5 Cara Untuk Belajar Percaya Pada Tuhan

5 Cara Untuk Belajar Percaya Pada Tuhan Friesca Saputra Self Management, Faith and Spirituality

Masa depan, jodoh, diputusin pacar, orangtua, keluarga, kesehatan, pekerjaan, kehendak Tuhan, dan berbagai hal lain bisa menjadi kekhawatiran di dalam hidup kita. Kalau semua kekhawatiran dituliskan, akan menjadi daftar panjang yang tidak pernah selesai. Mengalami berbagai macam kekhawatiran bisa membuat kita begitu putus asa dan lumpuh. Ada keputusan-keputusan yang kita ambil karena rasa khawatir yang begitu besar, yang ketika dijalani malah menjadi beban tersendiri dalam hidup.


Orang beriman sering mengatakan kalau kepercayaan kepada Tuhan adalah lawan untuk rasa khawatir. Namun, kadang-kadang kita sulit mempercayai Tuhan karena berbagai macam faktor. Kalau kamu ingin sekali lagi belajar mempercayai Tuhan, berikut hal-hal yang bisa kamu lakukan:

1. Memperbaiki gambaran kita tentang Tuhan, dan melihat gambaran Tuhan tentang kita.

Gambaran kita tentang Tuhan bisa dibentuk dari berbagai macam faktor. Kalau sudah pernah berkali-kali mengalami peristiwa buruk dalam hidup, tidak jarang bagi kita untuk merasa kecewa dan marah pada Tuhan. Sebagai orang beriman, kita sering mendengar cerita atau kesaksian bahwa Tuhan itu baik, siap untuk menolong, tidak akan membiarkan kita tanpa jalan keluar, begitu berdoa pasti dikabulkan, dan sebagainya. Namun, kenyataan tersebut tampaknya tidak terjadi dalam hidup kita. Peristiwa buruk yang bertubi-tubi kemudian membuat kita kelelahan, karena segala macam usaha yang sudah kita coba untuk keluar dari situasi tersebut tetap tidak membuahkan hasil. Kita menunggu intervensi atau pertolongan dari tempat Yang Mahatinggi, tetapi nihil. “Dengan demikian, Tuhan pastilah tidak ada, karena Ia membiarkan semua yang buruk terjadi pada diri saya,” begitu pikir kita karena marah dan kecewa. Atau, “Tuhan menolong orang lain, tetapi tidak menolong saya.” Bisa jadi pemikiran lainnya, “Saya ini memang tidak layak diperhatikan oleh Tuhan karena begitu banyaknya dosa yang telah saya lakukan.”


Hubungan kita dengan orangtua, terutama ayah, juga bisa mempengaruhi gambaran kita tentang Tuhan sebagai Bapa. Kalau hubungan kita dengan orang tua kurang baik, kemungkinan kita juga sulit melihat Tuhan sebagai Bapa yang baik. Lain lagi, informasi yang kita dapatkan tentang Tuhan juga bisa berasal dari bahasa yang terlalu disederhanakan, sehingga gambaran Tuhan yang kita dapatkan menjadi tidak utuh: di titik yang satu, Tuhan tampak terlalu kejam dan menghukum, sehingga sedikit kesalahan dari pihak kita membuat seluruh berkat Tuhan untuk hidup kita hilang begitu saja; di titik yang lain, Tuhan akan selalu baik (nice), selalu mengabulkan doa-doa kita, akan selalu menyediakan mukjizat-Nya, sampai-sampai Tuhan tampak seperti budak yang bisa kita suruh-suruh, pesulap, atau Sinterklas. Pada saat gambaran yang selama ini kita miliki tersebut kemudian dicocokkan dengan pengalaman pribadi kita, gambarannya jadi menyerupai potongan puzzle yang tidak cocok ditempatkan di mana pun. Inilah waktunya untuk dengan serius memperbaiki persepsimu tentang Tuhan, mencari tahu Siapa Dia yang sesungguhnya.


Belajar untuk memperbaiki gambaran tentang Tuhan yang selama ini kamu miliki membutuhkan banyak rahmat, kerendahan hati, kerelaan untuk bersikap fair, dan ketulusan. Kamu perlu memohon kepada Tuhan agar Ia menunjukkan diri-Nya yang sesungguhnya kepadamu secara pribadi. Kamu juga perlu mengenali sifat-sifat-Nya, apa yang Ia sukai, apa yang tidak Ia sukai, mengapa Ia mengabulkan doa yang satu dan bukan doa yang lain, bagaimana cara Ia mengasihi, apa maksud hukuman Tuhan, dan banyak hal lain. Namun, yang tidak kalah penting untuk kamu cari tahu, yaitu: bagaimana sih dirimu yang sebenarnya di mata-Nya? Seperti apa sih Ia memandangmu? Seberapa besar sih Ia mengasihimu? Bagaimana sih cara Ia mengasihimu secara pribadi? Tahukah kamu bahwa kamu tidak perlu membeli cinta-Nya karena Ia sudah mengasihimu terlebih dahulu? Kamu perlu menggunakan kacamata Tuhan untuk melihat dirimu dan hidupmu, bukan hanya dijawab dengan jawaban sesuai textbook, atau mungkin lebih tepatnya, supaya pengalaman pribadimu dengan Tuhan ternyata mengkonfirmasi jawaban textbook tersebut. Hasil akhirnya, observasi atau penelitianmu tentang Tuhan nyata dan sama dengan teori yang sebenarnya, bukan teori yang terlalu disederhanakan.


“Kalau kamu tahu seberapa besar Aku mencintaimu, kamu bisa mati karena sukacita.” (Tuhan Yesus kepada Beata Alexandrina da Costa)

2. Mempelajari rencana Tuhan atas hidup kita.

Tuhan selalu ingin menguji kita; Tuhan akan selalu menempatkan penderitaan tanpa kebahagiaan di dalam hidup kita; kebahagiaan tidak ada di dunia ini dan baru ada tercapai di surga, sehingga segala sesuatu yang akan terjadi adalah kesedihan; Tuhan selalu menunggu kapan kita tergelincir dan berdosa; pemikiran-pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang sangat toksik, yang bisa membuat kita selalu berpikir bahwa kejadian buruk ibarat singa yang siap menerkam di depan pintu.


Pemikiran-pemikiran yang toksik seperti di atas membuat kita tidak percaya akan kebaikan Tuhan, sehingga kita akan membuat pilihan berdasarkan kekhawatiran karena berusaha “melarikan diri dari ancaman kejadian buruk”. Sejujurnya, seseorang yang mampu melakukan segala sesuatu tetapi merencanakan kejahatan adalah ancaman yang paling mengerikan karena tidak mungkin bisa kita hindari. Untungnya, Tuhan yang sanggup melakukan segala sesuatu tidak pernah merancangkan yang buruk di dalam hidup kita. Tuhan sendiri telah berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).


Setiap kali pemikiran yang buruk dan toksik datang kepadamu, ingatkanlah dirimu bahwa Tuhan tidak pernah berniat jahat kepadamu, tetapi ingin memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan, walaupun kamu mungkin belum memahaminya saat ini. Kalau kamu mulai bisa melihat dengan cara ini, kamu akan menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Tindakan dan pilihan hidupmu tidak lagi bersumber dari kekhawatiran, tetapi berasal dari harapan yang selalu terbuka di hadapanmu, dan Tuhanlah penjaga-Nya. Kalau kamu merasa tidak sanggup mengusir pemikiran, berserulah terus menerus kepada Tuhan, “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” Mohonlah rahmat daripada-Nya untuk membantumu.


“Kita yang berlari dalam jalan cinta kasih tidak boleh memikirkan akan penderitaan yang dapat terjadi di masa mendatang: hal tersebut adalah kurangnya kepercayaan” (St. Theresia Lisieux).

3. Melepaskan apa yang ada di luar kendali kita.

Salah satu pelajaran yang cukup berat untuk kita alami adalah melepaskan kesempurnaan yang ada di dalam otak kita. Kita merencanakan masa depan yang “sempurna” dan tidak ingin keluar jalur dari apa yang sudah kita rencanakan. Karena khawatir akan hal-hal buruk yang akan terjadi, kita berusaha mengendalikan segala hal, termasuk hal-hal yang mungkin sebenarnya ada di luar kendali kita, misalnya perasaan orang lain terhadap kita, faktor lingkungan di mana kita hidup, kondisi dan situasi zaman, atau masa depan (bahkan kita bisa juga berusaha “mengendalikan” Tuhan dengan mengangkat Novena Yang “Tidak Pernah” Gagal ke tingkat “keharusan”, sehingga kita menunjukkan tanda-tanda seperti marah dan kecewa ketika ternyata doa tersebut juga tidak dijawab oleh Tuhan seperti cara yang kita inginkan).


Melepaskan apa yang ada di luar kendali kita, lalu berfokus pada apa yang dapat kita lakukan dan usahakan, dapat membuat beban kita lebih ringan karena tidak terlalu banyak yang harus kita pikirkan. Tuhan akan mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya bagi hidup kita, dan kita hanya perlu mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. Lebih baik lagi, kalau kita bisa menyerahkan semua yang ada di luar kendali kita kepada Tuhan. Pikirkanlah, ada Seseorang yang sanggup melakukan segala sesuatu dan menginginkan yang terbaik dalam hidupmu. Bukankah supaya segala sesuatunya ada di dalam kendali yang tepat?


“Salah satu paradoks dari penciptaan adalah engkau memperoleh kendali melalui penyerahan” (Fulton J. Sheen).

4. Mengumpulkan pengalaman bersama dengan Tuhan.

Kepercayaan adalah sesuatu yang tumbuh karena pengalaman dan waktu. Cobalah untuk berdoa memohon bantuan Tuhan dimulai dari hal-hal kecil yang tidak terlalu penting dan mendesak, misalnya saat kamu membutuhkan tempat parkir di pusat perbelanjaan, atau saat kamu membutuhkan ojek online, atau supaya gerimis yang datang tidak segera menjadi hujan lebat. Kumpulkan pengalaman-pengalaman itu dari waktu ke waktu. Kamu akan menemukan bahkan Tuhan memperhatikan doa-doamu yang tampak sepele. Kalau hal-hal yang kecil dalam hidupmu saja Ia perhatikan, tentu hal-hal besar juga tidak lolos dari perhatian-Nya.


“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Matius 10:29-31).

5. Mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita.

Kadang-kadang, berkat yang sudah Tuhan berikan kepada kita jadi kehilangan makna karena kita melihat setiap orang menerima hal yang sama, atau karena kita sudah terlalu terbiasa. Misalnya, kehidupan, kesehatan, keluarga, dan lain-lain. Padahal, berkat-berkat tersebut sudah Ia rencanakan untuk kita bahkan sebelum kita dijadikan. Tuhan telah memikirkan tentang kita, dan mengatur segala sesuatu di alam semesta hingga ke hal terkecil, untuk kita. Ada perkataan bahwa berkat kita tidak akan tertukar. Karenanya, belajarlah untuk mensyukuri berkat-berkat yang sudah kamu terima di dalam hidupmu, dan kamu akan melihat bahwa Tuhan selalu menyertai hidupmu dari waktu ke waktu.


“Sejak kekekalan, aku telah memiliki tempatku, dan sebelum dunia dimulai, Tuhan telah memikirkan tentang aku dan mengatur segala sesuatu di alam semesta untukku. Sejak kekekalan, aku telah menjadi objek dari cinta yang pasti, berdaulat, dan tidak terukur” (Raoul Plus, SJ).

Catatan Akhir

Kepercayaan kepada Tuhan seringkali bukan kejadian yang satu kali jadi, melainkan sebuah proses. Kita perlu belajar untuk dari waktu ke waktu, lagi dan lagi, memilih secara sadar untuk mempercayai Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan ibarat kemampuan (skill) yang perlu kita asah terus menerus.


Ketika kita sudah mencapai tingkat kepercayaan tertentu, bukan berarti tidak mungkin lagi untuk khawatir. Sekali atau dua kali, mungkin sekali kita jatuh lagi dalam keraguan, kekhawatiran, atau ketidakpercayaan. Jika itu terjadi, mintalah bantuan mereka yang sudah dewasa dalam iman, untuk meneguhkan dan menguatkanmu kembali. Kekhawatiranmu juga belum tentu langsung hilang semuanya, tetapi setidaknya, kekhawatiranmu jangan lagi sampai melumpuhkanmu dan membuatmu begitu terpuruk.


Mendekatlah kepada Tuhan melalui doa, Kitab Suci, Sakramen Ekaristi, dan Sakramen Tobat, dan biarkan rahmat-Nya untukmu mengisi hatimu dengan cinta dan kepercayaan kepada-Nya. Jangan lupa untuk memohon pertolongan dari Bunda Maria, yang ketika dihadapkan dengan rencana Tuhan yang tidak ia pahami dan sangat wajar jika menjadi kekhawatirannya, Bunda Maria memilih untuk tetap percaya dan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply