3 Maret – Sir 42:15-25; Mrk 10:46-52

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"

(Sir 42:15-25; Mrk 10:46-52)

 

“Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (Mrk 10:46-52), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang buta matanya pada umumnya memiliki kepekaan ‘mendengarkan tinggi’. Si pengemis buta, Bartimeus, begitu peka mendengarkan Yesus bersama rombonganNya lewat, dan ia berteriak kepada Yesus mohon kasih pengampunan dan belas kasihNya agar dapat melihat. Banyak orang menegornya, namun Yesus mendengarkan dan menanggapinya. Karena imannya yang begitu mendalam si buta Bartimeus akhirnya menerima anugerah dapat melihat. Kami percaya kebanyakan dari kita tidak buta matanya, namun apakah dapat melihat kehadiran Tuhan di dalam lingkungan hidup kita melalui saudara-saudari kita kiranya boleh dipertanyakan. Marilah dengan rendah hati kita lihat dan dengarkan kehadiran dan karya Tuhan melalui saudara-saudari kita di lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing, dan dengan rendah hati juga siap sedia mohon bantuan mereka agar kita dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, lebih-lebih karya dan kehadiran Tuhan dalam diri saudara-saudari kita. Karya dan kehadiran Tuhan dalam diri saudara-saudari kita antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik mereka. Kami percaya masing-masing dari kita berkehendak baik dan ingin melakukan apa yang baik, namun karena keterbatasan dan kelemahan apa yang kita lakukan sering kurang berkenan di hati Tuhan alias apa yang tidak atau kurang baik, misalnya menegor keras orang yang sedang berseru kepada Tuhan alias berdoa. Sebagai contoh kita sering marah-marah ketika mendengar suara adzan di pagi hari dari masjid, langgar atau surau. Lihat dan dengarkan bahwa suara adzan merupakan ajakan untuk berdoa, memuji dan memuliakan Tuhan. Iman lahir dan berkembang dari dan dengan mendengarkan. Jika anda ingin selamat hendakya menjadi pendengar yang baik atau meneladan Bunda Maria, yang senantiasa ‘mendengarkan dan merenungkan segala sesuatu di dalam hatinya’, artinya mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

·   “Pekerjaan Tuhan hendak kukenangkan, dan apa yang telah kulihat hendak kukisahkan. Segala pekerjaan Tuhan dijadikan dengan firman-Nya. Matahari bercahaya memandang segala sesuatunya dan ciptaan Tuhan itu penuh dengan kemuliaan-Nya”(Sir 42: 15-16). “Mengenangkan pekerjaan Tuhan” itulah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari. Mengenangkan pekerjaan Tuhan berarti mengingat-ingat dan melakukan apa yang baik, mulia, luhur, indah dan suci, apa-apa yang berkenan di hati Tuhan. Maka marilah kita lihat dan imani ‘kemuliaan Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya’, entah dalam diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Salah satu karya Tuhan yang layak dimuliakan adalah menganugerahkan pertumbuhan dan perkembangan dalam ciptaan-ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaanNya bergairah dan dinamis serta berbahagia. Kita imani bahwa kegairahan sesama manusia maupun binatang merupakan karya Tuhan, maka kita tanggapi dengan rendah hati dan keterbukaan. Jangan padamkan kegairahan saudara-saudari kita, sebagaimana dilakukan para murid menegor kegairahan Bartimeus. Memang generasi muda dan anak-anak pada umumnya lebih bergairah dan dinamis daripada orangtua atau orang dewasa, maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua maupun orang dewasa untuk menanggapi kegairahan generasi muda dan anak-anak dengan senang hati dan gembira, artinya memberi kemungkinan dan kesempatan untuk menyalurkan kegairahan mereka dalam mengembangkan diri agar tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Sebaliknya kepada generasi muda dan anak-anak kami harapkan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kemungkinan yang ada.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya” (Mzm 33:2-6)          

 

Jakarta, 3 Maret 2011.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: