26 Jan

“Tuhan mengutus mereka berdua-dua mendahuliNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNya”

(2Tim 1:1-8; Luk 10:1-9)

Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Timotius dan St.Titus, uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Timoteus dan Titus adalah teman/sahabat dan pembantu Paulus dalam mewartakan Kabar Baik, dan kemudian dua sahabat ini diserahi tugas untuk menggembalakan umat Allah, orang-orang yang telah menerima pewartaan Kabar Baik serta dibaptis, alias mereka menjadi uskup. Hal ini kiranya yang menjadi inspirasi bagi para Gembala Gereja Katolik masa kini untuk menghayati kolegialitas dalam tugas penggembalaan, misalnya di Indonesia para Gembala/uskup tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kolegialitas atau kebersamaan dalam mengemban tugas pengutusan atau menghayati panggilan itulah yang diharapkan juga dihayati oleh siapapun yang berpartisipasi dalam penggembalaan umat Allah: para uskup, para pastor paroki, rektor, ketua stasi, ketua lingkungan dst..  Kolegialitas atau kebersamaan dalam tugas dan pengutusan ini penting sekali, mengingat dan memperhatikan godaan, masalah dan tantangan ada di mana-mana dan cukup besar, maka jika dihadapi bersama-sama kiranya kita akan mampu mengatasi godaan, masalah dan tantangan dalam rangka mewartakan Kabar Baik. Kebersamaan hidup bersama dalam komunitas atau paguyuban umat Allah/ beriman pada dirinya sudah merupakan Kabar Baik atau bersifat missioner. Siapapun yang melihat hidup bersama yang rukun, penuh dengan perdamaian dan persahabatan sejati pasti akan tergerak dan terpesona serta tertarik untuk menggabungkan diri. Kebersamaan atau persaudaraan merupakan salah satu bentuk ‘pre-evangelisasi’ atau jalan masuk yang mulus bagi kedatangan Tuhan, Yang Ilahi. 

·   Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah” (2Tim 1:6-8). Peringatan Paulus kepada Timoteus ini kiranya juga terarah kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk “mengobarkan karunia Allah yang ada pada kamu”. Jika kita berani dan dengan jujur mawas diri kiranya kita akan mengakui dan menghayati bahwa kita telah menerima kasih karunia Allah secara melimpah ruah. Sebagai tanda bahwa kita sungguh mengobarkan kasih karunia Allah adalah ‘membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban’. Cara hidup dan cara bertindak orang yang telah menerima kasih karunia Allah serta mengobarkannya dalam hidup sehari-hari senantiasa membuat orang semakin kuat dalam iman, semakin kuat membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin hidup saling mengasihi satu sama lain serta semakin tertib dalam hidupnya. Tertib dalam cara hidup dan cara bertindak pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak dan kurang tertib dalam cara hidup dan cara bertindaknya serta hanya mengikuti selera pribadi atau seenaknya sendiri tanpa aturan dan tata tertib. Jika semua orang hidup dan bertindak tertib alias menghayati aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusannya, maka hidup bersama akan sungguh menarik, memikat dan mempesona, tidak ada permusuhan, iri hati, tawuran dan kebencian.

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya” (Mzm 96:1-3.7-8a)

Ign 26 Januari 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply