7 Juni – 1Raj 17:1-6; Mat 5:1-12

“Berbahagialah orang yang suci hatinya”

(1Raj 17:1-6; Mat 5:1-12)

 

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Mat 5:1-12), demikian kutipan Warta Gembira  hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ajaran atau sabda bahagia Yesus sebagaimana kami kutipkan di atas ini merupakan garis besar haluan hidup beriman atau beragama, yang memang tak mungkin kita hayati sendirian dan sesaat saja. Masing-masing dari kita kiranya dapat memilih sabda bahagia mana yang sesuai dengan hidup, panggilan, tugas pengutusan dan lingkungan hidup kita. Perkenankan saya memilih “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”, sebagai permenungan kita bersama, dan mungkin juga sesuai dengan dambaan dan kerinduan kita semua. Suci berarti bersih, tiada cacat cela atau noda apapun, putih bersih bagaikan salju. Orang suci pada umumnya menarik, memikat, mempesona dan menggairahkan bagi orang lain, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Orang suci senantiasa lebih melihat dan menghayati karya Allah dalam seluruh ciptaanNya, lebih-lebih dalam diri sesama manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Anak atau bayi yang baru saja dilahirkan pada umumnya suci, menarik, mempesona dan menggairahkan, dengan kata lain anak-anak lebih suci daripada orangtuanya, generasi muda lebih suci daripada generasi tua, maka kami berharap kepada kita semua untuk bersembah sujud pada anak-anak alias membaktikan hidup sepenuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak. Sikap terhadap anak-anak tidak lain adalah mengasihi: mendekati dan menyapa atau memperlakukan anak-anak tanpa kasih pasti gagal. Marilah kita hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain, agar kita boleh hidup suci dan saling melihat Allah yang hidup dan berkarya di dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana” (1Raj 17:3-4), demikian firman Tuhan kepada Ahab. Ahab pun melaksanakan firman Tuhan tersebut dan apa yang difirmankan oleh Tuhan terlaksana. Orang suci adalah orang yang melaksanakan firman atau sabda Tuhan setiap hari dalam kesibukan atau pelayanan apapun dan dimanapun. Maka orang suci dimanapun dan kapanpun senantiasa dengan rendah hati mendengarkan firman Tuhan, yang disampaikan antara lain melalui sesama beriman atau mereka yang berkehendak baik. Kami percaya babwa di dunia ini atau di masyarakat kita orang yang berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat, demikian juga kehendak baik dalam diri seseorang lebih banyak daripada kehendak jahatnya. Sikapi dan perlakukan orang lain dalam kasih yang rendah hati; dengan sentuhan kasih yang rendah hati siapapun pasti akan terkesan dan terharu. Ahab dapat minum dan diharapkan minum air sungai Yordan agar hidup dan selamat. Air Yordan adalah symbol air pembaptisan, maka baiklah firman Tuhan kepada Ahab untuk minum air Yordan kita hayati sebagai firman Tuhan kepada kita untuk mengusahakan kelegaan dari rahmat baptisan atau janji baptis, yaitu ‘hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan’. Jika kita mendambakan hidup bahagia, selamat, damai sejahtera, hendaknya kita setia pada janji baptis tersebut, senantiasa mengabdi Tuhan yang hidup dan berkarya dalam diri saudara-saudari kita serta menolak aneka rayuan dan godaan setan yang menggejala dalam aneka tawaran kenikmatan duniawi.

 

“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap” (Mzm 121:1-3).

. Jakarta, 7 Juni 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: