6 Okt

“Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya”
(Mal 3:13-4:2a; Luk 11:5-13)

” Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada
tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya:
Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang
sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak
mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di
dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah
tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun
dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia
tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah
sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun
juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu
Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah,
maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang
mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu
dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari
padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau,
jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika
kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu,
apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada
mereka yang meminta kepada-Nya." (Luk 11:5-13), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•        Sabda hari ini kiranya mengajak atau mengingatkan kita semua untuk
berrefleksi perihal relasi kita sebagai umat beriman atau beragama
dengan Allah, yang antara lain kita wujudkan dalam doa-doa kita. Saya
percaya bahwa anda semua sering  berdoa kepada Allah, yang pada
umumnya berisi permohonan-permohonan sesuai dengan keinginan atau
dambaan anda maupun permintaan dari orang lain. Hendaknya senantiasa
mohon karunia Roh Kudus agar dianugerahi keutamaan-keutamaan yang
sungguh kita butuhkan dalam hidup dan kerja kita seperti ” kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Percayalah, imanilah
jika kita mohon keutamaan-keutamaan tersebut pasti akan dikabulkan,
tentu saja pengabulan tersebut butuh kerjasama kita, artinya berusaha
mewujudkan keutamaan-keutamaan tersebut dalam hidup dan kerja kita
sehari-hari. Keutamaan yang mungkin baik baik kita mohon dan hayati
pada masa kini antara lain kesabaran, kesetiaan dan penguasaan diri.
Ketiga keutamaan ini hemat saya saling berhubungan atau terkait satu
sama lain, dan penguasaan diri merupakan dasarnya, karena jika orang
dapat menguasai diri pada umumnya juga sabar dan setia. Menguasai diri
memang sulit; orang yang dapat menguasai diri antara lain berarti
dengan rendah hati mendengarkan dan mencecap dalam-dalam aneka
informasi, nasihat, saran, kata-kata dari orang lain, sebagaimana
dihayati oleh Bunda Maria, teladan orang beriman. Menguasai diri
secara konkret dapat kita lakukan dengan mengendalikan nafsu pribadi,
cara berkata dan bertindak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kehendak Allah serta tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Orang dapat menguasai diri juga tidak mudah marah, mengeluh atau
menggerutu serta dapat menikmati segala sesuatu dengan enak.
•       “Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan
TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan
ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi
orang-orang yang menghormati nama-Nya.” (Mal 3:16). Yang dimaksud
‘orang-orang yang takut akan Tuhan’ adalah orang-orang yang sungguh
beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dengan
terbuka, apa adanya, ia mempersembahkan diri kepada Tuhan, dan dengan
penuh kepercayaan ia berdoa kepada Tuhan, sehingga Tuhan memperhatikan
dan mendengarkannya. Terbuka kepada Tuhan hemat agjuga harus terbuka
terhadap sesamanya, maka dengan ini kami mengajak kita semua umat
beriman untuk saling terbuka satu sama lain, tentu saja tidak secara
phisik, yang berarti telanjang satu sama lain, melainkan secara
spiritual, yaitu dengan rela berani mengungkapkan apa yang sedang
dipikirkan maupun dirasakan bagi sesamanya, apalagi apa yang
dipikirkan atarau dirasakan menjadi beban hidup. Mereka menutup diri
perihal apa yang dipikirkan atau dirasakan kiranya juga dengan mudah
yang bersangkutan untuk marah, mengeluh atau menggerutu. Jika anda
merasa sulit atau berat membuka diri terhadap orang lain, maka baiklah
membuka diri terlebih dahulu kepada Tuhan, sehingga bersama dan
bersatu  dengan Tuhan kita tak akan takut atau was-was untuk membuka
diri terhadap sesama. Semoga pengalaman para suami-isteri yang saling
terbuka satu sama lain terus diperkembangkan dan disebarluaskan bagi
saudara-saudarinya dalam hidup sehari-hari.
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam
kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan
yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang
ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
(Mzm 1:1-3)

Ign 6 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: