29 juli – 1Yoh 4:7-16; Yoh 11:19-27

"Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."

(1Yoh 4:7-16; Yoh 11:19-27)

 

“Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Marta, St.Maria dan St.Lazarus, Sabahat Tuhan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sahabat dalam bahasa Latin adalah ‘socius’ yang dapat berarti sekutu, teman, sahabat, kawan, peserta, yang ambil bagian, maka menjadi sahabat Tuhan antara berarti ambil bagian dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah, sedangkan sahabat Yesus, Tuhan, berarti ambil bagian karya dalam tugas pengutusanNya sebagai Penyelamat Dunia. Kita semua orang beriman juga menjadi sahabat Tuhan, dan kita yang percaya kepada Yesus Kristus dapat berkata dan menghayati apa yang dikatakan oleh Marta kepada Yesus :”Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia”. Pada masa kini rasanya sedang terjadi krisis kepercayaan yang sungguh memprihatinkan, apalagi dengan maraknya kepemilikan dan penggunaan HP (hand-phone). Dengan memiliki dan menggunakan HP maksudnya dapat dengan mudah berkomukasi dengan anggota keluarga, rekan kerja, sahabat, dst.., namun ada dampak negatif yaitu kurang atau tidak percaya satu sama lain, tandanya adalah sebentar-sebentar menilpon sambil menanyakan keberadaan mereka. Dengan kata lain ada kecurigaan besar. Hal yang senada adalah pemanfaatan CCTV, tujuannya adalah mengawasi secara efisien, tetapi di balik itu adalah adanya ketidak-percayaan. Jika kita dengan sesama dan saudara-saudari kita sulit percaya satu sama lain, maka akan lebih sulit lagi untuk percaya kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: marilah kita tingkatkan dan perdalam kepercayaan antar kita agar kita dengan mudah percaya kepada Tuhan, yang senantiasa menyertai dan mendampingi kita sendiri maupun saudara-saudari kita.

·   “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih“(1Yoh 4:7-8). Menjadi sahabat Tuhan Allah berarti saling mengasihi dan percaya satu sama lain. Marilah ‘saling mengasihi dan percaya’ ini pertama-tama dan terutama kita hayati atau laksanakan di dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing, yang dibangun atas dasar kasih Allah. Jika kita mampu saling mengasihi dan percaya dengan mereka yang setiap hari hidup bersama dengan kita, maka akan dengan mudah kita untuk mengasihi dan percaya kepada orang lain,dan kepada orang lain kita akan bersikap melayani. Sebaliknya jika kita tak mampu saling mengasihi dan percaya dengan mereka yang setiap hari  hidup dengan kita, maka terhadap yang lain pasti akan menindas atau melecehkan. Maka baiklah saya angkat kembali ajaran kasih dari Paulus untuk kita hayati dalam hidup sehari-hari, yaitu “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7). Kami berharap para orangtua atau bapak itu maupun pemimpin komunitas dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup saling mengasihi. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’, sehingga saling bertemu berarti ‘yang terkasih bertemu dengan yang terkasih’, dan dengan demikian secara otomatis akan saling mengasihi.

 

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu

 (Mzm 34:2-6).

Jakarta, 29 Juli 2010

          

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: