28 Juli – Kel 40:16-21.34-38; Mat 13:47-53

“Mengertikah kamu semuanya itu?"

(Kel 40:16-21.34-38; Mat 13:47-53)

 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti." Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ” (Mat 13:47-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah, yang antara lain berarti Allah yang merajai, memang sulit difahami bagi orang yang kurang atau tidak beriman. Dengan aneka perumpamaan Yesus menyampaikan ajaran-ajaranNya dan menggunakan apa yang hidup dan ada sehari-hari dalam kehidupan kita serta sederhana, seperti garam, tepung, petani, dst.. Mereka yang cara hidup dan cara bertindaknya ‘tidak mendarat’ alias hanya duduk di kursi di kantotnya saja dan tidak berkeliling untuk mengunjungi semua yang menjadi tanggungjawabnya sampai di bawah, pasti tidak mampu memahami aneka perumpamnan yang disampaikan oleh Yesus. Maka dengan ini kami mengharapkan anda semua untuk ‘mendarat’ atau ‘turun ke bawah’, melepaskan aneka kebesaran atau atribut untuk menjadi sama dengan mereka yang paling rendah, seperti para buruh, tukang kebersihan, dst.. Orang-orang kota besar hendaknya sering pergi ke pelosok-pelosok desa atau pegunungan agar tidak asing terhadap realitas lingkungan hidup. Allah meraja melalui semua ciptaanNya: tanaman, binatang dan manusia, maka marilah kita kenali aneka jenis bianatang dan tanaman serta kepribadian manusia yang berbeda satu sama lain. Semakin mengenal dan memahami aneka macam ciptaan Allah akan semakin memahami karya Allah dalam semua ciptaanNya, dan dengan demikian hemat saya juga akan semakin beriman,  karena ia akan menayadari dan menghayati dirinya sebagai yang kecil dan sederhana dibandingkan dengan seluruh ciptaan yang begitu banyaknya. “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya”, demikian sabda Yesus.  Harta yang baru adalah aneka macam penemuan, sedangkan harta yang lama adalah aneka tradisi yang baik; dikeluarkan bersama-sama berarti diintegrasikan. Integrasi antara tradisi dan penemuan baru akan merupakan kebijakan yang fungsional menyelamatkan jiwa manusia.

·   Musa mendirikan Kemah Suci itu, dipasangnyalah alas-alasnya, ditaruhnya papan-papannya, dipasangnya kayu-kayu lintangnya dan didirikannya tiang-tiangnya. Dikembangkannyalah atap kemah yang menudungi Kemah Suci dan diletakkannyalah tudung kemah di atasnya — seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Diambilnyalah loh hukum Allah dan ditaruhnya ke dalam tabut, dikenakannyalah kayu pengusung pada tabut itu dan diletakkannya tutup pendamaian di atas tabut itu. Dibawanyalah tabut itu ke dalam Kemah Suci, digantungkannyalah tabir penudung dan dipasangnya sebagai penudung di depan tabut hukum Allah — seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” (Kel 40:18-21). Loh hukum Allah , yang berisi perintah-perintah Allah, ditempatkan di tempat suci, agar dihormati dan dijunjung tinggi oleh umat Allah, itulah yang dikerjakan Musa sesuai dengan perintah Allah. Saya percaya kita semua juga memiliki kata-kata mutiara, yang kita sadari dan imani sebagai perintah Allah, entah diambil dari Kitab Suci atau kata-kata orang bijak. Baiklah kata-kata mutiara tersebut sungguh kita hormati dan junjung tinggi, artinya sungguh kita fahami dan hayati dalam cara hidup dan cara bertndak kita setiap hari. Pasang saja kata-kata mutiara tersebut di tempat-tempat dimana saya dapat melihat setiap saat, misalnya di meja kerja, di pintu kamar tidur/kamar mandi/WC, di atas kemudi mobil dst.. Setiap kali melihat dan membaca kata-kata mutiara tersebut langsung resapkan dan cecap dalam-dalam agar merasuk ke dalam hati sanubari dan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Di jalan-jalan sering juga lihat lihat kata-kata mutiara yang dipasang, dengan harapan untuk dibaca dan diresapkan, maka baiklah tidak kita sia-siakan kata-kata mutiara tersebut.

“Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau” (Mzm 84:3-6a)

Ign 28 Juli 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply