6 Feb

“Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi”

(2Mak 7:1a.20-23.27-29; Luk 12:4-9)

” Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah” (Luk 12:4-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Paulus Miki, imam, dan kawan-kawannya, martir hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Martir adalah orang yang sungguh bersaksi tentang imanya serta tidak takut karena imannya harus menghadapi aneka macam bentuk ancaman, intimidasi maupun terror sampai harus mati dibunuh. Maka dalam rangka mengenangkan pesta St. Paulus Miki dan kawan-kawannya hari ini saya mengajak dan mengingatkan anda sekalian, segenap umat beriman, untuk menghayati rahmat kemartiran dengan menjadi saksi iman di dalam hidup sehari-hari. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi…Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka”, demikian sabda Yesus. Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana, maka apapun yang kita lakukan dan katakan diketahui sepenuhnya oleh Tuhan. Hal ini juga berarti Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita, maka hendaknya jangan takut untuk melaksanakan atau mengerjakan tugas dan kewajiban seberat apapun, yang sarat dengan tantangan, hambatan dan masalah, karena bersama dan bersatu dengan Tuhan kita dapat mengatasinya. Paulus Miki dan kawan-kawanya ini mati disalibkan di atas sebuah bukit, sebagaimana juga terjadi dalam Yesus, Sahabat dan Penyelamatnya. Pengorbanan mereka telah menyemangati umat lainnya, dan mereka pun bersyukur dan berterima kasih menjelang kematian mereka karena boleh meneladan Yesus, Sahabat dan Penyelamat mereka. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang merasa menjadi sahabat Yesus untuk siap sedia mati demi iman atau dengan rendah hati berani menegor dan mengingatkan para koruptor di negeri tercinta ini.

·   "Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandungku. Bukan akulah yang memberi kepadamu nafas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing! Melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasihan-Nya Tuhan akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kamu, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya.” (2Mak 7:22-23), demikian kata seorang ibu seraya menyaksikan tujuh anaknya dihukum mati karena imannya kepada Tuhan. Anak-anak adalah anugerah Tuhan, maka selayaknya dididik dan dibesarkan dalam dan bersama Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam semangat cintakasih dan kebebasan itulah prinsip mendidik yang benar, karena anak-anak pun juga diciptakan oleh Tuhan dalam cintakasih dan kebebasan yang menghidupi suami dan isteri, laki-laki yang saling mengasihi dalam cintakasih dan kebebasan. Jika kita mendidik anak-anak dalam cintakasih dan kebebasan, kami percaya mereka akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang sungguh beriman, membaktikan dan mengandalkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga tidak takut akan aneka tantangan, masalah dan hambatan maupun ancaman dibunuh karena imannya. Kami berharap juga kepada orangtua, khususnya para ibu, untuk meneladan ibu dari tujuh anak tersebut di atas. Hendaknya juga tidak menghalang-halangi jika anak-anak tergerak untuk membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan menjadi imam, bruder atau suster. Sebagai orangtua kami berharap memiliki motto atau prinsip bahwa kebahagiaan sejati terjadi ketika anak-anak tumbuh berkembang sebagai orang yang sungguh beriman dan berbahagia dalam menggeluti jalan hidup atau panggilannya apapun, tentu saja yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan jiwa manusia.

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"Biarlah kaum Harun berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mzm 118:1-6)

Ign 6 Februari 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply