Friday, 31 October 2014

27 Nov – Dan 7:2-14; Luk 21:29-33

“Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.”

(Dan 7:2-14; Luk 21:29-33)

 

“Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja.Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”(Luk 21:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kitab Suci ditulis dan mulai digunakan ratusan atau ribuan tahun yang lalu, namun sampai kini masih tetap fungsional dan up to date. Mungkin Kitab Suci terbakar atau hanyut kena air bah/banjir, tetapi isi tetap hidup dalam diri manusia dan mungkin juga diturunkan atau diteruskan pada anak cucu atau keturunannya. “Langit dan bumu akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu”, demikian sabda Yesus. Di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita memang diajak mawas diri: apakah aneka macam nasehat atau ajaran baik yang telah kita terima melalui orangtua, guru/pendidik, saudara atau sahabat, masih hidup serta menjiwai cara hidup dan cara  bertindak kita. Secara organisatoris kita diharapkan mawas diri: apakah spiritualitas/charisma atau visi pendiri organisasi atau paguyuban masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak anggota, apakah para anggota semakin menghayati spiritualitas/charisma atau visi? Sebagai suami-isteri, apakah kita semakin saling mengasihi dan memberikan diri, sebagai pekerja apakah semakin terampil bekerja, sebagai pelajar apakah semakin terampil belajar. Bercermin pada sabda hari ini kami juga mengingatkan pada orangtua: hendaknya mewariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, bukan harta benda atau uang, antara  lain mengutamakan pendidikan anak-anak daripada kepentingan lainnya, mengutamakan ‘human investment daripada material investment’. Demikian juga kepada para penentu kebijakan hidup  bersama, lebih-lebih dalam hal tenaga dan dana, kami harapkan mengalokasikan tenaga dan dana yang memadai untuk pelayanan atau karya pendidikan. Selanjutnya karya pendidikan juga diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi kemerosotan moral separti korupsi, manipulasi alias ‘menyontek'; utamakan pendidikan budi pekerti atau nilai dalam karya pendidikan atau di sekolah-sekolah.

·   Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:14), demikian kutipan kata-kata Daniel dari penglihatannya. Apa yang dilihat oleh Daniel ini baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para orangtua, pendidik./guru atau pemimpin.  Berikan kepada anak-anak, peserta didik atau anggota dan rakyat apa yang tidak mudah hancur atau lenyap, yaitu nilai-nilai kehidupan atau ciri-ciri yang menjadi sifat budi pekerti luhur, yaitu : bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet ” (Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Tentu saja sebagai pemberi (orangtua, pendidik, pemimpin) telah menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut. Anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibinakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu. Bagi kita semua: marilah kita mawas diri, apakah kita juga tumbuh-berkembang dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tesebut di atas.

 

“Biarlah bumi memuji Tuhan, nyanyikan dan meninggikan Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai gunung-gemunung, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala tumbuhan di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segenap mata air dan bukit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai lautan dan sungai, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai raksasa lautan dan segala apa yang bergerak di dalam air, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya” (Dan 3:74-79)

 

Jakarta, 27 November 2009

 

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "27 Nov – Dan 7:2-14; Luk 21:29-33"

Response on "27 Nov – Dan 7:2-14; Luk 21:29-33"