27 spt

“Apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk
membinasakan mereka?"
(Za 8:20-23; Luk 51-56)

“Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan
pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa
utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa
orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi
orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya
menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes,
melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya
kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan
tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang
lain.” (Luk 9:51-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Beerrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Vinsensius
de Paul, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
•       Setia pada hidup beriman atau beragama tidak akan terlepas dari
aneka tantangan, hambatan atau masalah, entah itu bersifat vocal atau
phisik. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus
mengarahkan pandanganNya serta murid-muridNya ke Yerusalem, yang
berarti harus melewati daerah orang-orang Samaria yang memusuhiNya,
dengan kata lain harus berhadapan dengan orang-orang yang akan
mempersulit atau menghambat perjalananNya. Menuju ke Yerusalem berarti
memenuhi kewajiban, tugas atau perutusan dengan paripurna. Kita semua
kiranya mendambakan pemenuhan penghayatan iman kita atau dambaan,
kerinduan dan cita-cita yang baik. Ada godaan ketika sedang berusaha
mewujudkannya menghadapi orang-orang yang mempersulit atau menghambat
maka kita akan berdoa “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh
api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” . Tantangan,
hambatan atau masalah yang muncul dari kesetiaan dan ketaatan pada
iman, panggilan dan tugas pengutusan merupakan wahana atau jalan
menuju kesempurnaan hidup beriman, terpanggil atau terutus, maka
hendaknya dihadapi dengan rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan.
Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu menghadapi dan
mengatasi aneka tantangan, hambatan dan masalah tersebut.
St.Vinsensius de Paul yang kita kenangkan hari ini kiranya dapat
menjadi teladan dalam menghadapi tantangan, masalah dan hambatan,
terutama dalam pelaksanaan tugas pengutusan untuk memperhatikan dan
melayani mereka yang miskin dan berkekurangan. Entah mereka miskin dan
berkeurangan secara phisik, social, psikis, emosional, intelektual
maupun spiritual, marilah kita perhatikan.
•       “Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi
bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu
akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita
pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami
pun akan pergi!” (Za 8:20-21). “Mencari Tuhan semesta alam”, itulah
kiranya dambaan atau kerinduan semua umat beriman atau beragama yang
baik dan benar. Tuhan hadir dan berkarya terus menerus dalam seluruh
ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan
gambar atau citraNya, dan karyaNya dalam diri manusia antara lain
dapat menjadi nyata dalam kehendak baik. Saya percaya bahwa orang yang
berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat atau
tidak baik, dan yang berkehendak tidak baik hanya sedikit atau
segelintir saja. Maka marilah kita cari Tuhan dalam diri sesama kita
yang berkehendak baik, dengan kata lain marilah kita saling membagikan
kehendak baik kita untuk disinerjikan dalam rangka menghadapi aneka
tantangan, hambatan dan masalah. Marilah kita bergotong-royong, saling
menolong dan mendukung dalam penghayatan iman serta pencarian Tuhan.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, demikian kata sebuah
pepatah. Kita sama-sama beriman dan beragama alias percaya kepada
Tuhan, sama-sama ber-Tuhan, maka marilah kita perdalam dan teguhkan
kebersamaan kita sehingga terjadilah kesatuan hidup yang handal,
mempesona dan menarik. Kita hayati apa yang sama di antara kita
sehingga apa yang berbeda akan fungsional untuk memperdalam dan
memperkembangkan persatuan. Para suami-isteri, laki-laki dan
perempuan, yang berbeda satu sama lain kiranya memiliki pengalaman
bahwa perbedaan tidak menjadi hambatan untuk bersahabat dan bersatu,
maka kami berharap pengalaman tersebut diperdalam dan disebarluaskan
dalam kehidupan bersama, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, beriman dan beragama. Tuhan kita adalah Tuhan semesta alam,
maka selayaknya kita berusaha agar semua yang ada di alam raya ini
bersatu dan bersahabat satu sama lain, terutama manusia, ciptaan
terluhur dan termulia di alam raya ini.
“Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: TUHAN
lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat
kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota
Allah.” (Mzm 87:1-3)

Ign 27 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: