6 Juni

“Ia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup”

(2Tim 1:1-3.6-12; Mrk 12:18-27)

“Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!" (Mrk 12:18-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang beriman diharapkan senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh imannya, mengikuti kehendak Allah atau Penyelenggaraan Ilahi. Namun rasanya kebanyakan orang masa kini bagaikan orang-orang Saduki yang tidak percaya kepada kebangkitan, yang berarti hanya percaya kepada apa yang dapat dilihat oleh mata jasmani ini saja, tak mampu melihat segala sesuatu dengan mata hati. Kita semua dapat hidup dan bertindak sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena Allah, yang senantiasa setia mendampingi dan menyertai kita terus-menerus, maka marilah kita hayati pendampingan dan penyertaan Allah ini, sehingga kita tidak hanya mengandalkan kekuatan tenaga manusia dan percaya pada pada yang dapat dilihat dengan mata fisik saja. Pendampingan dan penyertaan Allah atau karya Allah antara lain kelihatan dalam aneka perkembangan dan pertumbuhan ciptaan-ciptaanNya di bumi ini, dalam diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Lihatlah dengan teliti dan cermat keindahan alam yang dihiasi oleh aneka jenis tanaman, nikmatilah gerak-langkah aneka binatang yang lucu, dan tentu saja imani aneka perubahan ke arah yang baik dalam diri saudara-saudari kita!. Marilah kita imani bahwa hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai pada saat ini adalah anugerah Allah, bukan semata-mata hasil usaha atau kerja keras kita. Marilah kita imani bahwa kegairahan dan kegembiraan kita merupakan karya Allah, dan dengan demikian kita tidak akan bertanya-tanya atau khawatir akan apa yang terjadi setelah meninggal dunia atau dipanggil Allah, hidup di akhirat atau alam baka nanti.

·   Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah” (2Tim 1:6-8), demikian kutipan surat Paulus kepada Timoteus. “Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” itulah yang dianugerahkan kepada kita semua umat beriman. Marilah kita imani dan hayati anugerah Roh ini dengan hidup dan bertindak saling mengasihi dan tertib, teratur. Tertib dan teratur dalam  cara hidup dan cara bertindak hemat kami sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak hidup dan bertindak dengan tertib dan teratur, melainkan seenaknya sendiri, semau-gue, ‘sak penake wudhele dewe’. Aturan dan tata tertib ada dimana-mana. Aturan dan tata tertib hemat saya memiliki maksud dan tujuan untuk memfungsikan sesuatu dengan benar dan baik, misalnya kapel/gereja/masjid dst.. adalah tempat doa, maka hanya dipergunakan untuk kegiataan yang menunjang hidup doa, sampah tempatnya adalah di tempat sampah, maka jika berserakan di jalanan berarti tidak benar, dst.. Hidup tertib dan teratur hemat saya juga merupakan salah satu wujud panggilan untuk saling mengasihi, karena dengan hidup dan bertindak tertib dan teratur berarti kita peduli pada orang lain. Marilah kita tingkatkan dan perdalam kepedulian kita kepada siapapun juga dalam hidup kita sehari-hari.

“Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. Yerusalem, gunung-gunung sekelilingnya; demikianlah TUHAN sekeliling umat-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya.” (Mzm 125:1-2)

Ign 6 Juni 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: