tapi bisa jadi dirasa beban bagi sekelilingnya. Nah sebaliknya, untuk sebuah lembaga, 90 tahun menunjukkan ketangguhan bertahan dalam himpitan zaman yang terus berubah. Usia yang lebih dari umur NKRI ini termasuk […]

wkri 4 ok

90 tahun. Angka yang sangat ‘tua’, kalau itu adalah usia manusia. Kalau masih sehat, dikatakan ‘umurnya sangat panjang’, kalau sakit-sakitan, tidak dilihat sebagai berkah tapi bisa jadi dirasa beban bagi sekelilingnya.

Nah sebaliknya, untuk sebuah lembaga, 90 tahun menunjukkan ketangguhan bertahan dalam himpitan zaman yang terus berubah. Usia yang lebih dari umur NKRI ini termasuk luar biasa untuk bumi Indonesia. Tidak banyak organisasi yang masih hidup dan masih ‘segar’ mencapai usia hampir seabad ini. Apalagi organisasi katolik, lebih sedikit lagi. Maka tidaklah berlebihan pencapaian usia 90 tahun oleh WKRI disyukuri dan disanjung banyak pihak.

Anggota sebanyak 86.332 orang
WKRI, ormas katolik yang paling tua hidupnya; bukan hidup yang ngos-ngosan, sakit-sakitan atau pun kesusahan menyambung hidup dari satu hari ke hari esok. WKRI terlihat ‘wah’ dengan jumlah anggota mencapai 86.332 yang tersebar di 32 DPD, 1.230 cabang, 2.247 ranting di seluruh Indonesia. WKRI yang anggotanya semua perempuan ini, terlihat tetap kemayu dengan aura wanita dewasa usia 40-an yang matang, mandiri, dan berseri.

Tak heran, banyak ‘kumbang’ yang mendekati untuk mendapatkan percikan pengaruh organisasi awam katolik terbesar ini.

Layaknya sebuah institusi katolik yang saleh, usia panjang ini dihayati bukan dengan pesta pora tetapi dengan refleksi. Maka pada 24-25 Oktober 2014, di Jakarta diadakan Lokakarya Nasional WKRI yang diikuti wakil pengurus dari seluruh Indonesia.

“Kami perlu membaca tanda-tanda zaman dengan mendapatkan masukan dari berbagai pihak dalam rangka merumuskan orientasi pemantapan pelayanan karya WKRI ke depan,” jelas Justina Rostiawati, Ketua Presidium WKRI periode 2014-2018, kepada Sesawi.Net.

Visi WKRI
Banyak hal bisa dikupas dari visi mulia WKRI: ‘Organisasi yang mandiri, bersifat sosial aktif, memiliki kekuatan moral dan kemampuan yang andal dalam menjalankan karya-karya pengabdian mewujudkan kesejahteraan bersama serta menegakkan harkat dan martabat manusia’.

Menarik menyimak kembali sejarah panjang WKRI. Organisasi ini berawal dari Poesara Wanita Katholiek yang didirikan oleh Maria Soelastri dkk pada tanggal 26 Juni 1924 di Yogyakarta dengan misi memperjuangan martabat buruh perempuan saat itu. Bukan suatu kelompok ‘ibu-ibu pejabat’ atau ‘ibu-ibu pengurus gereja’ yang bergerak di seputar altar dengan fokus terbatas pada keluarga dan pastoran.

wkri 2 ok

Seminar refleksi: Menilik ke belakang 90 tahun eksistensi WKRI, tiga panelis duduk mendiskusikan kiprah WKRI dalam perspektif kekinian. Dari kiri ke kanan adalah Raymond Toruan, Romo G. Budi Subanar SJ, Della (WKRI/moderator), dan Eko Indrajit. (Dok. Royani Lim/Sesawi.Net)

 

Lebih menarik lagi ketika dijelaskan oleh salah satu narasumber, Raymond Toruan yang didapuk mengulas topik berat ‘Signifikansi dan Relevansi WKRI dalam Perkembangan Sosial-Politik-Ekonomi di Indonesia’.

Waktu itu, Maria Soelastri baru berumur 26 tahun, ketika mendirikan Poesara Wanita Katholiek, cikal bakal WKRI tsb. Nah, berapa usia rata-rata anggota WKRI sekarang ini?

Topik beragam
Dari latar belakang narasumber lokakarya nasional tersebut dengan topik keahlian masing-masing yang beragam, terlihat WKRI tidak ‘antik’, pemikirannya maju dan sesuai zaman.

Lokakarya ini menggunakan model diskusi panel dalam dua sesi, dengan tiga pakar setiap sesinya.

wkri 4 ok

Seminar refleksi 90 Tahun WKRI di Jakarta, 24-25 Oktober 2014 (Dok. Royani Lim/Sesawi.Net)

Pembicara pertama sesi awal adalah pakar gerakan perempuan di Indonesia, Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, dosen pascasarjana UI, ahli jender yang baru-baru ini mendapat penghargaan ilmuwan 2014 dari Kompas. Sulistyowati mengangkat tema ‘perkembangan gerakan perempuan dalam konteks perkembangan situasi sosial-politik di Indonesia’.

Sulistyowati memaparkan sejarah pergerakan perempuan di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, yang sayangnya sedikit sekali tercatat dalam sejarah resmi negara. “Karena penulisan sejarah yang androcentric – sejarah ditulis oleh laki-laki, tidak memperhitungkan pengalaman dan keikutsertaan perempuan yang begitu beragam dalam peristiwa sejarah,” kritiknya.

Sulistyowati melemparkan tantangan kepada peserta lokakarya untuk berbuat nyata bagi kemiskinan masif, terutama miskin dari keadilan. “Hendaknya perayaan Hari Ibu tidak lagi dengan lomba kebaya, karena itu sama sekali bukan makna sejati sejarahnya. Hari Ibu adalah peringatan Kongres Perempuan pertama di Indonesia yang mengangkat martabat perempuan dalam aspek sosial ekonomi,” demikian pesan ahli jender yang energik ini.

Pembicara kedua, KH Husein Muhammad diperkenalkan oleh moderator sebagai ‘kyai feminis’. KH Husein Muhammad sejak dulu bicara lantang tentang kesetaraan dan keadilan terhadap martabat perempuan. Paparan kyai yang pandai merangkai puisi-puisi ini memperluas wawasan ibu-ibu WKRI akan toleransi yang nyata di Indonesia.

Sebagai pembicara ketiga adalah pengamat militer, Jaleswari Pramodhawardani yang akrab disapa Mba Dani. Sebagai perempuan muda yang mengakrabi dunia militer, Mba Dani terlihat unik di tengah dunia yang lebih dianggap laki-laki tersebut.

Dani mengapresiasi usia panjang WKRI dan kagum dengan paparan kekuatan WKRI sebagai ormas yang bertahan dan eksis dengan gagah di segala zaman. “Kekuatan anggota dan organisasi ini merupakan modal berharga untuk bersama bergerak menuju Indonesia yang lebih baik,” demikian ajakan Dani yang dilontarkan beberapa kali selama pemaparannya tentang ‘Konsep Human Security bagi Indonesia Masa Depan – Indonesia sejahtera yang berkeadilan’.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply