7 Okt

“Bagi Allah tidak ada yang mustahil."

(Kis 1:12-14; Luk 1:26-38)


” Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” (Luk 1:26-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria, Ratu Rosario, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sesuatu yang sungguh menarik dan mengesan bahwa ‘rosario’ dapat mengalahkan pasukan bersenjata dengan persenjataan modern seperti tank, panser, senapan otomatis dst. ; itulah yang terjadi dalam Revolusi Filipina beberapa tahun lalu, usaha rakyat dalam rangka menggulingkan presiden Marcos yang dictator. Para ibu, remaja putri dan biarawati dengan rosario di tangan menghadapi pasukan tentara bersenjata lengkap dan pasukan pun mundur teratur. “Bagi Allah tidak ada yang mustahil”, itulah kebenaran imani yang harus kita renungkan dan hayati dalam rangka mengenangkan SP Maria, Ratu Rosario hari ini. Doa Rosario merupakan pengulangan doa-doa utama atau pokok, yaitu Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan. Berdoa Rosario berarti berdevosi kepada SP Maria, meneladan semangat iman SP Maria, perawan suci, yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, antara lain ketika menerima panggilan Tuhan melalui malaikatNya ia menjawab “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Maka kami berharap kepada siapapun yang percaya kepada SP Maria untuk berdevosi kepadanya, entah dengan berdoa Rosario setiap hari atau sering ziarah ke tempat peziarahan SP Maria. Mungkin kita juga dapat mendoakan dengan sungguh-sungguh serta menghayati bagian dari doa Salam Maria ini, yaitu “Doakanlah kami orang yang berdosa ini sekarang sampai mati”.  Kita sadari dan hayati bahwa kita adalah orang-orang berdosa, lemah dan rapuh, yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, sehingga kita hidup dan berkarya senantiasa melaksanakan kehendak atau perintahNya.  

·   Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kis 1:13-14). Para murid Yesus ‘bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” dalam restu dan perlindungan SP Maria. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk ‘bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama’. Kami percaya bahwa ketika kita sedang berdoa bersama-sama memang kelihatan tekun dan khusuk, namun apakah kita yang sedang berdoa bersama-sama sungguh sehati kiranya boleh dipertanyakan. Kita dipanggil untuk sehati dan mungkin juga meneladan hati SP Maria yang suci dan tak bernoda. Dengan kata lain kami mengajak anda sekalian untuk bersama-sama dan bergotong-royong mengusahakan kesucian hati, saling membantu dan mengingatkan agar hati kita masing-masing senantiasa dalam keadaan suci dan tak bernoda. Memang sungguh suci dan tak bernoda secara sempurna mungkin jauh dari harapan kita, karena aneka tantangan, hambatan dan masalah yang membuat kita mudah jatuh ke dalam dosa. Namun demikian hendaknya ketika ‘terjatuh ke dalam dosa’ segera bangkit kembali, biarlah kita jatuh-bangun sehingga semakin tabah dan handal dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan.

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.” (Luk 1:46-50)

Ign 7 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: