8 Sept – Rm 8:28-30; Mat 1:1-6.18-23

“Anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki”

(Rm 8:28-30; Mat 1:1-6.18-23)

 

“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" — yang berarti: Allah menyertai kita.”(Mat 1:18-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta kelahiran SP Maria hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kelahiran seorang anak merupakan kegembiraan atau kebahagiaan luar biasa bagi kita semua, khususnya bagi orangtua atau bapak-ibu dari anak yang bersangkutan, tentu saja jika kita sungguh beriman. Anak adalah anugerah Tuhan, anak yang baru saja dilahirkan suci dan bersih adanya, maka kelahiran seorang anak boleh dikatakan sebagai penyertaan dan kehadiran Tuhan khususnya dalam keluarga yang bersangkutan dan masyarakat pada umumnya, “Allah menyertai kita”. Anak-anak memang lebih suci daripada orangtuanya atau orang-orang dewasa, maka baiklah dalam rangka mengenangkan kelahiran SP Maria hari ini, kami mengajak anda sekalian untuk mengenangkan kelahiran kita masing-masing serta memperhatikan anak-anak sebagai anugerah Tuhan dengan baik. Kelahiran atau kedatangan kita masing-masing di bumi ini juga merupakan kepanjangan kehadiran Tuhan, maka hendaknya kita senantiasa berusaha menjadi pribadi yang menarik, memikat dan mempesona, bagaikan seorang anak yang baru saja dilahirkan. Marilah kita tunjukkan ketampanan atau kecantikan kita lebih dalam hati dan jiwa bukan dalam tubuh, artinya kita menjadi pribadi yang menarik, memikat dan mempesona karena kita adalah orang baik, berbudi pekerti luhur. Kami juga mengharapkan kita semua untuk memperhatikan anak-anak secara memadai, karena mereka adalah masa depan kita. Anak-anak atau mereka yang lebih muda dari kita harus lebih baik daripada kita ketika mereka dewasa, jika mereka kelak tidak lebih baik daripada kita berarti kita sebagai orangtua, kakak, pendidik/guru dst..tidak memperhatikan anak-anak secara memadai. Marilah ‘Allah menyertai kita’  kita hayati dengan menghadirkan diri sebagai penyalur berkat atau rahmat Allah bagi sesama kita.

·   “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman.. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan”, itulah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Apa yang baik, indah, luhur dan mulia adalah berasal dari Allah, karya Allah dalam ciptaan-ciptaanNya. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah baik adanya, maka jika ada yang  tidak baik kiranya bukan berasal dari Allah, melainkan dari manusia yang kurang atau tidak beriman. Allah hidup dan berkarya di dalam diri kita masing-masing untuk mendatangkan kebaikan, maka beriman kepada Allah berarti senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, ciptaan-ciptaan Allah lainnya maupun lingkungan hidup kita. Karena masing-masing dari kita dipanggil untuk berbuat baik, maka kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun senantiasa diwarnai dengan saling berbuat baik, sehingga kebersamaan hidup sungguh menarik, memikat, mempesona dan siapapun yang ada didalamnya hidup damai sejahtera, tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cerdas beriman. Kami berharap keluarga-keluarga atau komunitas-komunitas kita masing-masing menarik, memikat dan mempesona bagi siapapun yang melihat atau mampir di keluarga atau komunitas kita. Masing-masing dari kita adalah ‘bait Allah’, maka hendaknya kita saling bersembah-sujud dengan rendah hati, dan semoga tidak ada di antara kita yang melecehkan atau merendahkan sesamanya. Rencana Allah bagi kita semua adalah kita hidup bahagia, damai sejahtera lahir maupun batin, jasmani maupun rohani.

 

“Kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (Mzm 13:6)

 

Jakarta, 8 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: