Sekitar 350 seniman petani Komunitas Lima Gunung Magelang menyiapkan pementasan bertajuk “Ensiklopedia Agrobudaya” pada puncak perayaan Seabad Seminari Menengah Mertoyudan, pada 2 Juni 2012.

“Berbagai pementasan itu menggambarkan tentang spirit kehidupan para petani di dusun-dusun kawasan lima gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh,red.) di Magelang ini,” kata Ketua Komunitas Lima Gunung Magelang Supadi di Magelang, Selasa.

Sejumlah pementasan tersebut, kata dia berupa performa gerak, tari, sastra, dan tembang dalam suatu kemasan seperti ritus lima gunung, pembacaan puisi, tarian “Kipas Mega”, “Geculan Bocah”, “Soreng”, “Gupolo Gunung”, lagu akapela gunung, dan tembang mantra gunung.

Selain itu, menurut dia, tarian tradisional “Jarang Papat”, sendratari “Sekar Agung”, “Lengger Sumbing”, dan wayang orang dengan lakon “Arjuna Wiwaha Gunung”.

Para seniman petani itu, katanya, akan mementaskan karya tersebut dalam durasi sekitar 90 menit di halaman Seminari Mertoyudan, tempat pendidikan awal para calon pastor.

Ia mengharapkan pementasan itu menjadi inspirasi terutama lembaga pendidikan khusus tersebut untuk pengembangan pendidikan kepribadian para seminaris pada masa mendatang.

“Selain sebagai hiburan, diharapkan pementasan ini memberikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan terutama di seminari itu. Bahwa pendidikan tidak bisa tidak, harus menyentuh kebudayaan,” kata Supadi yang juga pimpinan Sanggar “Andong Jinawi” di kawasan Gunung Andong Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Ia menjelaskan tentang judul karya pementasan itu yang menyangkut spritualitas kehidupan para petani.

Petani, katanya, tidak sekadar membudidayakan tanaman pertanian untuk menghasilkan produksi yang banyak dan berkualitas.

Akan tetapi, katanya, para petani juga tidak lepas dari berbagai tradisi budaya yang dijalani secara turun temurun di desanya.

“Juga tentang kehidupannya yang menjadi satu dengan alam dengan berbagai perubahan dan dinamikanya,” katanya seperti dikutip Antara.

Selama sebulan terakhir, katanya, Komunitas Lima Gunung berkolaborasi dengan pihak seminari setempat, menggelar pementasan antara lain eksplorasi gerak “Mawas Diri”, tarian lengger “Sumyah Kolbu”, pembacaan puisi “Malam Sastra Surgawi”, diskusi tentang pendidikan dan kebudayaan.

Puncak perayaan Seabad Seminari Mertoyudan rencananya juga ditandai dengan misa akbar dipimpin Kardinal Yulius Darmaatmaja dan sejumlah uskup yang berkarya di berbagai daerah di Indonesia serta pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk.

Usia 100 tahun seminari setempat jatuh pada Rabu (30/5), sedangkan puncak perayaannya 2 Juni 2012. Selama setahun terakhir, pihak seminari juga menggelar berbagai kegiatan dalam rangkaian perayaan itu.

Kredit Foto : Antara

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.