28 Mar – Yes 50: 4-7; Flp 2:6-11; Luk 23:1-49

Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.

MINGGU PALMA : Yes 50: 4-7; Flp 2:6-11; Luk 23:1-49

Ketika ada seorang pemimpin atau kepala Negara berkunjung ke tempat tertentu, entah dinegaranya sendiri atau Negara lain, pada umumnya jauh sebelumnya dipersiapkan lebih-lebih dalam hal pengamanan. Kendaraan atau mobil yang digunakan sang pemimpin pada umumnya mewah serta anti peluru. Jalan-jalan yang akan dilalui disterilkan dari berbagai macam gangguan, pada saat sang pemimpin melintas semua kendaraan lain harus menyingkir atau berhenti. Pengawalan pada saat dalam perjalanan pun sangat ketat. Semuanya itu dilakukan demi keselamatan sang pemimpin, yang mungkin sedang dalam ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh orang atau oknum yang tidak suka kepadanya. Pada hari ini kita mengenangkan Yesus, Sang Raja, memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai dan di dalam perjalananNya dielu-elukan oleh rakyat/orang banyak secara spontan. Tidak ada sterilisasi jalan yang akan dilewatiNya, bahkan orang kebanyakan atau rakyat merapat di samping dan dibelakang Yesus, sambil mengelu-elukan Yesus apa adanya. Hari ini kita masuki Pekan Suci, untuk ‘menyertai perjalanan Yesus menuju Kalvari, mempersembahkan diri dengan wafat di kayu salib, dan kemudian pada hari ketiga dibangkitkan dari mati’, maka baiklah kita juga mawas diri ‘sejauh mana kita siap sedia mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan sesama’ demi kebahagiaan dan keselamatan bersama.

 

“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:6-8) 

 

KedatanganNya di dunia ini dijiwai oleh kerendahan hati, Ia “menjadi sama dengan manusia”, dan tugas pengutusanNya juga dimahkotai dengan kerendahan hati, “Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.  Maka baiklah dalam memasuki Pekan Suci ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri dengan mengumpulkan atau mengenangkan aneka pengalaman selama bermatiraga sejak Rabu Abu: sejauh mana kita telah belajar rendah hati dan kemudian tergerak untuk memperdalam, memperkuat dan memperteguh penghayatan kerendahan hati dalam hidup sehari-hari.

 

Dalam perjalanan memahkotai tugas pengutusanNya, Yesus harus menghadapi aneka tantangan yang datang dari aneka kelompok masyarakat, termasuk petinggi wilayah, seperti Pilatus. Orang-orang Yahudi menghadapkan Yesus kepada Pilatus dengan tuduhan bahwa Yesus menghasut rakyat untuk tidak membayar pajak dan menyatakan DiriNya sebagai Raja. Yesus juga dihadapkan pada raja Herodes. Baik Pilatus maupun Herodes merasa tidak menemukan kesalahan apa-apa yang dilakukan oleh Yesus, tetapi orang-orang Yahudi tetap terus dengan gencar menghendaki agar Yesus dihukum mati. Ia menjadi ‘kambing hitam’, harus mati demi keselamatan seluruh bangsa/dunia. Orang baik dan benar di dalam hidup bersama di masyarakat memang dapat menjadi ‘kambing hitam’, mengemban tanggungjawab dan beban sangat besar demi keselamatan atau kebahagiaan umum, siap menderita dan mati bagi sesamanya.

 

Marilah kita meneladan Yesus yang rendah hati sampai mati. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap mereka atau siapapun yang menjadi tokoh atau berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam penghayatan kerendahan hati. Semakin tambah usia/tua, semakin kaya akan berbagai hal, semakin pandai/cerdas, semakin memiliki aneka jabatan dan fungsi dst.. hendaknya juga semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan oleh sebuah pepatah “bulir-bulir padi atau keladi semakin berisi membuat batangnya semakin menunduk”.

 

"Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu” (Luk 23:28)   

 

Jika ada orang akan meninggal dunia, pada umumnya rekan-rekan perempuan lebih terasa penderitaan-nya dan jika yang akan meninggal dunia adalah yang terkasih, maka meledaklah tangisan mereka. Para perempuan atau puteri Yerusalem menangisi Yesus, yang menderita sambil memanggul salib menuju puncak Kalvari untuk disalibkan atau dihukum mati, namun dalam penderitaanNya Yesus berkata kepada mereka :”Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu“. Apa maksud perkataan Yesus ini? Baiklah sabda Yesus ini kita renungkan atau refleksikan bersama dalam rangka memasuki Pekan Suci ini.

 

Tangisilah dirimu dan anak-anakmu”; perintah ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para orangtua atau bapak-ibu. Suatu ajakan untuk melihat diri sendiri maupun anak-anak dengan benar dan jujur serta untuk bersama-sama berjuang dan berkorban demi keselamatan atau kebahagiaan umum/bersama. Pertama-tama marilah kita, seluruh anggota keluarga, bersama-sama merenungkan kisah sengsara Yesus, dan kiranya baik diselenggarakan atau diadakan sharing pengalaman perihal perjuangan dan pengorbanan masing-masing dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan.

 

Marilah kita bersama-sama menghayati iman, sebagaimana dihayati oleh Yesaya ini : “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yes 50:4-6). Kita meneladan Yesus, yang tidak mengeluh, menggerutu atau marah ketika harus memanggul salib ke puncak Kalvari. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa siap sedia untuk ‘dikasihi’. Ingat dikasihi berarti juga dikritik, diberi saran, dituntun, diberi nasihat, diejek, dst..alias direndahkan atau dilecehkan. Hemat saya pada masa kini banyak orang sulit untuk dikasihi, maunya hanya mengasihi saja. Marilah kita sadari dan hayati bahwa ketika kita masih kanak-kanak/bayi, kita sungguh siap sedia untuk dikasihi, dan hendaknya pengalaman tersebut dikenangkan dan diteguhkan kembali dalam perjalanan mengarungi samodera kehidupan masa kini.

 

“Anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku

(Mzm 22:17-20)

 

Jakarta, 28 Maret 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: