25 Mei – Kis 15:1-6; Yoh 15:1-8

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya”

(Kis 15:1-6; Yoh 15:1-8)

 "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."(Yoh 15:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ranting terpisah dari pokok batang pohon pasti layu dan segera mati tak berdaya lagi, itulah kenyataan yang ada. Yesus bersabda “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya”, suatu ajaran atau ajakan bagi kita yang beriman kepadaNya agar kita tak pernah terpisahkan dari Dia jika kita mendambakan hidup baik, bahagia dan damai sejahtera serta cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan dan membahagiakan terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Maka baiklah sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa hidup dan bekerja bersama denganNya, menghayati sabda-sabdaNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Sebagai tanda bahwa kita senantiasa bersama dan bersatu denganNya antara lain kita senantiasa hidup segar, bergairah, ceria, dinamis, menarik dan memikat bagaikan ranting segar bugar yang tak terpisah dari pokok batangnya. Kegairahan dan keceriaan kita bukan karena kaya akan harta benda, uang atau jabatan, melainkan karena Tuhan sungguh hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini melalui RohNya, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Siapapun yang hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut kiranya tak akan pernah tersingkirkan dalam percaturan hidup dan kerja bersama di masyarakat, melainkan selalu hadir dan fungsional menyelamakan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun. Maka marilah kita saling membantu dalam penghayatan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas.

·   Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.” (Kis 15:4), demikian berita perihal dua rasul yang datang di  Yerusalem dari perjalanan missionernya. Barnabas

·dan Paulus menceriterakan keberhasilan tugas pelayanan atau pewartaannya kepada para rasul dan penatua di Yerusalem. Selain kabar kesuksesan yang menggembirakan tersebut mereka juga membawa pesan dari umat non Yahudi perihal sunat dan tidak sunat. Ada pandangan bahwa menjadi pengikut atau murid Yesus harus bersunat mengikuti tradisi Yahudi, sebagaimana Yesus juga melakukannya. Sunat merupakan tanda atau symbol pengakuan iman untuk bangsa Yahudi. Setiap suku atau bangsa memiliki kebiasaan atau budaya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain namun hemat saya tujuannya sama. Memang perbedaan budaya atau kebiasaan dapat menimbulkan masalah, maka baiklah ketika kita menghadapi masalah budaya atau kebiasaan tersebut hendaknya meneladan jemaat perdana, yaitu menyelenggarakan pertemuan bersama untuk membicarakannya.  Dengan kata lain marilah kita sering bertemu untuk bercakap-cakap bersama agar aneka perbedaan yang sering menimbulkan masalah atau  ketegangan hidup bersama segera teratasi. Hendaknya jangan pelit atau malas untuk saling bertemu atau bercakap-cakap, karena kami percaya dalam setiap pertemuan atau percakapan bersama pasti akan penemuan atau pembaharuan yang menyelamatkan dan membahagiakan.  Kami percaya jika hati, budi, jiwa kita baik maka pertemuan antar kita sungguh membahagiakan dan menyelamatkan karena terjadi pembaharuan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN” (Mzm 122:1-4)

Ign 25 Mei 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.