30 des – 1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640

Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa“.

(1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640)

 

“Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 1:36-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini kepada kita ditampilkan seorang nabi perempuan, bernama Hana, yang “tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa”. Tokoh nabi Hana ini kiranya baik menjadi bahan refleksi bagi rekan-rekan perempuan. Dari berbagai pencermatan dan pengalaman kiranya dapat dikatakan bahwa rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih berperan dalam “beribadah dengan berpuasa dan berdoa”. Pertemuan-pertemuan bersama untuk pendalaman iman atau doa bersama di lingkungan/stasi pada umum lebih banyak dihadiri oleh rekan-rekan perempuan daripada rekan laki-laki. Perhatian ibu kepada anak-anaknya pada umumnya lebih besar daripada perhatian bapak terhadap anak-anaknya, sebagaimana sering dikumandangkan dalam sebuah lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada ibu kita masing-masing, yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan kita sehingga kita “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah” berkanjang dalam diri kita masing-masing. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih hendaknya kita juga rajin ‘beribadah dengan berpuasa dan berdoa’, yang menandai atau menjadi cirikhas hidup beriman atau beragama. Tujuan beribadah tidak lain adalah agar kita senantiasa tetap berada dalam ‘kasih karunia Allah’, dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait dengan cara hidup dan panggilan kita masing-masing. Maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama lain dalam hal ‘beribadah’ ini.          

·   “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yoh 2:15-17). Apa yang dimaksudkan dengan ‘mengasihi dunia’  disini kiranya adalah sikap mental materialistis atau duniawi atau bisnis, dimana orang mengurus atau mengelola aneka karya pelayanan secara materialistis atau bisnis melulu. Kita dipanggil mendunia sesuai dengan kehendak Allah, mengurus dan mengelola hal-ikhwal duniawi sesuai dengan kehendak Allah alias mengusahakan kesucian hidup dengan berpartipasi dalam seluk beluk duniawi. Ingat dan hayati bahwa kita baru saja merayakan pesta Kelahiran Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia dengan mendunia. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua dalam pelayanan atau kegiatan hendaknya sesuai dengan visi yang telah dicanangkan atau dimaklumkan. Setiap hidup dan kerja bersama maupun pribadi kiranya memiliki visi yang bagus dan indah serta baik, maka hendaknya visi tidak berhenti dalam tulisan atau wacana, melainkan sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Bagi para anggota Lembaga Hidup Bakti, biarawan dan birawati, berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh charisma pendiri, bagi suami-isteri berarti setia pada janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, dst.. Kepada para pejabat atau pemimpin masyarakat maupun bangsa kami harapkan untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh semangat melayani, sehingga segala usaha dan kegiatan terarah pada kesejahteraan umum (‘bonum commune’). Semakin berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi/mendunia hendaknya juga semakin beriman; mendunia tanpa iman akan terjadi kekacauan.

 

“Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.” (Mzm 96:7-10)

 

Jakarta, 30 Desember 2009

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: