31 Des – 1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18

Dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”

(1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18)

 

“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku." Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:10-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir tahun 2009, dan kita akan segera memasuki tahun baru 2010. Selama tahun 2009 kiranya kita telah menerima berbagai macam kasih karunia Allah, yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang telah berbuat baik kepada kita dalam berbagai kesempatan, maka marilah kita syukuri semuanya itu dengan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari di tahun 2010 yang akan datang. Syukur tersebut kita wujudkan dengan meneruskan aneka kasih karunia yang telah kita terima, sehingga dalam kehidupan bersama kita senantiasa saling menerima dan memberi kasih karunia. Kasih karunia tersebut mungkin secara konkret berupa harta benda/uang atau kekayaan, kesehatan, kecerdasan, keterampilan, sahabat atau kenalan, dan bagi orangtua mungkin anak, sedangkan para pekerja mungkin kenaikan pangkat atau kesejahteraan. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai kini adalah kasih karunia Allah, maka baiklah di tahun yang akan datang ini kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, antara lain setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Mungkin di tahun 2009 ada rencana yang belum dapat kita laksanakan atau kerjakan, marilah di tahun 2010 yang akan datang kita laksanakan. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita”, demikian kutipan warta gembira hari ini, yang kiranya baik kita hayati, antara lain dengan melaksanakan rencana atau cita-cita yang masih dalam rumusan kata-kata, sehingga menjadi tindakan atau perilaku nyata.

·  “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita” (1Yoh 2:18-19). Pesan ini mengingatkan kita akan bahaya-bahaya atau godaan-godaan yang mungkin terjadi di tahun 2010 yang akan datang, yang menurut kalender Tionghoa disebut ‘tahun macan’. Macan atau singa memang senantiasa berusaha mencari mangsa dengan cerdik, maka baiklah kita hadapi dengan ‘tulus seperti merpati, dan cerdik seperti ular’, artinya dengan kecerdasan spiritual. Maka sekali lagi saya angkat disini cirikhas kecerdasan spiritual, yang hendaknya menjadi cara hidup dan cara bertindak kita, yaitu “mampu untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan), memiliki kesadaran diri yang tinggi, mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan, mampu menghadapi dan mengatasi rasa sakit, hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai, enggan untuk menyakiti orang lain, melihat hubungan dari yang beragam (holistik), bertanya ‘mengapa’ dan ‘apa jika’ untuk mencari jawaban mendasar, kemampuan/kemudahan untuk ‘melawan perjanjian'”. Kita hayati dengan kerja sama dan saling membantu cirikhas kecerdasan spiritual di atas dalam hidup kita sehari-hari.

 

Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya” (Mzm 96:11-13)

 

Jakarta, 31 Desember 2009

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: