6 Nov – Flp 4:10-19; Luk 16:9-15

“Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara besar”

(Flp 4:10-19; Luk 16:9-15)

 

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Sing kathon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora kathon” = “Yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan”, demikian salah satu kalimat atau nasihat dari bapak saya almarhum ketika saya masih kecil dan belum bersekolah, kepada kami anak-anaknya. Kata-kata tersebut sangat mengesan bagi saya pribadi sampai kini. Salah satu yang kelihatan dan disukai banyak orang pada masa kini antara lain ‘uang’, yang memang dapat menjadi ‘jalan ke neraka’ atau ‘jalan ke sorga’, jalan ke neraka jika orang tidak jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang dan jalan ke sorga jika orang jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang dalam jumlah nominal berapapun. Selain itu kami berharap juga untuk menghayati atau memfungsikan harta benda atau uang sebagai sarana bukan tujuan, sarana untuk semakin beriman dan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Secara khusus kami berseru kepada para pengurus atau pengelola karya-karya pastoral Gerejani seperti karya sosial, pendidikan dan kesehatan, yang juga tak terlepas dari urusan atau pengelolaan harta benda atau uang. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam harta benda atau uang dalam karya-karya sebagai anugerah Tuhan yang kita terima dari mereka yang memperhatikan karya kita atau kita layani, maka hendaknya harta benda atau uang tersebut ‘dikembalikan’ arti difungsikan bagi mereka agar semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Uang dari rakyat/umat hendaknya kembalikan ke rakyat/umat melalui aneka pelayanan bagi rakyat/umat


·   “Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:12-13), demikian kesaksian iman Paulus. “Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku” inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Tentu saja hal ini pertama-tama dan terutama kita hayati dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing: hendaknya tidak ada rahasia di antara anggota keluarga atau komunitas. Mungkin pertama dan terutama hendaknya tidak ada rahasia dalam hal keuangan atau harta benda. Kami percaya jika dalam hal harta benda atau uang tidak ada rahasia alias jujur dan transparan, maka akan memperoleh kemudahan untuk saling tukat pengalaman dalam hal iman atau pengalaman hidup sehari-hari alias ‘bercurhat’ satu sama lain. Dalam hal ini saya pribadi sungguh terkesan dengan apa yang dihayati oleh Bapak Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr alm dalam pengelolaan atau pengurusan uang selama  Yang Mulia bertugas sebagai pastor paroki Banyumanik – Semarang Selatan, setelah berhenti sebagai uskup. Segala pengeluaran dan pemasukan uang berapa pun jumlahnya dicatat dalam buku jurnal setiap hari, kurang lebih selama sembilan tahun lamanya (hal itu terlihat dalam buku jurnal yang saya temukan ketika saya harus mengurus peninggalan alm yang berada di kamarnya). Ia yang besar ternyata setia juga terhadap yang kecil-kecil, itulah pelajaran yang saya peroleh. Tiada rahasia dalam hal keuangan yang diterima dari umat Allah.. Semoga antar suami-isteri di dalam keluarga tidak ada rahasia dalam hal uang atau harta benda dan bersama-sama mendidik dan mendampingi anak-anak untuk jujur dalam pemanfaatan, pengurusan atau pengelolaan aneka jenis harta benda atau uang.

 

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.” (Mzm  112:1-2)

 

Jakarta, 6 November 2010         

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: