4 Okt – Gal 1:6-12; Luk 10:25-37

“Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

(Gal 1:6-12; Luk 10:25-37)


“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" (Luk 10:25-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Fransiskus dari Assisi hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   St.Fransiskus Assisi termashyur karena rahmat keutamaan kemiskinan yang diterimanya serta dihayati dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Ia meninggalkan kemewahan rumah dan keluarganya serta kemudian hidup miskin untuk meneladan Yesus yang miskin dan mempersembahkan diri seutuhnya bagi keselamatan jiwa orang lain. Ia penuh perhatian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan serta menderita. Semuanya itu ia hayati atau laksanakan ‘untuk memperoleh hidup yang kekal’ bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang dilayani. Ia sungguh memerangi sikap mental materialistis di dalam hidup sehari-hari. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita renungkan dan hayati perintah “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Yang mungkin mendesak dan sebagai bukti konkret bahwa kita mengasihi Allah adalah mengasihi sesama manusia. “Dan siapakah sesamaku manusia?’. Sesama kita yang nyata adalah mereka yang miskin dan berkekurangan atau menderita, maka marilah kita kasihi dan perhatikan mereka agar mereka dapat hidup bahagia dan damai sejahtera. Selain perhatian dan sapaan kasih hemat saya mereka juga membutuhkan bantuan berupa harta benda atau sarana-prasarana, maka dengan ini kami mengetok dan mengajak siapapun yang kaya atau berkecukupan dalam hal harta benda untuk solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Hayati aneka macam sarana-prasarana atau harta benda maupun uang sebagai jalan untuk memperoleh hidup yang kekal, ‘jalan ke sorga’. Semakin kaya akan harta benda atau uang hendaknya juga semakin sosial, semakin memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan.


·   Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Gal 1:10), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Galatia. Apa yang dikatakan oleh Paulus ini hendaknya menjadi permenungan atau refleksi kita. Apa yang kucari atau kuusahakan dengan bekerja keras, berjerih payah, memeras otak dan keringat setiap hari? Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk mencari dan mengusahakan apa yang berkenan kepada Allah, dan yang berkenan kepada Allah hemat saya adalah keselamatan jiwa manusia. Maka kami berharap keselamatan jiwa manusia menjadi barometer atau tolok-ukur keberhasilan karya dan pelayanan kita, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa mereka yang kita layani atau hidup bersama dengan kita setiap hari. Hendaknya jangan berhenti pada apa yang menyenangkan manusia belaka, apalagi mayoritas manusia zaman sekarang yang lebih bersikap mental materialistis dan egois, serta mendambakan kenikmatan-kenikmatan duniawi melulu,  misalnya dalam hal makan dan minum maupun seksual. Mengutamakan keselamatan jiwa manusia ini hendaknya sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak ibu, yang telah saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh, yang antara lain menjadi nyata dalam hubungan seksual sebagai perwujudan kasih sejati. Bukankah dari saling mengasihi ini lahirlah jiwa manusia baru yang menggembirakan dan membahagiakan jiwa orangtua? Dengan ini kami juga berharap kepada rekan-rekan pengikut atau partisipan St.Fransiskus Asissi, entah imam, bruder, suster atau awam dapat menjadi teladan atau saksi penghayatan kaul/keutamaan kemiskinan di dalam hidup sehari-hari, dalam hidup maupun kerja bersama dimanapun dan kapanpun. Kepada para pengikut dan parsitipan St.Fransiskus Assisi kami ucapkan selamat berbahagia dan pesta.

 

“Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” (Mzm 111:7-10)

Jakarta, 4 Oktober 2010              

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: