50 Tahun Komunitas Sant’Egidio: Orang Miskin adalah ‘Harta’ Sant’Egidio

Suasana perayaan HUT ke-50 Komunitas Sant’Egidio di Roma. (Leonardo Agung)

BULAN-bulan ini Roma sedang musim dingin. Hampir setiap hari turun hujan. Perayaan ulang tahun ke-50 Komunitas Sant’Egidio yang dipusatkan di Basilika Santa Maria, Trastevere, Roma, Minggu (11/3) ini juga diwarnai hujan. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat lebih dari 7.000 orang memenuhi basilika dan lapangan di luar basilika.


Semangat mereka semakin dikobarkan dengan sambutan Paus Fransiskus.

Hujan deras tak menghalangi Paus datang. Menyambut kedatangan Paus.

Paus Fransiskus meneguhkan identitas dan misi komunitas Sant’Egidio sebagai komunitas “3P” (preghiera povery pace). “Doa, kemiskinan dan perdamaian: inilah talenta Komunitas Sant’Egidio, yang telah matang lebih dari 50 tahun. Kalian dengan sukacita menerimanya lagi hari ini,” tegas Paus Fransiskus.


Paus Fransiskus juga minta Komunitas Sant’Egidio tetap terus mengemban misinya kemanusiaan dengan sekolah perdamaiannya.


Paus berpidato.

“Teruslah berdiri di samping anak-anak pinggiran, bersama Sekolah-sekolah Perdamaian yang telah saya kunjungi; teruslah berada di samping para lansia: kadang-kadang mereka tercampakkan, tetapi bagi kalian mereka adalah sahabat. Teruslah membuka koridor-koridor kemanusiaan baru untuk para pengungsi perang dan kelaparan. Orang miskin adalah harta kalian,” begitu kata Paus.


Komunitas Sant’Egidio adalah komunitas awam Katolik yang didirikan oleh Andrea Riccardi dan diakui secara resmi oleh Tahta Suci Vatikan. Komunitas ini lahir pada 7 Februari 1968 di Roma dan sampai saat ini sudah berkembang lebih di 70 negara yang tersebar di Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia, termasuk di Indonesia.


Dalam Komunitas ini orang diajak untuk membangun jembatan cinta kasih tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Komunitas juga mengajak untuk menghidupi Injil bersama dengan orang-orang lemah seperti orang miskin, anak terlantar, lansia, korban perang, gelandangan, orang sakit, penderita kusta dan AIDS juga terhadap bentuk kemiskinan lainnya.


Tanggungjawab masa depan


Paus Fransiskus memuji dan mengapresiasi kehadiran dan komitmen pelayanan Komunitas Sant’Egidio bagi Gereja dan dunia sejak 50 tahun ini. Komunitas ini ikut mengemban tanggungjawab masa depan dunia ini. “Kalian tidak ingin membuat hari ini hanya sekedar perayaan masa lalu, tetapi terutama ungkapan tanggungjawab akan masa depan yang penuh sukacita,” ungkap Bapa Suci.


Bapa Suci juga meneguhkan pelayanan komunitas ini dengan sabda Tuhan Yesus tentang perumpamaan talenta. “Hal ini mengingatkan kita pada perumpamaan Injil tentang talenta, yang menceritakan tentang seorang yang ‘mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka’ (Mat 25:14). Kepada kalian masing-masing, juga, berapa pun usia kalian, setidaknya diberikan satu talenta,” tutur Paus Fransiskus.


Banyak hadirin berpartisipasi menghadiri perayaan HUT ke-50 Komunitas Sant’Egidio.

“Ketika berjalan di jalan ini, kalian membantu belas kasih tumbuh di hati masyarakat –yang merupakan revolusi sejati, revolusi belas kasih dan kelembutan– untuk menumbuhkan persahabatan menggantikan hantu permusuhan dan ketidakpedulian,” demikian kata Paus.


Paus Fransiskus juga mengungkapkan bahwa dunia saat ini sering dihuni oleh rasa takut. Ketakutan adalah penyakit kuno. Pada zaman modern ini orang ternyata mengalami ketakutan besar karena menghadapi dimensi globalisasi yang luas. Dan rasa takut sering berbalik melawan orang-orang asing, berlainan, miskin, seolah-olah mereka adalah musuh.


Suasana ketakutan dapat juga menjangkiti juga umat kristiani yang menyembunyikan karunia yang mereka terima. Itu seperti hamba dalam perumpamaan yang tidak mengembangkannya di masa depan.  Mereka tidak membagikannya dengan orang lain, tapimenyimpannya untuk diri sendiri.


Mencintai Kitab Suci


Dalam menghadapi rasa takut itu, Paus Fransiskus mengajak untuk menjadikan Sabda Allah sebagai penuntun dan pelita. Diuraikannya demikian: “Sabda Allah telah melindungi kalian di masa lalu dari godaan-godaan ideologi, dan hari ini Sabda tersebut membebaskan kalian dari intimidasi rasa takut. Karena alasan ini, saya menasehati kalian untuk mencintai Alkitab dan menghabiskan lebih banyak waktu untuknya.”


Bapa Suci menambahkan: “Setiap orang akan menemukan di dalamnya sumber kerahiman bagi orang miskin, dan bagi mereka yang terluka oleh kehidupan dan peperangan. Sabda Allah adalah pelita yang dengannya kita melihat masa depan, bahkan masa depan Komunitas ini. Dalam terang-Nya, kita bisa membaca tanda-tanda zaman.”


Hadir dalam acara itu pendiri komunitas Profesor Andrea Riccardi dan Presiden Komunitas Profesor Marco Impagliazzo. Menurut Leonardo Agung, salah satu pengurus komunitas Sant’Egidio, acara puncak perayaan ultah ke-50, juga diisi dengan kesaksian dari tiga orang, yaitu seorang lansia, seorang anak pengungsi dari Suriah, dan seorang anak pemuda Damai dari Sant’Egidio.


Sekedar informasi, Komunitas Sant’Egidio berdiri di Indonesia pada tahun 1991 di Kota Padang. Kemudian Komunitas ini mulai menyebar di berbagai kota di Indonesia. Dan saat ini sudah berkembang di 15 kota, seperti di Nias, Aceh, Padang, Pekanbaru, Duri, Medan, Jakarta, Bogor, Pontianak, Kupang, Atambua, Kefa, Denpasar, Semarang, dan Yogyakarta.


Kredit foto: Leonardo Agung dan Komunitas Sant’Egidio


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma; suka menulis dan mencintai Kerahiman Ilahi.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: