4 Juli – Kej 28:10-22a; Mat 9:18-26

“Imanmu menyelamatkan engkau”

(Kej 28:10-22a; Mat 9:18-26)

” Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.  Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.  Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.  Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,  berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.” (Mat 9:18-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sehat wal’afiat dan sakit, cepat sembuh dari penyakit memang erat kaitannya dengan beriman atau tak/ kurang beriman, entah itu sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh. Tentu saja beriman yang saya maksudkan ialah sungguh mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang secara konkret berarti setia pada dan melaksanakan janji dan tata tertib yang terkait dengan janji tersebut; sedangkan dalam kesehatan badan berarti makan dan minum berpedoman pada ’empat sehat lima sempurna’, tidak mengikuti selera pribadi, kerja dan istirahat teratur serta memadai dst..  Kami berharap hal ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret orangtua atau bapak-ibu. “Teguhkanlah hatimu, hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau”, demikian kata Yesus kepada seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan lebih dari 12 tahun, ketika ia berhasil menyentuh jubah Yesus. Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan dan anak yang menderita sakit berat. Kami mengajak dan meneguhkan segenap umat beriman, entah agamanya atau keyakinannya apapun, untuk saling membantu dan bergotong royong dalam meneguhkan iman. Marilah dengan rendah hati kita ingatkan saudara-saudari kita yang melalaikan atau kurang memperhatikan aneka tata tertib dalam kehidupan bersama; kita ingatkan dan tegor mereka yang cara hidup dan cara bertindaknya tidak teratur sesuai dengan tata tertib yang berlaku. Jika kita dapat setia melaksanakan aneka tata tertib, maka kami percaya bahwa kita dengan mudah untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan maupun saudara-saudari kita. Kepada anda yang sedang menderita sakit kami harapkan untuk menikmati penderitaan dengan mengintegrasikan derita anda pada penderitaan Yesus demi keselamatan jiwa umat manusia. Maka kepada yang sedang menderita sakit kami berharap mempergunakan kesempatan keterbatasan gerak anggota tubuh untuk berdoa.

·   Aku Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Iskak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu dan keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 28:12), demikian firman Allah kepada Yakub.  Kita semua adalah keturunan Abraham, dan sebagai orang beriman kita dipanggil untuk  senantiasa menjadi berkat bagi saudara-saudari kita, dengan kata lain kita dipanggil untuk saling memberkati. Maka marilah kita kenangkan bahwa setiap awal perjumpaan dengan saudara-saudari kita pada umumnya kita saling memberi ‘selamat’ atau ‘salam’, misalnya: ‘Selamat datang”, “Selamat pagi”, “Selamat bertemu”, “Berkah Dalem” , “Asalammulaikum”, dst. Semoga ucapan selamat atau salam tersebut tidak hanya manis dibibir, tetapi juga dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak. Dengan kata lain semoga cara hidup dan cara bertindak kita senanitiasa dalam rahmat atau berkat Allah, dan dengan demikian kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Marilah kita kenangkan juga bahwa setiap kali mengakhiri partisipasi kita dalam beribadat kita juga menerima berkat Allah, yang diharapkan selanjutnya diteruskan kepada saudara-saudari kita dalam hidup sehari-hari. Secara khusus kami berharap kepada para pastor, pendeta, kyai dst. ..yang sering menyampaikan berkat Allah dapat menjadi teladan sebagai berkat Allah bagi sesamanya, artinya segala sepak terjang dan kehadiranya dimanapun dan kapanpun menjadi berkat bagi sesamanya.

“Orang yang duduk dalam lindungan yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan yang Mahakuasa, akan berkata kepada Tuhan: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercaya” (Mzm 91:1-2)

Ign 4 Juli 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: