27 Okt – Ef 6:1-9; Luk 13:22-30

"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!”

(Ef 6:1-9; Luk 13:22-30)


“Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.  Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"  Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.  Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.  Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.  Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!  Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.  Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.  Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir." (Luk 13:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   “Berakit-raktt ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, demikian kata sebuah pepatah, yang kiranya erat kaitannya dengan Warta Gembira atau sabda Yesus hari ini. Senada dengan pepatah tersebut juga ada pepatah bahasa Jawa, yaitu “jer basuki mowo beyo’, yang berarti untuk hidup mulia dan damai sejahtera, orang harus berani berjuang dan berkorban. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk dengan sungguh-sungguh mawas diri bercerimin dari sabda Yesus maupun pepatah-pepatah tersebut. Kami berharap kepada para orangtua dan pendidik/guru untuk membiasakan sedini mungkin bagi anak-anaknya perihal pentingnya perjuangan dan pengorbanan dalam hidup sehari-hari. Hendaknya anak-anak jangan dimanjakan, sebagaimana sering terjadi dalam diri anak-anak kota. Secara bertahap dan terus menerus orangtua hendaknya memberi tahu dan melatih anak-anak bahwa segala sesuatu yang dinikmati dan dipakai pada saat ini, entah itu makanan, pakaian atau aneka macam sarana-prasarana lain diperoleh dengan perjuangan, pengorbanan dan kerja keras. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbagi hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Latihlah dan biasakan pada anak-anak dalam hal ‘bekerja keras’ ini.


·   “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Ef 6:1-3), demikian ajakan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua umat beriman. Dalam kutipan surat Paulus hari ini secara lengkap tidak hanya mengingatkan anak-anak, tetapi juga para bapak dan ibu maupun hamba atau pembantu rumah tangga. Maka sebagai bahan refleksi saya angkat ajakan ini: ‘Marilah kita saling mentaati satu sama lain seraya melihat dan mengimani karya Tuhan dalam diri sesama atau saudara-saudari ktia’. Memang penting sedini mungkin anak-anak dibiasakan dan dididik atau dibina untuk mentaati orangtua di dalam Tuhan. Tentu saja para orangtua hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga dapat menjadi cermin karya Tuhan dalam diri para orangtua/bapak-ibu. Untuk itu para bapak-ibu atau orangtua mungkin dapat ‘back to basic’, kenangkan pengalaman ketika masa pacaran, tunangan atau tahun-tahun pertama sebagai suami-isteri. Bukankah pada masa-masa itu masing-masing saling melihat pasangannya di dalam Tuhan? Kami berharap pada saat ini anda sebagai orangtua atau bapak-ibu tetap saling melihat, mentaati pasangannya di dalam Tuhan. Percayalah dan imanilah jika orangtua hidup dan bertindak demikian, maka anak-anak akan meniru atau meneladannya. Secara khusus kami mengingatkan anak-anak sekalian, yang berarti masih ikut orangtua dan belum mandiri, hendaknya sungguh mentaati dan menghormati orangtua, ayah dan ibu di dalam Tuhan. Marilah kita hayati bersama bahwa Tuhan hidup dan berkarya terus menerus di dalam keluarga kita masing-masing.

 

“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk” (Mzm. 145:10-14).

Jakarta, 27 Oktober 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: