29 Agustus – Mg Biasa XXII : Sir 3:17-18.20.28-29; Ibr 12: 18-19.22-24a; Luk 14:1.7-14

“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Mg Biasa XXII : Sir 3:17-18.20.28-29; Ibr 12: 18-19.22-24a; Luk 14:1.7-14

 

Dalam amplop undangan untuk pesta, seminar atau rapat sering tertulis ‘maaf kalau salah menulis nama’ di bawah nama dan alamat yang dituju, lebih-lebih terkait dengan gelar atau pangkat yang bersangkutan. Memang ada orang yang merasa bangga dan terhormat ketika gelar atau pangkat dengan lengkap tertulis dalam namanya, misalnya ‘Prof’, ‘Dr’, ‘Ir’ MPH, MBA, dst… atau ‘Raden’dst.. Jika yang bersangkutan sungguh menghayati gelar atau pangkat yang tertulis pada namanya mungkin baik-baik saja atau bahkan ada orang yang malu mencantumkan gelar atau pangkat pada namanya, karena merasa dirinya tak layak mengenakan gelar atau pangkat tersebut. Ada pejabat atau petinggi ketika kurang dihormati merasa tersinggung dan marah. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam, maka marilah kita renungkan dan hayati sabda Yesus tersebut.

 

Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14:11)

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7), demikian kesaksian iman Paulus, rasul agung yang rendah hati. Mereka yang kita nilai agung atau besar di dalam Gereja Katolik ini senantiasa menyatakan diri dan berusaha untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati: Para Uskup atau Gembala kita senantiasa menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina, sedangkan Paus/Bapa Suci menyatakan diri sebagai hamba dari para hamba yang hina dina. Maka marilah kita dukung dambaan para gembala kita ini dengan mendoakannya serta berusaha untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam dimanapun dan kapanpun.

 

Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). “Menenggang perasaan orang lain” dan “dapat menahan diri” itulah kiranya yang baik kita hayati dan sebarluaskan dalam hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun, untuk itu kiranya dibutuhkan matiraga yang dijiwai dengan pengorbanan-pengorbanan diri. Hari-hari ini saudara-saudari kita, umat Islam, masih dalam perjalanan berpuasa selama tiga puluh hari, maka baiklah kita bertenggang rasa dengan mereka sekaligus mawas diri perihah keutamaan ‘matiraga’ yang sangat dibutuhkan untuk hidup dan bertindak rendah hati.

 

Secara harafiah ‘matiraga’ berarti mematikan raga atau tubuh, sedangkan yang dimaksudkan adalah mengendalikan gejolak dan nafsu tubuh/raga agar bergerak atau berfungsi sesuai dengan kehendak Allah. Gejolak nafsu yang merayu kita antara lain nafsu akan harta benda/uang, pangkat/kedudukan, kehormatan duniawi dan seksual. Bermatiraga dalam hal-hal itu berarti memfungsikan harta benda atau uang, menghayati pangkat atau kedudukan serta kehormatan dunia maupun hubungan seksual demi keselamatan atau kebahagiaan jiwa kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita. Ketika kita mampu melaksanakan hal itu kiranya kita akan hidup dan bertindak dengan rendah hati, ‘merendahkan diri’ di hadapan orang lain. Kami berharap para pemimpin, atasan, orangtua atau petinggi dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam. Semakin kaya akan harta benda/uang, jabatan atau kedudukan, kehormatan duniawi, tambah usia dan pengalaman, dst.. hendaknya semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan oleh pepatah “Bulir padi semakin berisi semakin menunduk, sedangkan bulir padi yang tak berisi akan menengadah ke atas”.

 

“Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru,” (Ibr 12:22-24a)

 

Kutipan di atas ini mengindikasikan suatu ingatan bahwa ketika kita sedang memasuki atau berada di dalam tempat ibadat (gereja/kapel, masjid, kuil, pura, dst..) pada umumnya bersikap rendah hati, penuh hormat, hening serta merasa damai dan tenteram dalam persaudaraan dengan Tuhan maupun sesama  manusia. Hendaknya pengalaman tersebut tidak dipisahkan dari pengalaman atau cara hidup dan cara bertindak sehari-hari dimanapun dan kapanpun. “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati”, demikian kata Yakobus dalam suratnya. Sikap hidup terhadap Tuhan dan sikap hidup terhadap sesama manusia serta ciptaan lainnya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan.

 

Marilah kita hidup bersama dalam kemeriahan sebagai anak-anak Allah, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sebagai orang-orang ‘yang namanya terdaftar di sorga’.  Harap disadari dan dihayati baru dalam status ‘terdaftar’, belum ‘diakui’, apalagi ‘disamakan’, hidup kita di dunia ini belum atau tidak sama di sorga. Panggilan atau tugas pengutusan kita semua adalah berusaha agar hidup dan  bertindak kita di dunia ini sama seperti di sorga, sebagaimana setiap kali kita doadakan dalam doa Bapa Kami “Jadilah kehendakMu di dunia ini seperti di dalam sorga”.  Cara untuk itu antara lain senantiasa setia pada dan melaksanakan sepenuhnya janji-janji yang pernah kita ikrarkan, misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji atau sumpah pegawai atau jabatan dst…

 

Lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, ya anakku, maka engkau akan lebih disayangi dari pada orang yang ramah-tamah. Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan“(Sir 3:17-18). Kutipan ini kiranya semakin menegaskan dan meneguhkan kita semua untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam. Marilah kita lakukan pekerjaan kita apapun dengan sopan. Sopan berarti menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak melecehkan atau merendahkan yang lain dan membuat orang lain semakin tergerak untuk semakin beriman atau semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Kami harapkan kita senantiasa berpakaian sopan, jauhkan cara berpakaian yang merangsang orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan. Berpakaianlah sedemikian rupa sehingga orang yang melihat anda akan memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan.

 

“Orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita. Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya! Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul

(Mzm 68:4-7)

 

Jakarta, 29 Agustus 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: