29 Apr – Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20

“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya”

(Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20)

 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."(Yoh 13:16-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Katarina dari Siena, perawan dan pujangga Gereja, hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang hamba senantiasa dengan rendah hati berusaha untuk membahagiakan tuannya dalam situasi atau kondisi apapun, serta siap sedia setiap saat untuk melaksanakan perintah tuannya. Sebagai orang beriman kita sering juga disebut sebagai hamba-hamba Tuhan, dengan kata lain dipanggil untuk senantiasa membahagiakan Tuhan serta melaksanakan perintah atau sabdaNya; kita dipanggil untuk senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Santa Katarina yang kita rayakan hari ini adalah ‘perawan dan pujangga Gereja’, yang berarti senantiasa hidup suci dan dengan kesucian-nya ia mewartakan Kabar Baik kepada orang lain dimanapun dan kapanpun. Perawan seperti St.Katarina ini sering juga disebut sebagai ‘mempelai Yesus Kristus’ alias menjadi sahabat Yesus yang mesra, dan karena  Yesus adalah Tuhan maka mau tak mau sebagai mempelaiNya pasti akan dikuasai atau dirajaiNya serta harus menghayati perintah dan ajaranNya. Atribut ‘hamba’ maupun ‘mempelai’ hemat saya mengandung makna sebagai yang diutus atau diperintah. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak kita yang tidak menikah alias hidup wadat dengan menjadi imam, bruder atau suster untuk dapat menjadi teladan dalam penghayatan sebagai ‘hamba’ atau ‘mempelai’, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, meneladan cara hidup dan cara bertindak Tuhan kita Yesus Kristus. Kepada semua umat Kristen atau Katolik kami ajak untuk dengan rendah hati mengusahakan agar hidup dan bertindak sesuai dengan janji baptis, yaitu hanya mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan di dalam hidup sehari-hari.

·   "Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!” (Kis 13:15), demikian kata para pengurus rumah ibadat di Yerusalem kepada Paulus dan kawan-kawannya. Paulus dan kawan-kawan memang kemana mereka pergi atau dimana berada senantiasa berusaha untuk ‘membangun dan menghibur umat’. Mereka adalah rasul-rasul, yang diutus untuk mewartakan Kabar Baik, apa-apa yang baik, membangun dan menghibur umat khususnya maupun warga masyarakat pada umumnya. Sebagai orang beriman yang memiliki dimensi rasuli kita semua dipanggil juga untuk senantiasa berusaha ‘membangun dan menghibur umat’ dengan kata lain saling membangun dan menghibur. Maka baiklah kita buka mata dan hati kita terhadap lingkungan sekitar kita, dimana kita hidup atau bekerja, apakah ada sesuatu yang harus dibangun atau butuh penghiburan. Dalam berbagai berita yang disiarkan melalui aneka jenis media kita dapat membaca, mendengarkan atau melihat bahwa di sana-sana masih sering terjadi tawuran atau bentrokan yang merusak dan menghancurkan serta memperuncing permusuhan. Mungkin juga di dalam keluarga-keluarga kita sendiri juga ada ketegangan antar anggota keluarga: antar suam-isteri, antar orangtua – anak, antar kakak-adik, dst… Marilah di dalam keluarga kita masing-masing kita saling membangun dan menghibur alias memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan sejati. Kami percaya ketika masing-masing dari kita memiliki pengalaman mendalam akan persaudaraan atau persahabatan sejati di dalam keluarga, maka di dalam hidup bersama dimanapun dan kapapun pasti akan memiliki semangat  membangun dan menghibur. Sepak terjang atau kedatangan kita dimanapun dan kapanpun diharapkan ‘membangun dan menghibur sesama atau  saudara-saudari kita’. Marilah kita usahakan kebersamaan kita bagaikan sapu lidi: banyak lidi diikat menjadi satu dan kemudian fungsional sebagai alat pembersih.

 

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit” (Mzm 89:2-3)

            

Jakarta, 29 April 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: