25 Nov – Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9a; Luk 21:20-28

“Bangkitlah dan angkatlah mukamu sebab penyelamatanmu sudah dekat."

(Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9a; Luk 21:20-28)


"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.""Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."(Luk 21:20-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cuaca ekstrim yang tidak menentu akibat pemanasan global dll. telah menimbulkan bencana alam di sana-sini, seperti banjir bandang, angin puting beliung, gempa bumi dst yang memporak-porandakan atau memusnahkan aneka macam jenis bangunan serta menimbulkan korban manusia. Berbagai macam musibah dan bencana alam tersebut membuat banyak orang ‘mengangkat muka’ alias ‘melihat ke atas’, artinya diingatkan kembali akan peran Yang Ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Sabda hari ini hemat saya juga mengajak kita semua untuk mengenangkan, mengimani kembali peran Yang Ilahi atau Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita mawas diri di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini: sejauh mana kita semakin menghayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dengan kata lain kita semakin cerdas secara spiritual atau hidup dan bertindak sesuai dorongan atau bisikan Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Baiklah saya ingatkan juga bagi kita semua: marilah kita sikapi aneka macam bencana  alam atau musibah sebagai peringatan Tuhan akan keserakahan, kesombongan atau ketidak-imanan kita, suatu ajakan bagi kita semua untuk bertobat dan memperbaharui diri.


·   "Demikianlah Babel, kota besar itu, akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi. Dan suara pemain-pemain kecapi dan penyanyi-penyanyi, dan peniup-peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi di dalammu, dan seorang yang ahli dalam sesuatu kesenian tidak akan ditemukan lagi di dalammu, dan suara kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Dan cahaya lampu tidak akan bersinar lagi di dalammu, dan suara mempelai laki-laki dan pengantin perempuan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Karena pedagang-pedagangmu adalah pembesar-pembesar di bumi, oleh ilmu sihirmu semua bangsa disesatkan.” (Why 18:21-23). Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa segala macam bentuk kebesaran duniawi seperti gedung pencakar langit, rumah mewah, mobil mewah, aneka monumen, dst  akan hancur berantakan dalam waktu sesaat. Dengan kata lain kita diingatkan untuk tidak bersikap materialistis dalam hidup kita. Hendaknya keselamatan jiwa manusia mencari pedoman atau barometer keberhasilan cara hidup dan cara bertindak kita atau segala usaha dan jerih payah kita. Secara khusus saya mengingatkan para pengelola maupun pelaksana karya-karya pastoral Gerejani seperti karya sosial, karya kesehatan dan karya pendidikan: jauhilah sikap mental materialistis dalam pelayanan dan usaha anda. Karya sosial membantu manusia semakin manusiawi, sehingga memperoleh kemudahan untuk semakin spiritual alias hidup beriman sungguh-sungguh, karya kesehatan mengutuhkan kembali anggota-anggota tubuh yang terluka, karya pendidikan membantu manusia agar tumbuh berkembang dalam hal kecerdasan spiritual. Dalam ketiga jenis karya pastoral ini  hendaknya tidak dilupakan semangat pendiri, yang mengawali karya sebagai luapan syukur dan terima kasihnya kepada Yang Ilahi. Saya juga mengingatkan secara lebih khusus kepada para pengelola maupun pelaksana karya pendidikan/sekolah agar lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur daripada cerdas intelektual.

 

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mzm 100:2-5)

Jakarta, 25 November 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: