7Nov

“Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi muridKu.”
(Flp 2:12-18; Luk 14:25-35)

“Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Luk 14:25-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mengikuti Yesus atau menjadi murid/pengikut Yesus memang harus secara total mengikutiNya tanpa syarat, sebagaimana Ia sabdakan bahwa “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”. Milik atau diri kita yang paling berharga adalah cita-cita, harapan atau dambaan, maka marilah kita lepaskan cita-cita, harapan atau dambaan pribadi kita serta kemudian memeluk dan menghayati cita-cita, harapan atau dambaan Yesus, yaitu menjadi ‘garam’ dalam kehidupan bersama dimana pun dan kapan pun. Menjadi ‘garam’ antara lain berarti cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa membuat lingkungan hidup dan kerja kita enak adanya, semakin memikat, mempesona dan menarik bagi siapapun untuk semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Tentu saja untuk itu kita harus senantiasa hidup dan bertindak sesuai kehendak Tuhan, yang secara konkret kiranya dapat kita lakukan dengan menghayati janji-janji yang pernah kita ikrarkan. Maka sebagai orang yang telah dibaptis marilah kita hayati sepenuhnya janji baptis, yaitu ‘hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak aneka godaan setan’. Godaan setan yang paling sulit dihindari atau dilawan ada di dalam diri kita masing-masing, yaitu berupa nafsu pribadi yang dapat berkembang menjadi kemalasan, gairah makan dan minum maupun tidur tanpa teratur serta gairah seks. Marilah kita kuasai godaan yang ada di dalam diri kita, karena dengan demikian kita juga akan mampu melawan godaan-godaan yang mendatangi kita.
·   “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,” (Flp 2:12-14). “Bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” kiranya merupakan godaan yang ada di dalam diri kita yang sangat sulit untuk dilawan atau dikalahkan. Ketika ada sesuatu yang tidak berkenan atau tidak sesuai dengan selera pribadi ada kecenderungan dalam diri kita untuk bersungut-sungut, menggerutu atau mengeluh. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: ketika harus menghadapi masalah, pekerjaan atau tugas sulit dan berat sebagai konsekwensi penghayatan iman atau tugas pengutusan serta panggilan, hendaknya hadapi dan nikmati saja dengan gembira dan gairah, tanpa bersungut-sungut, karena dengan demikian kita pasti akan mampu melakukannya. Marilah kita meneladan Yesus yang harus menderita, difitnah, dianiaya dst.. namun tidak mengeluh, menggerutu atau bersungut-sungut, bahkan di puncak penderitaanNya Ia mendoakan mereka yang membuatNya menderita atau yang menganiayaNya. Jika kita sungguh beriman, marilah kita hayati bahwa Allah-lah yang akan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, maka segala sesuatu dapat dikerjakan atau diselesaikan dalam dan bersama dengan Allah. Bukankah beriman berarti membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dengan demikian Allah hidup dan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh?
“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
 (Mzm 27:13-14)
Ign 7 November 2012
 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: