28Juni – Kej 19:15-29; Mat 8:23-27

“Mengapa kamu takut?”
(Kej 19:15-29; Mat 8:23-27)

” Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.  Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.  Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”  Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.  Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”(Mat 8:23-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Irenius, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Penakut memang dapat mendua: menutup/mengurung diri atau membuka diri dengan rendah hati. Secara jujur kiranya kita semua memiliki ketakutan-ketakutan tertentu, misalnya takut tidak naik kelas/tingkat, tidak lulus ujian, takut gagal, takut berbuat baik, takut maju, tumbuh dan berkembang alias berubah lebih baik dst. .. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa jika kita merasa takut hendaknya membuka diri dengan rendah hati terhadap aneka bantuan dari orang lain maupun Tuhan. Jika tidak ada orang lain yang siap membantu atau meringankan ketakutan kita, marilah meneladan para murid, yang berseeru “Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Tumbuh berkembang sebagai pribadi beriman, sebagai yang terpanggil sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster memang tak akan terlepas dari aneka masalah, tantangan dan hambatan yang dapat membuat kita takut tumbuh, berkembang dan maju. Jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, ketika merasa takut hendaknya dengan rendah hati segera menghadap Tuhan alias berdoa untuk mohon rahmat dan bantuanNya seraya mengamini bahwa Tuhan yang mengutus, Dia pula yang akan menyelesaikan-nya pula. Bersama dan bersatu dengan Tuhan alias hidup baik, jujur dan berbudi pekerti luhur kita pasti mampu mengatasi ketakutan dan semakin terampil setiap menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun masalah. Maka baiklah sebagai orang beriman atau beragama kita tidak melupakan hidup doa, marilah kita awali hidup kita hari ini serta setiap kali akan melaksanakan tugas atau kewajiban dengan doa singkat, sehingga hidup dan kerja ini bagaikan sedang beribadat, lingkungan hidup dan kerja bagaikan lingkungan ibadat, rekan hidup dan kerja bagaikan rekan beribadat, sarana-prasarana hidup dan kerja bagaikan sarana-prasarana beriadat, dengan kata lain marilah kita  hayati  bahwa Allah ada di dalam segala sesuatu atau segala sesuatu dalam Allah. Marilah kita hayati rahmat kemartiran kita dengan meneladan St.Irenius yang kita kenangkan hari ini.

•    “Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan akan kuterima dengan baik, yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana” (Kej 19:21-22), demikian kata malaikat kepada Lot, yang dengan rendah hati mohon keselamatannya. Dari pengalaman dan pengamatan kita sering tak mampu menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah, karena keterbatasan kita, kemungkinan maupun kesempatan. Maka baiklah dengan rendah hati hendaknya kita rela dan besar hati berani mengakui kelemahan dan kerapuhan kita, maka baiklah ketika kita merasa tak berdaya menghadapi tantangan, hambatan atau masalah untuk sementara menyingkir. Pengalaman ini kiranya tidak hanya terjadi di dalam diri Lot, tetapi juga pernah terjadi dalam Keluarga Kudus Nazaret ketika mereka menerima ancaman dari Herodes yang bengis dan serakah. Dengan kata lain hendaknya kita membuka diri terhadap bantuan `orang asing’, yang belum kita kenal sebelumnya dengan mempercayai mereka bahwa mereka pasti akan membantu kita dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan; kita dipanggil untuk tidak membatasi diri dengan apa yang telah kita kenal dan nikmati saja, melainkan berani membuka diri terhadap kemungkinan atau kesempatan yang belum kit bayangkan. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa Tuhan hidup dan berkarya dimana-mana, tiada batas ruang dan waktu, bangsa dan negara, atau SARA. Hendaknya tidak takut terhadap lingkungan, orang-orang atau tugas pekerjaan baru, yang belum kita kenal dan ketahui sebelumaya. Takut berarti tidak beriman atau  tidak percaya pada Penyelenggaraan Ilahi.

“Ujilah aku ya Tuhan, dan cobalah aku, selidikilah hatiku dan batinku. Sebab mataku tertuju pada kasih setiaMu, dan aku hidup dalam kebenaranMu” (Mzm 26:2-3)
Ign 28 Juni 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: