28 Maret -2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30

“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”.
(2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30)

“Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    “Luar negeri minded” itulah motto kebanyakan orang. Memang dalam kenyataan apa yang diproduki di dalam negeri kalah mutunya jika dibandingkan apa yang diproduksi dari luar negeri. Sebagai contoh adalah pendidikan, dimana mereka yang berduit atau orang-orang kaya lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri daripada di dalam negeri. Demikian juga orang begitu menaruh hormat kepada orang asing, sedangkan kepada saudara-saudari yang setiap hari hidup atau bekerja bersamanya kurang dihormati atau dihargai atau bahkan dilecehkan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua agar kita lebih mengasihi mereka yang dekat dengan kita daripada mengasihi mereka yang jauh dari kita. Jika kita mampu mengasihi mereka yang dekat dengan kita maka kepada orang lain/asing berarti kita menghormati sepenuh hati, bukan sekedar sopan santun atau cari muka saja, bahkan melayani; sebaliknya ketika kita tak dapat mengasihi mereka yang dekat dengan kita, pada umumnya sikap terhadap yang lain sebenarnya menindas atau melecehkan, meskipun nampak di luar penuh hormat. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk lebih mengasihi apa atau mereka yang dekat dengan kita, entah itu manusia, harta benda/aneka macam produksi, dst.. Sebagai contoh adalah pakaian: batik telah diakui oleh dunia sebagai produk asli Indonesia, maka baiklah dalam berbagai kesempatan formal atau resmi sebaiknya pakai batik saja daripada dengan jas dan dasi, yang sebenarnya merupakan kebiasaan mereka yang tinggal di daerah dingin, seperti di Eropa. Marilah kita tingkatkan kwalitas pendidikan di negeri kita, pelayanan karya kesehatan di rumah sakit kita dst… agar saudara-saudari kita kemudian lebih suka belajar atau berobat di dalam negeri daripada di luar negeri.

•    “Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu” (2Raj 5:14-15a), demikian warta gembira perihal Naaman yang melaksanakan perintah nabi. Pengalaman Naaman ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita: marilah kita taati dan laksanakan semua perintah nabi. Nabi adalah utusan Allah, orang yang penuh Roh Kudus, yang senantiasa menyuarakan kehendak dan perintah Allah. Kami percaya sebagai orang beriman kita semua juga memiliki sifat kenabian, antara lain menggeja dalam aneka kehendak baik, maka baiklah kita saling mendengarkan dan menanggapi kehendak baik saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu atau SARA. Kita belajar dari Naaman yang tidak malu melakukan tugas yang sederhana, maka baiklah meskipun kehendak baik saudara-saudari kita hendaknya segera ditanggapi secara positif. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak malu melakukan tugas atau pekerjaan yang sederhana, misalnya menyapu atau mengepel lantai, mencuci pakaian sendiri, mengatur kamar tidur sendiri, dst.. Kami percaya ketika kita terbiasa dan terampil mengerjakan apa yang sederhana tersebut, maka kita memiliki modal atau kekuatan untuk melakukan apa yang sulit dan berbelit-belit. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang sulit dan berbelit-belit sebenarnya belajar dari apa yang sederhana, misalnya pesawat terbang meniru dan belajar dari burung yang terbang, maka pesawat terbang sering disebut burung baja. Kami berharap hendaknya anak-anak di dalam keluarga dibiasakan dan dididik untuk melakukan apa yang sederhana, yang menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua/bapak-ibu.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah” (Mzm 42:2-3)

Jakarta, 28 Maret 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: