“Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya”

(2Kor 4:16-18;5:1; Yoh 15:18-21)

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 15:18-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes de Britto serta kawan-kawannya, para beato Serikat Yesus, imam, bruder, frater  dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil menjadi imam atau sahabat Yesus berarti harus ambil bagian dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan Yesus Kristus. “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu”, demikian sabda Yesus kepada para sahabatNya. Sebagai sahabat-sahabat Yesus berarti harus hidup dan bertindak seperti Yesus, yang datang untuk melaksanakan kehendak Allah guna menyelamatkan seluruh dunia seisinya, sehingga dunia atau bumi dengan seluruh isinya yang diciptakan oleh Allah senantiasa dapat menjadi ‘gambar atau citra Allah’, membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Mengingat dan memperhatikan kebejatan atau kemerosotan moral yang menjiwai hampir seluruh bidang kehidupan bersama masa kini, maka orang yang setia melaksanakan kehendak Allah pasti akan menghadapi aneka bentuk kebencian dari orang-orang yang tidak atau kurang bermoral, yang hidup hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi saja. Penderitaan karena dibenci kiranya tidak sepadan atau seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh Yesus, yang dibenci, diejek dan akhirnya disalibkan sampai wafat. Maka ketika menghadapi kebencian silahkan menatap Dia yang tergantung di kayu salib atau membuat tanda salib, karena dengan demikian jika anda percaya kepada Yesus pasti akan dikuatkan, dan bahkan anda akan tergerak untuk mengampuni orang-orang yang membenci anda, sebagaimana Yesus juga telah melakukannya. Menghayati rahmat kemartiran pada masa kini antara lain dapat kita wujudkan dengan kesetiaan kita pada panggilan dan tugas pengutusan meskipun dengan itu kita dibenci, diejek dan dicaci maki sampai diancam untuk disingkirkan atau dimusnahkan.

·   “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”(2Kor 4:16-18), demikian kesaksian iman Paulus. Banyak orang di dunia ini, terutama yang bersikap mental materialistis kiranya lebih memperhatikan yang kelihatan dari pada yang tak kelihatan, lebih mengandalkan diri pada ciptaan dari pada Allah yang telah menciptakan. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk lebih percaya dan mengandalkan diri pada Allah dari pada ciptaan-ciptaanNya maupun aneka hasil karya ciptaanNya. Bukankah beriman berarti percaya pada apa yang tidak kelihatan? Maka jika terpaksa harus menderita karena kesetiaan pada iman, hendaknya tidak mengeluh atau menggerutu, “sebab penderitaan ringan sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami”. Jer basuki mowo beyo, untuk emperoleh kemuliaan harus berjuang dan menderita, demikian kata sebuah pepatah. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Bukankah orang harus bekerja keras lebih dahulu baru memperoleh gaji atau imbalan? Kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk mendidik dan mendampingi anak-anak agar sedini mungkin dibiasakan dalam hal berjuang dan berkorban bagi kedewasaan pribadi maupun keselamatan jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Wariskan kepada anak-anak anda nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang telah anda miliki, bukan mewariskan harta benda atau uang. Utamakan lebih dahulu agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual dari pada intelektual, lebih berkembang menjadi pribadi yang baik dari pada pintar.

“Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu.” (Mzm 1124:2-5)

Ign 4 Februari 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.