4 Maret – Sir 44:1.9-12; Mrk 11:11-26)

 “Apa saja yang kamu minta dan doakan percayalah bahwa kamu telah menerimanya”

(Sir 44:1.9-12; Mrk 11:11-26)

 

“Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota. Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering." Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Mrk 11:15-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Berdoa berarti mengarahkan atau mempersembahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, dan karena Tuhan maha segalanya, maka berada di hadirat Tuhan atau berhadap-hadapan dengan Tuhan mau tak mau kita pasti akan dikuasai atau dirajai. Hati kita akan dikuasai atau dirajai oleh Tuhan, dan karena hati adalah pusat hidup kita, maka mau tak mau kita akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah artinya bahwa ‘apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya’. Pada saat berdoa kita telah menerima apa yang kita minta dan doakan, tentu saja yang menyelamatkan jiwa kita dan jiwa sesama kita. Memang itu berarti setelah berdoa kita segera mewujudkan pengabulan tersebut, yaitu senantiasa melakukan apa yang menyelamatkan jiwa manusia, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa saudara-saudari kita, yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita. Kita juga diingatkan untuk tidak mengkomersielkan doa maupun tempat berdoa atau beribadat, sebagaimana pernah dilakukan oleh kelompok Bapak Thomas di tempat-tempat ziarah Bunda Maria di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Saya sungguh prihatin mendengar info bahwa beberapa seksi dewan paroki begitu materilistis, mencari kekayaan melalui tugas pelayanannnya.

·   “Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya” (Sir 44:10-12). Kita semua sebagai orang beriman dipanggil untuk menjadi ‘kesayangan Tuhan’ dengan melakukan kebajikan-kebajikan dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Salah satu bentuk kebajikan antara lain, meneladan Yesus, yaitu memberantas aneka macam bentuk komersialisasi jabatan, tempat ibadat/suci, aneka macam sarana-prasarana dst.. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, misalnya orangtua, pemimpin, pejabat atau atasan untuk tidak bersikap komersial. Ingat jika anda bersikap komersial maka anak cucu, keturunan atau rakyat anda akan melakukan yang sama, dan pada umumnya lebih hebat dan berat. Kami berharap kepada para tokoh atau pemimpin agama dapat menjadi teladan dalam melakukan kebajikan-kebajikan, menjadi ‘kesayangan Tuhan’. Menjadi kesayangan Tuhan juga berarti setia pada aneka perjanjian, maka baiklah sebagai orang yang telah dibaptis, entah imam, bruder, suster atau awam, kami harapkan setia pada janji baptis, yaitu hanya mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Jika kita semua setia pada janji baptis, maka kita akan dapat lebih mudah untuk setia pada janji-janji berikutnya, seperti janji imamat, kaul atau janji perkawinan. Lebih lanjut kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri untuk setia saling mengasihi sampai mati, agar anak-anak atau keturunan anda ‘demikian pula adanya’.

 

“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.”(Mzm 149:1-4)

Jakarta, 4 Maret 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan 11:11-26
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: