25 Maret – Hari Raya KABAR SUKACITA: Yes 7:10-14; 8:10; Ibr 10_4-10; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

HR  KABAR  SUKACITA:  Yes 7:10-14; 8:10; Ibr 10_4-10; Luk 1:26-38

 

Atas pengumuman bahwa ia, oleh kuasa Roh Kudus akan melahirkan ‘Putera yang mahatinggi’, tanpa mempunyai suami, Maria menjawab dalam ‘ketaatan iman'(Rm 1:5) dalam kepastian bahwa ‘untuk Allah tidak ada sesuatu pun yang mustahil’: ‘Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu’ (Luk 1:37-38). Dengan memberikan persetujuannya kepada Sabda Allah, Maria menjadi Bunda Yesus. Dengan segenap hati, ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun, dan menyerahkan diri seutuhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Puteranya. Di bawah Dia dan bersama  Dia dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan” (Katekismus Gereja Katolik, no 494). Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah sebagai umat beriman pada pesta “Kabar Sukacita” ini kita mawas diri perihal keimanan kita dengan cermin Bunda Maria.

 

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

 

Ketaatan iman”  itulah kiranya yang pertama-tama baik kita renungkan.  Beriman berarti mempersem-bahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, demikian juga taat juga berarti mempersembahkan diri kepada mereka atau siapapun yang memberi perintah, nasihat atau saran, maka ketaatan iman berarti senantiasa mempersembahkan waktu dan tenaga kepada kehendak atau perintah Tuhan. Agar kita dapat taat kepada kehendak atau perintah Tuhan, hemat saya pertama-tama kita hendaknya taat pada aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita: suatu perintah yang cukup jelas. Maka baiklah kita senantiasa mentaati atau melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

 

Tuhan adalah maha kuasa atau maha segalanya, maka ketika kita berada di hadirat Tuhan mau tak mau pasti harus mentaati kehendak atau perintahNya. Kehendak atau perintah Tuhan antara lain dapat menggejala dalam kehendak baik, harapan, dambaan, seruan, teriakan, permintaan dst..dari saudara-saudari atau dalam aneka kebutuhan dan tuntutan ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya baik dalam binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Maka marilah kita dengarkan dengan rendah hati kehendak baik, harapan, dambaan, seruan, teriakan dan permintaan saudara-saudari kita serta kemudian kita tanggapi sesuai dengan kemungkinan dan kesempatan yang kita miliki, tentu saja juga perlu disertai dengan pengorbanan. Aneka tanaman dan binatang diciptakan oleh Tuhan untuk membantu manusia dalam mengejar tujuan diciptakan yaitu keselamatan jiwa manusia, maka hendaknya aneka tanaman dan binatang kita pelihara atau rawat dengan baik sesuai dengan ciri atau sifat masing-masing. Memang aneka tanaman dan binatang juga menjadi ‘konsumsi’ kita, maka hendaknya tidak dengan serakah mengkomsumsinya agar tidak menimbulkan celaka bagi jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain atau anak-cucu kita di masa depan.

 

Kesanggupan Maria atas panggilan Tuhan untuk menjadi Bunda Penyelamat Dunia, hamil karena Roh Kudus bukan karena hubungan seksual dengan laki-laki, pasangan hidupnya, kiranya sungguh merupakan bentuk pengorbanan yang luar biasa. Anda rekan-rekan perempuan atau gadis dapat membayangkan betapa besar penderitaan atau pengorbanan yang akan dialami ketika mengandung di luar perkawinan atau nikah: aneka cemoohan atau ejekan akan dialami, dengan kata lain akan menanggung malu besar sekali. Dalam dan bersama Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin, dan kita tahu dampak kesanggupan Maria juga tak terlepas dari aneka derita, namun hasilnya luar biasa, yaitu karya penyelamatan dunia seisinya segera menjadi nyata atau terwujud, karena yang dikandung dalam rahimnya dan dilahirkan adalah Penyelamat Dunia. Marilah kita meneladan ketaatan atau kesanggupan Maria, artinya ketika kita menerima tugas berat dan mulia, hendaknya tidak takut dan gentar bahwa akan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin. Hadapi dan sikapi aneka tantangan, masalah atau hambatan yang lahir dari kesetiaan atau ketaatan pada kehendak Tuhan sebagai jalan atau wahana penyelamatan jiwa.

 

"Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibr 10:9-10)     

 

Persembahan tubuh Yesus Kristus terjadi di kayu salib dan setiap kali kita kenangkan atau rayakan di dalam Perayaan Ekaristi, dimana kita juga diberi kesempatan untuk menerima tubuhNya, komuni suci, yang berarti kita disatukan denganNya. Dengan kata lain setiap kali kita menerima komuni kuci kita diingatkan dan diperbaharui persembahan diri kita ketika dibaptis, yaitu hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Dengan pembapisan masing-masing dari kita telah dikuduskan, maka baiklah kita menghayati ini :”Aku datang untuk melakukan kehendakMu”.

 

Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada hendaknya senantiasa melakukan kehendak Tuhan bukan keinginan atau kemauan pribadi. Maka hendaknya kita hidup dan bertindak tidak ‘semau gue’, seenaknya sendiri, mengikuti selera atau minat pribadi. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu agar dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam “datang untuk melakukan kehendak Tuhan’.  Kami percaya bahwa dari anda masing-masing, baik suami maupun isteri atau laki-laki maupun perempuan, saling tertarik dan mendatangi dan kemudian menjadi suami-isteri diimani sebagai kehendak atau rahmat Tuhan. Dengan kata lain suami atau isteri memiliki pengalaman ‘datang untuk melakukan kehendak Tuhan’, maka hendaknya pengalaman di masa pacaran atau tunangan tersebut terus diperdalam dan diperkuat selama menjadi suami-isteri sampai mati.

 

Bunda Maria kedatangan atau keberadaannya telah menjadi perwujudan janji atau kehendak Tuhan, sebagaimana diramalkan oleh nabi Yeremia :”Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”(Yes 7:14), dengan demikian kedatangan atau keberadaannya di dunia sungguh menjadi ‘kabar gembira’. Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, yaitu kedatangan atau kehadiran serta keberadaan kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi ‘kabar gembira’ artinya menggembirakan atau menyelamatkan orang lain, terutama dan pertama-tama keselamatan jiwanya. Jika kita semua dapat menghayati panggilan ini, maka kehidupan bersama kita dimanapun dan kapanpun sungguh menggembirakan, menarik dan mempesona serta kita semua selamat, damai sejahtera baik jiwa maupun raga, phisik maupun spiritual.

 

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.”(Mzm 1:1-4)

 

Jakarta, 25 Maret 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: