28 Apr – Kis 12:24-13:5a; Yoh 12:44-50

“Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan”

(Kis 12:24-13:5a; Yoh 12:44-50)

“Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yoh 12:44-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kebanyakan orang Yahudi kiranya tidak percaya bahwa apa yang dikatakan atau diajarkan oleh Yesus adalah perintah Allah: ajaran-ajaranNya menyelamatkan, maka siapapun yang percaya akan sabda atau ajaranNya serta melaksanakannya pasti akan selamat, menikmati hidup kekal di sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Maka marilah kita yang sering mendengarkan sabda Tuhan Yesus, antara lain dalam Ibadat Sabda dan Perayaan Ekaristi, dan kita menanggapi “Tanamkanlah sabdaMu, ya Tuhan dalam hati kami”, kita hayati dan lasksanakan sabda-sabdaNya dalam hidup sehari-hari kita. Setelah kita hayati sabda-sabda Tuhan tersebut alias ‘menjadi milik kita atau menjiwai hidup kita’, marilah kita teruskan atau sebarluaskan kepada sesama atau saudara-saudari kita dalam berbagai kesempatan atau kemungkinan yang ada.  Tentu saja pertama-tama penyebar-luasan tersebut hendaknya melalui cara hidup dan cara bertindak kita yang menarik, mempesona dan memikat, dimana pada suatu saat mereka bertanya-tanya apakah yang membuat cara hidup dan cara bertindak yang demikian itu. Jika mereka mulai bertanya-tanya berarti ada keterbukaan hati, jiwa, akal budi dan tubuh untuk menerima sesuatu atau hal-hal baru, dan dengan demikian dengan mudah kita menceriterakan pengalaman hidup dan cara bertindak kita yang dijiwai oleh sabda Tuhan, maupun mewartakan sabda Tuhan yang menjiwai hidup dan cara bertindak kita. Marilah kita sampaikan sabda Tuhan sebagaimana dilakukan oleh Yesus, antara lain dengan atau melalui aneka peristiwa hidup sehari-hari alias dengan sederhana.

·   “Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi” (Kis 13:4-5). Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan refleksi atau mawas diri kita, lebih-lebih bagi siapapun yang bertugas mewartakan Sabda Tuhan. Secara rutin di dalam aneka macam ibadat senantiasa dibacakan sabda-sabda Tuhan dan kemudian direnungkan oleh pengkotbah atau pemimpin ibadat. Kepada para pengkotbah kami berharap untuk sungguh-sungguh berdasarkan sabda Tuhan alam menyampaikan kotbahnya, maka hendaknya dipersiapkan dengan baik: direnungkan dan dikontemplasikan sebelum dikotbahkan. Kepada kita sebagai umat Allah pada umumnya alias para pendengar pembacaan sabda Tuhan, kami harapkan sungguh mendengarkan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh. Menjadi pendengar yang baik memang tidak mudah,  karena untuk dapat mendengarkan dengan baik butuh keutamaan kerendahan hati, dan rasanya untuk menjadi rendah hati bagi kebanyakan orang sungguh sulit. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur , Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Yang mungkin baik kita latih atau biasakan dalam hidup sehari-hari kita saat ini adalah ‘menenggang perasaan orang lain’, yang antara lain peka terhadap orang lain. Dengan menenggang perasaan orang lain kita akan tahu akan apa-apa yang baik, luhur, mulia dan indah dalam diri orang lain tersebut, yang tidak lain adalah buah-buah atau karya Roh Kudus.  Kita dapat rendah hati dan menenggang perasaan orang lain jika kita memperoleh anugerah Roh alias hidup dikuasai atau disuruh oleh Roh.

 

“Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.” (Mzm 67:2-3.5)

 

Jakarta, 28 April 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: