30 Agts

"Alangkah hebatnya perkataan ini!”
(1Tes 5:1-6.9-11; Luk 4:31-37)

“Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu
mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar
pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat
itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara
keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami?
Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang
Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam,
keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke
tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali
tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang
kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab
dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat
dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke
mana-mana di daerah itu”(Luk 4:31-37), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Orang yang banyak kerja dan sedikit bicara pada umumnya apa yang
dikatakan sungguh bermakna dan berkuasa, sebaliknya orang yang banyak
bicara sedikit bekerja maka apa yang dikatakan bagaikan angin berlalu
saja. Kata-kata yang keluar sungguh bermakna dan berkuasa, karena apa
yang dikatakan pada umumya juga dihayati, dengan kata lain kata-kata
yang keluar dari mulutnya merupakan luapan isi hati dan pengalamannya.
Itulah kiranya yang terjadi dalam diri Yesus Penyelamat Dunia:
sabdaNya dengan penuh wibawa mengusir setan atau roh jahat, sehingga
mereka yang menyaksikanNya berkata “Alangkah hebatnya perkataan ini!
Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh
jahat dan mereka pun keluar”. Kita semua yang beriman kepadaNya
dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah dengan bantuan rahmatNya
kita dengan rendah hati berusaha. Hendaknya dalam berkata-kata tidak
asal-asalan saja, melainkan kata yang keluar melalui mulut sungguh
merupakan luapan isi hati yang beriman, sehingga kata-kata tersebut
merupakan bisikan Roh Kudus. Kata-kata yang dijiwai oleh Roh Kudus,
sebagaimana yang disampaikan oleh para gembala kita, Paus maupun Uskup
bewibawa dan berkuasa mempengaruhi atau menjiwai cara hidup dan cara
bertindak kita. Untuk itu kita harus tidak melupakan hidup doa,
meditasi atau kontemplasi, merenungkan sabda-sabda Tuhan sebagaimana
tertulis di dalam Kitab Suci. Biarlah sabda Tuhan akhirnya juga
menjadi milik kita, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut kita
juga merupakan ‘sabda Tuhan’.
•       “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk
beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati
untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita
hidup bersama-sama dengan Dia. Karena itu nasihatilah seorang akan
yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu
lakukan.” (1Tes 5:9-11). Sebagai sesama umat beriman kita dipanggil
untuk saling menasihati, yang berarti saling bertukaran atau membagi
pengalaman iman. Secara kebetulan hari ini adalah Hari Raya Idul
Fitri, hari kemenangan bagi saudara-saudari kita yang baru saja
selesai menghayati puasa dalam waktu satu bulan. Hari ini kiranya kita
juga terlibat dalam saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan
menceriterakan pengalaman iman, apalagi bagi kita yang sudah cukup
lama tidak bertemu dengan saudara-saudari atau handai-taulan. Kami
percaya dalam saling memberi salam, bertemu dan bercakap-cakap di hari
raya hari ini, kita saling menyampaikan pengalaman yang baik, sehingga
terjadilah persaudaraan sejati yang mempesona, menarik dan memikat.
Maka kami berharap pengalaman hari ini tidak berlalu begitu saja,
melainkan terus menerus diperdalam dan diperkembangkan dalam hidup
sehari-hari di kemudian hari. Marilah kita bangun, perdalam dan
perkembangkan persaudaraan umat beriman, antar agama, dalam cara hidup
dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Allah
menghendaki kita tidak akan ditimpa malapetaka atau celaka, melainkan
bahagia dan selamat, maka hendaknya kita saling membahagiakan dan
menyelamatkan.  Kepada saudara-saudari kita yang suka menyendiri, kami
harapkan untuk membuka diri dan bergaul dengan saudara-saudari yang
lain. Ingatlah jika kita hidup menyendiri pasti akan celaka atau
menemui malapetaka. Kebersamaan hidup yang dijiwai oleh cintakasih
akan merupakan cara merasul tersendiri, maka marilah kita bangun
kebersamaan hidup dimanapun kita berada.
“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri
orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah
hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
(Mzm 27:13-14) “SELAMAT IDUL FITRI, 1 SYAWAL 1432 H”
Ign 30 Agustus 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply