28 Juni – Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22

"Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka”

(Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22)

 

“Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”(Mat 8:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mengikuti Tuhan atau beriman memang harus total tanpa syarat atau catatan kaki sedikitpun, tidak ada tawar menawar. “Ikutilah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka”, demikian jawaban Yesus atas orang yang mau mengikuti Dia dengan minta izin dahulu untuk menguburkan ayahnya, yang sebenarnya hanya mau mengundurkan diri saja. Orang mati di sini kiranya juga menggambarkan orang yang tidak hidup bergairah, tidak ingin tumbuh berkembang lebih lanjut, maju terus mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman alias ‘berhenti di tempat’/’mandheg’. Mengikuti Tuhan atau hidup beriman berarti harus siap berubah dan berkembang. Ingatlah dan hayatilah bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan dan perkembangan, maka siapapun yang tak bersedia berubah atau berkembang pasti akan segera mati, terlindas arus perkembangan dan perubahan. Sel-sel anggota tubuh kita sendiri terus tumbuh berkembang dan berubah, maka tidak siap sedia tumbuh dan berubah berarti mengingkari diri sendiri. Memang kita diharapkan tidak asal tumbuh berkembang dan berubah, melainkan tumbuh berkembang dan berubah ke arah persahabatan mesra dengan Tuhan maupun sesama manusia, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Untuk itu kita memang harus berani meninggalkan kehendak dan keinginan diri pribadi dan hanya mau mengikuti kehendak dan perintah Tuhan, yang antara lain dapat kita temukan dalam diri sesama yang berkehendak baik. Maka marilah kita dengarkan dan ikuti kehendak baik saudara-saudari kita, dengan kata lain marilah kita saling membagikan dan menerima kehendak baik  serta kemudian kita sinerjikan untuk tumbuh berkembang dan berubah bersama-sama.

·   “Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia” (Am 2:6-8).  Jujur, tak bercela, adil dan setia itulah keutamaan-keutamaan yang harus kita hayati dan sebarluaskan. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran…adil adalah sikap dan perilaku yang tidak berat sebelah dalam mempertimbangkan keputusan, tidak memihak dan menggunakan standar yang sama bagi semua pihak…setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (lihat: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17, 24, 25). Siapapun yang bersikap dan berperilaku jujur, adil dan setia pasti akan memperoleh pertolongan dari Tuhan melalui orang-orang yang baik di sekitarnya, dan dengan demikian ia pasti tetap jujur, adil dan setia dalam hal apapun, kapanpun dan dimanapun. Kami harapkan anak-anak sedini mungkin dibiasakan atau dididik dalam hal jujur, adil dan setia di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua, serta kemudian ditindak-lanjuti di sekolah-sekolah sebagai bantuan bagi para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Hendaknya ada kerjasama antara orangtua dan sekolah di dalam mendidik dan membina anak-anak, maka baiklah secara periodik sering diselenggarakan pertemuan dan dialog antar para orangtua dan staf kependidikan di sekolah dalam pendampingan dan pendidikan anak-anak. Ingatlah dan hayatilah bahwa anak-anak adalah buah atau korban kerjasama, dan hanya dapat tumbuh berkembang atau berubah ke arah yang baik dalam kerjasama atau kebersamaan juga.

 

“Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”

(Mzm 50:22-23)

Jakarta, 28 Juni 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: