Friday, 21 November 2014

3 Nov – Flp 2:12-18; Luk 14:25-33

“Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi muridKu.”

(Flp 2:12-18; Luk 14:25-33)

 

“Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tidak sedikit orang yang tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusannya, misalnya: mengaku beragama tetapi tidak menghayati ajaran agamanya dengan baik dan benar, hidup sebagai suami-isteri tetapi masing-masing masih bagaikan belum menikah karena hidup seenaknya sendiri, hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster hanya mengikuti kehendak atau selera pribadi dalam melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan, dst.. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk “melepaskan diri dari segala milik dalam rangka mengikuti Yesus, hidup beriman atau beragama”. Dengan kata lain hendaknya dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita dijiwai oleh iman kita, bukan mengikuti selera pribadi atau kelompoknya. Dalam atau dengan iman di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara antara lain berarti senantiasa taat dan setia terhadap aneka macam tata tertib yang berlaku, dan untuk itu memang butuh pengorbanan diri. Kita juga diingatkan untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, apapun bentuknya dan dimanapun tempatnya. Bagaikan gending Jawa ‘gamelan’ dimana ada aneka macam alat atau perangkat atau jenis alat musik dan masing-masing berfungsi pada waktunya sehingga terdengar alunan suara gamelan yang mempesona dan menarik, demikian pula hendaknya kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun masing-masing berfungsi optimal pada waktunya. Dengan kata lain penabuh gamelan tidak membunyikan alatnya menurut kemauan sendiri melainkan sesuai petunjuk dari pimpinan. Marilah kita jauhkan aneka bentuk egoisme dan kita kembangkan serta perdalam kepekaan sosial kita.

·   “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan” (Fil 2:14-16a), demikian nasihat atau peringatan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua umat beriman. Jangan bersungut-sungut, menggerutu atau mengeluh dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan! Nikmati saja segala sesuatu yang menjadi konsekwensi dari hidup terpanggil atau diutus. “Carpe diem” = nikmati atau petik hari ini, demikian kata sebuah pepatah bahasa Latin. Hidup terpanggil atau diutus memang harus melaksanakan tugas pekerjaan atau kewajiban yang tidak sesuai dengan selera pribadi, dan mungkin juga berat, sarat dengan tantangan dan masalah. Hadapi dan kerjakan segala tantangan dan masalah dengan tidak bersungut-sungut atau berbantah-bantahan, tetapi dengan sabar, lemah lembut, bergairah dan ceria sambil ‘berpegang pada firman kehidupan’, yaitu aneka macam petunjuk atau pedoman untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan. Percayalah jika Tuhan mengutus, Ia juga akan menyelesaikannya pula. Asal kita bertindak jujur, disiplin, kerja keras, tekun, teliti, tertib dan tenang pasti akan mampu mengerjakan segala sesuatu yang dibebankan atau diserahkan kepada kita. Marilah kita hayati salah satu motto dari Bapak Andrie Wongso: “Besi batangan pun kalau digosok terus menerus dengan keteguhan hati ,  pasti akan menjadi jarum yang tajam”, atau senanitiasa berpikir ‘sukses’ dalam melaksanakan segala sesuatu.

 

“TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”

 (Mzm 27:1.4)..     .

 . Jakarta, 3 November 2010

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "3 Nov – Flp 2:12-18; Luk 14:25-33"

Response on "3 Nov – Flp 2:12-18; Luk 14:25-33"