25 Jan

“Pergilah ke seluruh dunia beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

(Kis 22:5-16; Mrk 16:15-18)

” Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Mrk 16:15-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pertobatan St.Paulus, rasul agung, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Setiap mengenangkan pertobatan St.Paulus saya senantiasa teringat akan ceritera perihal Sejarah Serikat Yesus, yang saya terima ketika masih di Novisiat Serikat Yesus di Girisonta, Ungaran. Konon Serikat Yesus yang baru berdiri, dimana anggota-anggotanya tersebar dan kurang tinggal bersama maupun doa bersama ditegor oleh pejabat Vatikan/Kepausan:”Bagaimana para Yesuit itu, katanya menyatakan diri sebagai religious atau hidup membiara, lha kok jarang berdoa bersama dan bahkan para anggotanya pergi terus?”. Sekretaris Serikat Yesus pun menjawab:”Ya kami mengikuti jejak St.Paulus, yang berkeliling dunia untuk mewartakan Injil/Kabar Baik”. St.Paulus memang berkeliling dunia dan menghayati sabda Yesus “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahhluk”. Sabda ini tidak hanya bagi Paulus, tetapi juga bagi kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua mengakui bahwa kita setiap hari juga bepergian, artinya keluar dari rumah atau tempat tinggal untuk melaksanakan tugas pengutusan atau kewajiban. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua: hendaknya bepergian ke manapun dan sedang melakukan tugas apapun kita senantiasa juga mewartakan Injil atau Kabar Baik. Dengan kata lain semoga kehadiran dan sepak terjang kita dimana pun senantiasa tersiarkan atau terberitakan apa-apa yang baik dalam diri kita, karena kita senantiasa melakukan apa yang baik, semua tugas dan kewajiban dapat kita lakukan dan selesaikan dengan baik. Jika kita semua melakukan apa yang baik, maka akan terjadilah kesatuan dan persaudaraan sejati di antara kita; doa-doa kita di Pekan Doa bagi Kesatuan Umat Kristen terkabul.

·   Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!” (Kis 22:16), demikian kutipan dari kotbah Paulus. Dibaptis berarti disisihkan atau dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, sehingga mau tak mau harus melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan. Seruan Paulus tersebut terutama diarahkan kepada mereka yang ragu-ragu atau kurang atau  tidak mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan alias kurang atau tidak beriman. Kepada mereka diajak dan dipanggil untuk bertobat, memperbaharui  diri: yang terbiasa melakukan dosa hendaknya segera meninggalkannya, yang kurang disiplin hendaknya segera mendisiplinkan diri, yang tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan hendaknya segera berusaha untuk setia dst… Selanjutnya hendaknya kita senantiasa “berseru kepada nama Tuhan”, artinya mengawali dan mengakhiri aneka tugas dan pekerjaan dengan berdoa. Bagi umat Katolik mungkin hanya diawali dengan membuat tanda salib kiranya sudah cukup, asal kemudian melakukan tugas dan pekerjaan dalam dan dengan terang Yang Tersalib. Jika terpaksa akan marah atau menegor orang lain, hendaknya diawali dengan membuat tanda salib. Di Indonesia ini setiap hari kita dapat mendengarkan suara azan, seruan untuk memuliakan dan memuji Tuhan, dari masjid-masjid. Semoga setiap kali mendengar suara tersebut kita tidak merasa terganggu, melainkan hendaknya menyatukan diri dengan rekan-rekan umat Islam yang sedang mendengarkan suara atau ajakan tersebut seraya menghayati diri berada di hadirat Tuhan. Maka entah di dalam perjalanan karena sedang bepergian atau berada di rumah atau tempat kerja ketika mendengar suara azan dari masjid-masjid tersebut kita bersyukur dan berterima kasih karena diingatkan agar kita senantiasa harus hidup dan bertindak dalam dan bersama Tuhan. Hendaknya suara tersebut sungguh disikapi sebagai ajakan untuk bersama-sama memuliakan dan memuji Tuhan. Semoga di dalam perjalanan ke manapun kita senantiasa dapat mengusir dan mengalahkan setan yang terus merayu dan menggoda kita untuk berbuat dosa.

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” (Mzm 117)

Ign 25 Januari 2012

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...
%d bloggers like this: