4 Mei – Kis 14:19-28; Yoh 14:27-31a

“Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”

(Kis 14:19-28; Yoh 14:27-31a)


“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 14:17-31a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Bagi kebanyakan orang di dunia ini apa yang disebut damai adalah jika memiliki harta kekayaan dan uang cukup banyak alias kaya raya, sehingga apa yang diinginkan dapat dikabulkan segera, tanpa penundaan. Damai yang dianugerahkan Tuhan kiranya sebagaimana pernah dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II ” There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan). Dengan kata lain jika kita mendambakan damai sejati marilah kita hidup dan bertindak saling mengasihi dan mengampuni. Kita hendaknya meneladan Yesus yang ‘mengasihi Bapa dan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepadaNya’, dengan kata lain marilah kita mengasihi Yesus dengan melakukan semua perintahNya, lebih-lebih perintahNya yang utama dan pertama-tama yaitu ‘saling mengasihi’. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13;4-7). Marilah kita hayati uraian perihal kasih sebagaimana dikatakan oleh Paulus di atas ini, agar kita dapat hidup dalam damai sejahtera sejati. Yang mungkin perlu menjadi perhatian kita masa ini adalah ‘tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain’. Marah berarti menghendaki yang saya marahi agar tidak ada alias mati atau musnah. Bahasa lain dari marah adalah ‘mengeluh, menggerutu, menyakiti orang lain entah dengan kata maupun tindakan phisik, dst.. 

·   Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman” (Kis 14:27), demikian berita perihal apa yang dilakukan oleh Paulus, rasul agung.  Berkumpul untuk saling menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan kita, itulah yang sebaiknya juga kita lakukan dalam kebersamaan kita sebagai umat beriman. Maka dengan ini kami mengingatkan pentingnya pertemuan atau perjumpaan umat beriman secara rutin di komunitas basis, sebagaimana telah terjadi di sana-sini, misalnya ibadat atau doa lingkungan mingguan, dll.. Dalam pertemuan atau perjumpaan tersebut hendaknya diberi kemungkinan bagi semua yang hadir untuk menceriterakan atau mensharingkan karya Allah dalam dirinya yang lemah dan rapuh; dengan kata lain hendaknya diselenggarakan sharing iman di dalam pertemuan atau perjumpaan tersebut. Karya atau perbuatan Allah tersebut dalam diri kita antara lain berupa tindakan kita untuk memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang haus, memberi pakaian yang telanjang, memberi tumpangan orang asing atau yang tersingkir, dst… atau aneka macam bentuk kepedulian sosial yang telah kita lakukan. Penghayatan kepedulian sosial dalam hidup sehari-hari dapat menjadi pintu bagi orang lain untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Marilah kita tingkatkan dan perdalam kepedulian kita terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan dalam aneka macam kebutuhan hidup. Sebagai orang Indonesia kami ingatkan pentingnya menhayati sila kelima dari Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi seluruh bangsa Indonesia”.

 

“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan

 (Mzm 145:10-13a)

 

Jakarta, 4 Mei 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: